Follow Us @soratemplates

Saturday, 8 December 2018

Banyuwangi Local Fruit

Hai, Dears! Kali ini saya akan bercerita sedikit tentang perjalanan saya ke Banyuwangi, sebuah kabupaten di ujung Provinsi Jawa Timur.

Pertama kali mendarat di bandara Blimbingsari rasanya gimana gitu. Kenapa? Belum sampai pijakan kaki terakhir menuruni tangga sudah disambut petugas angkatan udara berseragam apik nan keren. Ah macam pejabat saja, berasa aneh. Wong saya cuma pegawai kecil dan merakyat. Hahaha, apa coba, soalnya kayak di tv-tv, pejabat datang langsung disambut dan diarahkan menuju pintu keluar.

Ada satu hal unik menurut versi saya, bagian atap gedung bandara ditumbuhi rumput, baru pertama liat merasa norak sendiri. Hahaha…

Next, menuju Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi untuk melakukan koordinasi. Aih, disini kenorakan saja makin menjadi. Gimana nggak, kantor dinas kok apik tenan, dari halaman depan kita sudah disambut dengan berbagai rangkaian bunga dan menuju ke dalam terdapat sebuah taman yang cocok banget untuk berswafoto. Patung ayam jago dan dua buah jagung bertengger dengan gagahnya seakan menyuruh kita mengambil kamera dan langsung deh “cekrek”.




Rasanya lapar, kami dibawa ke rumah makan Rawon Bik Ati. Lokasinya tepat dipinggir jalan. Menu rawon lengkap bisa kita temui. Saya pesan rawon biasa isi daging ditambah sambal, kerupuk, dan telur asin. Ah, mantap apalagi disaat lapar mendera. Harga terjangkau dan layak dicoba. Sambil makan sambil diskusi nih sama Bapak Petani.


Badan ini sudah agak payah, perlu diistirahatkan. Menuju hotel Mirah yang berlokasi di Jl. Yos Sudarso Klatak. Suasana begitu asri saat pertama kali menapakkan kaki. Yang perlu digaris bawahi, desain kamar mandi boleh dibilang berbeda dari hotel yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Restoran bergaya Bali, dan yang paling terekam dalam memori sampai sekarang adalah menu ayam rica-rica nya, duh ras pedasnya bikin nganenin.

Malam harinya kami menikmati makan malan di Dulur Isun di Jalan Kepiting. Jejeran food court terlihat bersih dan apik. Menurut cerita, food court ini baru beberapa bulan dibangun. Makan bebek goreng dan menu jeruk hangat. Yummy, I like this taste.

Nah ini intinya, pagi-pagi kami langsung menuju perkebunan buah naga di Jambewangi, Sempu. Kami menemui Kelompok Tani Pucangsari. Nggak menyangka, begitu sampai langsung disuguhi aneka buah kesukaan saya, Buah naga, Durian, dan Manggis. Buahnya baru saja dipetik dari pohonnya. Memang rizki nggak kemana.

Perkebunan buah naga di Kabupaten Banyuwangi seluas 2200 hektar dan sudah memproduksi secara kontinu. Produksi per hektarnya tiap satu musim panen menghasilkan sekitar 35-40 ton buah naga. Luar biasa. 


Kami diajarkan cara memetik buah naga. Metiknya ada tekniknya, loh. Hati-hati jangan sampai durinya melukai tangan cantik ini. 



Selain panen buah naga, saya juga mewawancarai beberapa stekholder terkait untuk mendapatkan informasi dalam rangka mendukung akselerasi ekspor buah naga. 

Wawancara ditengah-tengan teriknya kebun buah naga. Kebayangkan rasanya, sampai baju saya basah kuyup dibuatnya.  

Kami membawa hasil panen ke lokasi rumah kemas. Rumah kemas ini masih manual, dengan menggunakan tenaga manusia. 

Tahapan yang dilakukan saat berada dirumah kemas diantaranya penimbangan, penyortiran, pelabelan, dan pengemasan. Ilmu lagi…


Kegiatan dikebun buah naga, selesai! Kami berpamitan dan mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak Rukiyan, Bapak Sugeng, Bapak Tarmijan, dan Ibu Ari yang telah menerima kami dengan sempurna, pokoknya pelayanan prima deh.


Semoga saat bisa datang kembali, tentunya menikmati kembali durian montong dan durian lokal yang fresh, baru dipetik dari kebun. Duh, masih kebayang sampai sekarang.

Spot berikut adalah rumah kemas modern. Konon, rumah kemas ini dibuat untuk mendukung ekspor buah naga ke Cina. Fasilitas modern tapi memang belum beroperasi karena sedang dalam proses perizinan. 

Kami ditemani Bapak Tarmizan dan Ibu Ari menengok rumah kemas ini. Sebelum sampai, kita makan siang dulu di Resto Daipoeng Mangir. Ah, noraknya datang lagi. Ruang makan dihiasi aksesoris yang kece, girly. Dekorasi ruangan cantik  selera saya banget. Saya pesan menu ayam cobek. Porsi lengkap dan harga nggak merogoh kantung. Mantap ye!

Sampai rumah kemas modern. Bertemu dengan Bapak Agus. Dijelaskan operasional penggunaan alat. Canggih. Semoga dengan fasilitas ini dapat terus mendukung ekspor buah lokal dari Banyuwangi. 



Selanjutnya menuju ekspedisi ekspres di stasiun Karang Asem. Buah naga siap dikirim ke Jakarta. Semoga kamu baik-baik saja sampai Jakarta yah, berharap.

Selain itu, saya juga mengabadikan buah lokal lainnya. Berharap kalau datang kembali bisa menikmatinya lagi. Dihalaman rumah, ada tanaman cabainya juga, loh. Unik bentuknya.




Beberapa point yang perlu saya catat dari perjalanan ini, terutama untuk intropeksi diri saya pribadi…

1. Indonesia kaya akan buah lokal. Rasa nggak kalah bersaing. Tapi kok, orang lebih bangga makan buah impor. Kenapa?

2. Perkebunan buah naga disini sudah bersertifikat organik, loh. Sertifikasi ini penting! Kebun yang telah bersertifikasi organik punya harga jual yang lebih tinggi. 

3. Mereka membentuk asosiasi kelompok tani. Alhamdulillah berkat adanya asosiasi, pemasaran mulai terorganisir, buah naga mereka bisa tembus ke luar negeri. 

4. Berhubungan langsung dengan petani. Kok rasa ngenes yah, mereka bersusah payah menanam buah, nggak kebayang, satu hari di kebun capeknya minta ampun apalagi yang setiap hari dikebun, setelah panen harga jual rendah. Duh miris banget lihatnya. Menurut saya, disinilah peran Pemerintah, memfasilitasi pemasaran. Ketika pemasaran terorganisir dengan baik, kesejahteraan akan naik.

5. Bravo petani Indonesia. Terus mendukung mereka dengan selalu mengkomsumsi buah lokal Indonesia. 

Dukung akselerasi ekspor buah lokal Indonesia. Semoga Indonesia dapat menjadi  negara dengan industri buah nusantara. Ojo lali yah, makan buah lokal karena buah lokal itu istimewa.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk petani Banyuwangi dan Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi. Cinta kalian semua. Salam hormat saya!





#GeberEksporProdukPertanian

No comments:

Post a Comment