Follow Us @soratemplates

Thursday, 11 July 2019

Terlalu Biasa

03:51:00 0 Comments
Terlalu Biasa

By: Salbiah

Lucu
Bingung
Sedih
Entah apa lagi yang meski dipikirkan oleh seorang kayu tentang dirinya

Mungkin karena terlalu biasa
Enggak punya keistimewaan
Biasa saja
Sampai sepertinya terlupakan

Aih, rasanya seperti mau tertawa
Tapi...
Tertawa sambil menangis

Kumaha atuh?
Kok saat bertemu dengan orang disebelah saya 
Rasanya kok kayak ingat segala keistimewaannya
Tapi...
Saat bertemu dengan saya sepertinya biasa saja
Seperti tak ada yang istimewa dari saya
Terlalu tak istimewa
Tak punya satupun yang patut untuk diingat orang
Maklumlah saya hanya sebongkah kayu
Yang hanya dapat dilewati begitu saja
Tak ada kau... dunia masih tetap berjalan
Hahaha...
Kasihan deh kamu

Berpikir
Berpikir
Dan berpikir lagi
Apa yang harus saya lakukan?
Hati ini jadi galau
Mungkinkan saya ditakdirkan hanya sebagai sebongkah kayu?

Ah, berpikir positif
Ya, sebaiknya berpikir positif saja tentang semua hal yang terjadi saat ini

Semoga segala keberkahan dan kesuksesan selalu menyertaimu wahai sebongkah kayu!

Bekasi, 11 Juli 2019
03:47 WIB (Menunggu adzan subuh)

By: Pixabay.com

Saturday, 15 June 2019

Confusion

03:03:00 0 Comments
Confusion

By: Salbiah


Ah, datang lagi
Kenapa sih dia datang lagi
Padahal enggak kepingin dia datang lagi

Duh Tuhan
Beri aku RahmatMu
Beri aku BarokahMu

Apa yang sebenarnya Kamu rencanakan terhadap diriku
Kenapa aku harus kembali berduka karena itu
Semoga hanya hari ini saja dia datang lagi dalam hatiku
Jangan
Jangan pernah datang lagi
Bikin aku sedih

Tuhan
Maafkan segala khilafku
Jangan sampai hati ini kembali sedih karena hal itu
Please...
Aku mohon

Semoga hari esok akan membawa kebahagiaan
Aamin

Bekasi, 15 Juni 2019

By: Pixabay.com

Thursday, 13 June 2019

Damai

04:34:00 0 Comments
Damai

Oleh: Salbiah

Damai...
Damai rasanya 
Lilinku damai bertengger diatas piring putih

Baru kali ini terasa damai
Alhamdulillah...

Kenapa, ya?
Baru sekarang kedamaian ini aku dapatkan
Seandainya sejak dulu
Ah, tak mengapa

Ternyata,
Aku tuh harus fokus
Fokus pada hal disekitarku
Jangan mikir yang aneh-aneh
Apalagi menggapai bintang dilangit
Tak mungkinlah itu

Ya, bertengger gagah diatas piring putih itu sudah lebih dari cukup
Jangan mikir yang ketinggian
Kan usaha sudah!
Tapi takdir berkata lain
Jadi, harus kamu terima dengan ikhlas
Lakukan yang terbaik untuk sekitarmu
Beri penerangan untuk sekitarmu
Justru itu sangat mulia

Berdamai memang susah 
Karena damai itu akan datang dengan sendirinya

Alhamdulillah...

Bekasi, 13 Juni 2018
menunggu adzan subuh

By: Pixabay.com




Sunday, 2 June 2019

Menyambut Lebaran Ala Bunda Adlan

02:11:00 0 Comments
Alhamdulillah lebaran tinggal beberapa hari lagi. Sudah tak sabar rasanya berbagi kemenangan kepada sanak keluarga. Segala persiapan menyambut lebaran sedang dilakukan. Nah, berikut cara menyambut lebaran ala Bunda Adlan:

1. Menyiapkan Busana Lebaran

Baju lebaran enggak bisa dipungkiri merupakan salah satu icon dalam perayaan lebaran. Lebaran tanpa baju lebaran rasanya seperti sayur tanpa garam. Ah, benar enggak sih? *wkwk. Biasanya yang diperuntukkan untuk mendapatkan baju baru lebaran adalah anak-anak.

Biasanya kami membeli baju baru lebaran anak-anak di sebuah toko yang agak jauh dari rumah sehingga diperlukan kendaraan untuk menjangkaunya. Toko tersebut menyediakan berbagai model baju anak yang sangat menggiurkan. Baik model baju anak laki-laki atau perempuan. 

Kami memilih baju muslim untuk anak-anak kami. Anak perempuan meski dibelikan baju dengan lengan panjang atau rok panjang sedangkan anak laki-laki celana panjang dan kaos pendek. Harganya pun terjangkau dan merakyat. 

Baju lebaran untuk kami sebagai orangtua adalah yang calm dan sederhana. Sang suami meski membli baju koko, sarung, kaos lengan pendek dan celana panjang. Sedangkan saya pribadi lebih suka membeli gamis sehingga akan lebih praktis dan enggak rempong apalagi punya anak kecil.

2. Menyiapkan Makanan Lebaran

Menyambut lebaran pasti dengan berbagai makanan khas lebaran. Hampir setiap daerah memiliki makanan khas lebaran walaupun secara umum makanan lebaran di Indonesia mungkin bisa dibilang sama.  Makanan khas lebaran untuk daerah Bekasi diantaranya ketupat, rendang daging, opor ayam, sambal kentang ati ampela, sayur pepaya petai, dodol, manisan kolang-kaling, rengginang, teng-teng, kue kering, dan sebagainya.

Jika hari pertama lebaran di rumah mertua, maka biasanya saya akan memasak segala macam menu lebaran saat masih puasa menjelang lebaran sehingga suami dan anak-anak dapat menikmatinya sambil berbuka puasa. Tapi jika hari pertama lebaran di rumah orangtua saya, maka saya akan memasak segala macam menu lebaran pada h-1 lebaran sehingga bisa dinikmati saat hari raya lebaran.

Kue bawaan seperti  teng-teng biasanya saya beli dari tetangga dekat umah yang memang berjualan kue tersebut. Kue kering kering saya beli di mart sekitar rumah. Sedangkan dodol saya mendapatkannya dari tetangga karena tetangga suka kasih dodol.  Manisan kolang kaling sengaja saya buat sendiri karena rasa manisnya disesuaikan dengan selera saya. Enggak terlalu suka dengan rasa yang manis dan warna yang mencolok.

3. Service Mobil

Ini merupakan hal yang urgent saat lebaran akan tiba. Padatnya jadwal silaturrahim mengharuskan kendaraan harus fit saat digunakan. Oleh sebab itu, service sangat penting. Dealer yang biasa kami datangi untuk service adalah dealer resmi karena akan lebih terjamin dibandingkan yang tak resmi.

4. Merapihkan Rumah

Nenek moyang kami mengatakan "menyambut hari kemenangan harus dilakukan dengan hati yang suci, oleh karena itu rumah yang kita tempati juga harus suci, artinya rumahnya harus clean." Beberes dalam rangka menyambut lebaran adalah suatu keniscayaan.

Kalau rumah didatangi tamu dalam kondisi berantakan meski malu apalagi di hari lebaran, duh, mau taruh di mana face ini *tepok jidat. Oleh sebab itu, beberapa hari menjelang lebaran, kami merapihkan rumah mulai dari kamar sampai dapur.

Hal utama saat menyambut lebaran adalah meluruskan niat. Memahami betul makna lebaran, bersyukur masih diberikan kesempatan menikmati lebaran dengan hati happy. Alhamdulillah.

BPers...

Selamat lebaran!

By: Pixabay.com

Saturday, 1 June 2019

Doa dan Harapanku

04:08:00 0 Comments
Malam ini merupakan salah satu malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tentunya berharap segala yang terbaik. Tak hanya pada malam ini tapi pada malam-malam selanjutnya. 

Harapan merupakan keinginan seseorang agar dapat menjadi kenyataan. Setiap insan di dunia ini mempunyai harapan the best dalam hidupnya. Berharap mempunyai keluarga yang sakinah mawaddah warohmah, mempunyai keturunan yang sholeh dan sholihah, mempunyai usaha yang maju, selalu diberikan kesehatan, dapat traveling ke luar negeri, serta  berharap sukses dalam karir.

Saya pribadi mempunyai sebuah harapan yang sudah lama diusahakan tapi rupanya Allah berkehendak lain dan sampai saat ini, harapan itu hanya tinggal harapan. Entah sampai kapan akan mendapatkannya. Putus asa? Rasa itu terkadang menghinggap di hati kecil ini tapi saat mengingat begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada saya dan percaya jika Allah akan mempunyai rencana lain, rencana yang terbaik dalam hidup saya, maka seketika saya bangkit kembali dan berusaha menapaki lorong-lorong itu kembali. Berharap dapat mencapai ujung lorong dan menemukan cahaya kebahagiaan. 

Selain itu, sebagai seorang manusia, saya juga berharap dapat merenovasi rumah yang nampaknya harus segera direnovasi tapi apa daya rezeki belum menghampiri sehingga saat ini belum terealisasikan sesuai rencana.

Berharap dapat beribadah ke tanah haram dengan suami tercinta. Bahkan jika ada rezeki, dapat mengikutsertakan anak-anak adalah suatu impian yang sangat beautiful. Beribadah bersama my little family ke tanah suci adalah suatu dream yang sangat manis. Semoga dapat terwujudkan.

Berharap dapat memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anak. Base frame adalah aqidah mengenal Allah, selanjutnya menuntut ilmu dunia agar sukses dunia akhirat.

Berharap menjadi istri yang sholihah untuk suami tercinta. Merajut cinta dalam ikatan keluarga sakinah. Melayani suami dengan baik dan memberikan yang terbaik sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. 

Sebagai seorang ibu, saya juga berharap dapat menjadi ibu yang terbaik buat anak-anak. Mengasuh dengan pola pengasuhan islami. Menjadi ibu dan sahabat buat anak-anak. Berharap anak-anak akan selalu mencintai ibunya dan bangga dengan ibunya.

Harapan harus diimbangi dengan usaha. Sudah sejauh mana usaha yang telah dilakukan, jika sudah maksimal maka selanjutnya serahkan kepada Allah Sang Pencipta. Berdoa! Berprasangka baik bahwa Allah pasti akan mengabulkan setiap doa hambaNya. 

BPers...

Berusaha melakukan yang terbaik agar mendapatkan hasil sesuai harapan dan selanjutnya adalah urusan Allah, berdoa, serahkan kepada Sang Pemilik Rezeki! 

By: Pixabay.com

Friday, 31 May 2019

Momen Tak Terlupakan Ramadhan 2019

16:05:00 2 Comments
Ramadhan tahun 2019 akan segera berakhir. Tak menyangka dapat melewatinya dengan lancar. Ada momen happy atau sad yang terkandung didalamnya. Semua itu dapat dilalui dengan baik dan penuh syukur menjalaninya.

Momen terbaik yang tak akan terlupakan pada Ramadhan 2019 ini adalah buka puasa bersama keluarga. Tahun ini ayahnya anak-anak sudah mulai kembali bekerja setelah menyelesaikan study pasca sarjananya di salah satu universitas negeri di Indonesia. Momen buka puasa ini menjadi lebih istimewa saat kami yang sama-sama bekerja berharap pulang kerja tepat waktu sehingga dapat merencanakan mau dimana berbuka puasa hari tersebut. Begitu seterusnya selama satu bulan.

Tak perlu berdebat panjang lebar. Kesepakatan selalu didapat dalam waktu singkat. Hari ini akan berbuka puasa di rumah atau di luar rumah.

Saat akan berbuka puasa di rumah, maka selepas take a bath, kami langsung bergegas menuju lokasi pasar Ramadhan di dekat rumah. Dalam perjalanan menuju ke sana, segala menu yang akan disantap sudah tercatat dengan baik, sehingga saat tepat berada di depan pasar Ramadhan tersebut, kami langsung berjalan menuju makanan yang direncanakan.

Sesampainya di rumah, saya selaku ibu rumah tangga langsung dengan sergap menyiapkan hidangan dengan apiknya, menatanya, dan meletakkannya di atas meja makan. Saat adzan magrib berkumandang, dengan lincah dan sibuknya si kecil tak mau kalah ingin berbuka puasa dan meski harus yang paling pertama dilayani, ah, si kecil memang selalu lucu dan pola tingkahnya selalu membuat gemas. 

Berbeda dengan si kakak. Ketika diperhatikan. Si kakak saat berbuka puasa selalu menghabiskan satu atau dua mangkuk besar minuman. Sepertinya kakak nampak kehausan. Saya yang melihat kakak jadi merasa kenyang dan tersenyum sambil berkata "Kok, style berbuka puasa kakak sama percis dengan stlye berbuka puasa neneknya (ibu saya)."

Saat kami memutuskan berbuka puasa di luar rumah. Maka pikiran kami tertuju pada street food atau aneka menu ayam-ayaman seperti ayam tepung atau ayam bakar. 

Berbuka puasa di luar rumah memang seru dan asyik. Kita bisa mengajarkan pada anak-anak etika saat berada di lingkungan masyarakat. Belajar bersabar mengantri memesan makanan dan minuman, belajar bersabar menanti pesanan dan bersyukur masih dilimpahkan rezeki sehingga kita dapat berbuka puasa.

Tentunya bagi si kecil ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan, apalagi saat lokasi berbuka puasa agak jauh dari rumah. Meski si kecil protes dan enggak mau jauh-jauh dari rumah. Ah, protesnya itu, lho, yang gemasin.

Ketika sudah berada di lokasi tempat berbuka puasa, maka si kecil meski tak bisa diam, aktif dan mencari tahu sekelilingnya, yang akhirnya membuat repot orangtua dan kakaknya. Akan tetapi, keaktifannya diiringi gelak tawa kami semua. Duh, begitulah anak kecil. 

Baik berbuka puasa di dalam atau di luar rumah menjadi experience  yang sangat bernilai sehingga dapat diambil ibroh-nya untuk kehidupan ke depan yang akan lebih baik. Our family is our Jannah




By: Pixabay.com

Hanya Jajanan Itu yang Ditunggu Saat Lebaran

14:06:00 2 Comments
Hari lebaran sudah di pelupuk mata. Berbagai persiapan lebaran semakin mantap. Satu hari sebelum lebaran, as always, para ibu rumah tangga memasak hidangan istimewa untuk merayakan hari lebaran. Mulai dari ketupat, opor ayam, rendang daging, sambal kentang ati ampela, sampai sayur pepaya petai khas Bekasi. 

Hampir di setiap rumah menyuguhkan menu makanan yang hampir mirip wajahnya walaupun belum tentu rasanya, selera nusantara. Sejak sore hari, malam takbiran, meski sudah mulai menyicipi berbagai hidangan lebaran. Uji organoleptik dengan semangat dilakukan para anggota keluarga. Bahkan, bisa ada yang sampai dua kali makan malam karena saking berseleranya memakan hidangan hari lebaran.

Keesokan paginya, setelah sholat Idhul Fitri, menu hari lebaran masih sama. Sarapan dengan berbagai menu khas lebaran. Saat berlebaran ke rumah kerabat, meski dihidangkan menu lebaran yang hampir mirip tapi tak serupa. Alhasil, otak ini mulai terasa jenuh dan malas jika harus menikmati menu lebaran yang sama.

Siang harinya, dimanapun berada. Otak dan perut mulai bereaksi. Mencari jajanan pengganti menu lebaran yang sejak kemarin dinikmati. Bagi saya pribadi, jajanan yang paling ditunggu pada lebaran hari pertama tepatnya pada siang hari adalah bakso.

Wow, mengingatnya saja sudah begitu menggoda kaki ini untuk move berburu bakso di pinggir jalan. Mencari orang yang memiliki hasrat yang sama dan berharap mau dimintai tolong untuk membelikannya adalah hal yang paling menantang *wkwk.

Kenapa. ya, bakso merupakan jajanan yang paling saya tunggu saat lebaran hari pertama. Padahal banyak, lho, jajanan lain yang juga mulai dijajakan pada hari pertama lebaran. Apa karena harum kuah bakso yang selalu menggoda memori untuk mengingat kelezatannya atau memang karena jenuh dengan menu masakan di hari lebaran? Whatever, lah. Pastinya "bakso" adalah juaranya jajanan saat hari lebaran. 

Saat malam hari tiba, biasanya kerabat yang datang juga menawarkan untuk membeli bakso sebagai cemilan di malam hari. Masa menolak tawaran? Rasanya enggak etis, ya. Jadilah, bakso sebagai santapan sepanjang hari saat lebaran.

Sebenarnya hal yang paling bikin kangen dari bakso adalah harum kaldunya. Selain baksonya tentunya. Harum kaldunya menggoda banget untuk dicicipi. Sekali gigit kenyalnya bakso meski dilanjutkan dengan menyeruput  kuahnya. Kalau saya pribadi, enggak terlalu suka dengan bakso urat atau bakso telur karena ukurannya terlalu besar. Saya lebih suka makan bakso kecil ditambah mie kuningnya. Makyus!

Jika di hari lebaran sudah makan bakso maka dijamin kepuasan batin sudah terpenuhi. Enggak akan ngiler lagi lihat abang tukang bakso berseliweran di depan rumah. Sudahkan kamu ngebakso hari ini? Yuk, kita ngebakso.

By: www.liputan6.com


Waktuku Selama Ramadhan

05:16:00 0 Comments
Ramadhan merupakan salah satu bulan yang spesial bagi umat Islam. Selama satu bulan tersebut, kita diwajibkan berpuasa. Banyak aktivitas istimewa yang kerap dilakukan selama bulan ini dan menjadi momen yang istimewa bagi setiap insan di dunia.

Begitu juga dengan saya, waktu yang saya jalani selama bulan Ramadhan terasa istimewa karena hanya pada bulan ini saya merasakan sesuatu yang berbeda, terutama mengatur waktu dalam melakukan aktivitas.

Sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus ibu pekerja.  Saya harus bisa mengatur waktu dengan sebaik mungkin, apalagi saat bulan Ramadhan. Waktu terasa begitu cepat berputar. Siang dan malam begitu menggoda sampai tak bisa dilewati. 

As always, saya memasang alarm tepat pukul 02.00 WIB. Wake up dan segera menyiapkan makan sahur, mulai dari memasak nasi sampai lauk pauk untuk menu sahur. Satu jam kemudian semua masakan telah siap disantap.

Tepat pukul 04.30 WIB, saya melakukan persiapan untuk berangkat ke kantor. Saat pukul 05.00 WIB saya keluar rumah dan menuju kantor.

Bekerja merupakan passion yang sangat saya sukai, mulai jam 08.00 - 15.00 WIB  menghabiskan waktu di saat bulan Ramadhan untuk bekerja di kantor merupakan hal yang sangat luar biasa karena di butuhkan spirit yang tinggi untuk bekerja.

Sebelum memulai bekerja, sholat dhuha rasanya sangat perlu dilakukan. Terasa tenang dan nyaman saat telah melaksanakan sholat tersebut. Diakhiri dengan membaca beberapa ayat dari kita suci Al-Qur'an. Next, bekerja seperti hari-hari sebelumnya, excited dan full energy.

Saat memasuki jam istirahat, semua pegawai melakukan sholat dzuhur berjamaah di masjid kantor, kemudian dilanjutkan dengan kultum oleh pegawai laki-laki yang telah dijadwalkan sebelumnya. Kegiatan ini sangat bermanfaat karena dapat dijadikan sarana share kebaikan dan dapat saling mengingatkan dalam kebajikan. 

Sesampainya di rumah, saya dan keluarga langsung berburu menu berbuka puasa. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Memilih menu yang diinginkan adalah hal yang agak merepotkan karena masing-masing anggota keluarga memiliki selera yang berbeda. Tapi disinilah seninya. Mengkoordinasikan menu berbuka puasa dalam dompet yang menipis *wkwk.

Berbuka puasa kami lakukan dengan happy. Setelah berbuka puasa, saatnya kami sholat magrib dilanjutkan dengan membaca Al-Qur'an. Next, sambil menunggu isya kami biasakan ngobrol apa saja yang dirasakan dan apa yang ingin diungkapkan.

Adzan isya tiba, biasanya saya sholat tarawih di rumah karena jika di masjid akan repot dengan kehadiran si kecil yang very active dan mengganggu jamaah lain. Duh, bisa-bisa momong anak pindah ke masjid itu mah, oleh karena itu, lebih bijak jika sholatnya saya lakukan di rumah.

Begitulah aktivitas saya selama Ramadhan. Semoga Ramadhan kali ini lebih berkah dan membawa kita semua ke Jannah-Nya. Aamiin


By: Pixabay.com

Thursday, 30 May 2019

Tradisi Lebaran di Bekasi Utara

15:20:00 0 Comments
Hal yang paling menjadi momen yang tak akan terlupakan adalah tradisi lebaran yang meski berbeda-beda pada setiap daerah. Tak ayal dengan tradisi lebaran di Bekasi Utara, Kota Bekasi. 

Sebagai seorang yang dilahirkan di Bekasi. Saya akan sedikit menceritakan tradisi lebaran di Kampung Nangka Bekasi Utara. Tradisi ini, sudah turun menurun, sejak nenek moyang kami dahulu hingga saat ini, tradisi ini dimulai sejak pagi hari. 

Hari pertama lebaran...

Tepat pukul 06.30 WIB, masyarakat sudah terlihat lalu lalang, baik yang menggunakan kendaraan maupun yang berjalan kaki menuju masjid jami Annur. Kebanyakan kami berjalan kaki dengan suka cita, bertemu dengan tetangga dan sesama jamaah sholat idhul fitri.

Berhubung kapasitas masjid tidak memadai untuk semua jamaah. Maka biasanya jamaah laki-laki berada di dalam masjid dan jamaah perempaun berada di luar masjid. As alwyas, saya selalu membawa koran sebagai alas sajadah. Posisi saya biasanya berada di jalan raya, menyengaja datang agak siang agar dapat sholat di jalan raya, ada feel gimana gitu, beda rasanya dengan sholat di pelataran masjid.  Saat itu, arus kendaraan di stop sementara sampai sholat selesai dilaksanakan. 

Selepas sholat Idhul Fitri, saya dan keluarga pulang ke rumah dan langsung sungkem dengan suami, meminta maaf atas segala salah dan khilaf tapi enggak pakai adegan nangis sih, hanya cium tangan dan peluk-peluk manjah *wkwkw.

Sebelum tamu banyak berdatangan, kami bersiap untuk makan ketupat lebaran. Ini momen yang paling berharga karena sejak tadi pagi lapar belum sarapan dan hidangan langsung disantap dengan lahapnya.

Tetangga dekat, biasanya berdatangan hilir mudik sebentar saja hanya salaman, enggak sampai ada yang duduk berlama-lama, say "Minal Aidin Wal Faidzin", langsung good bye. Selepas itu, saya dan keluarga bersiap ke rumah orangtua yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah kami.

Sesampainya di rumah orangtua, meski terlihat selalu ramai dikunjungi tamu, maklum orangtua saya kan sesepuh jadi meski ramai yang bertamu. Saya dan suami serta anak-anak bersalaman dengan suka cita. Sesekali nyicipin kue lebaran di rumah orangtua dan yang tak ketinggalan adalah manisan  kolang kaling khas neneknya anak-anak, top markotop

Orangtua kami memiliki 8 orang anak dan 8 orang menantu serta 20 orang cucu. Jadi kalau kumpul dalam satu rumah, nah, lho, apa kabarnya tuh rumah? Saat semua anggota keluarga telah hadir, maka giliran pembagian duit lebaran untuk anak-anak. Masing-masing anak-anak berbaris dengan rapinya dan tak mau ketinggalan para orangtua yang membagikan juga berbaris dengan sangat rapi *wkwk. Ini adalah momen yang paling ditunggu anak-anak karena setelah itu maka akan terlihat anak-anak yang sibuk menghitung uang lebarannya di sudut ruang tamu *haddeuh.

Sekiranya suasana sudah agak damai, maka saatnya orangtua kami membawa serta anak dan cucunya berkeliling ke rumah sanak saudara dari keluarga Bapak. Semangat 45 selalu kami rasakan, berjalan kaki di tengah terik matahari kami lakoni demi bersilaturrahim.

Selesai berkeliling, kami akan berlebaran ke rumah kakak pertama, sambil berleha-leha dan ngobrol ngalor ngidul, as always, kami memesan bakso sebagai hidangan penutup di hari tersebut. Amazing, makyus banget tuh bakso sampai bisa membuat kami tertidur pulas sampai sore hari. 

Malam harinya, kami berlebaran ke rumah tante, adik Bapak. Kendaraan beroda dua siap menjelajahi kegelapan malam yang dinginnya menusuk tulang *lebay. Ngobrol ngalor ngidul  dan diakhiri dengan makan peyek yang selalu bikin kangen.

Hari kedua lebaran...

Pagi hari kami telah bersiap menuju rumah nenek. Kalau anak-anak bilang ke rumah "uyut". Rumah nenek enggak terlalu jauh juga dengan rumah kami, masih di sekitar Bekasi tapi kalau jalan kaki, ya, bisa gempor sehingga dibutuhkan kendaraan untuk sampai kesana. 

Heboh...meski rusuh kalau ke rumah nenek. Nyemil makanan khas orang Kampung Tanah Tinggi, rengginang manis dalam toples kaleng biskuit, ih, bikin kangen. Seperti biasa, baru saja jam 10.00 WIB, makan siang telah siap *wkwk. Coffee break diganti dengan Lunch. Alhamdulillah...

Setelah cipika cipiki, kami berpamitan dan menuju rumah kerabat lainnya. Walau hanya bertemu satu tahun sekali tapi alhamdulillah hubungan persaudaraan tetap terjaga. 

Sampai di rumah pukul 16.30 WIB. Lelah mendera. Selesai merapihkan rumah, langsung tarik selimut dan menyongsong hari esok, rencana bertamansya dengan my little family

By: Pixabay.com

Baju Lebaran, Wajib atau Sunah?

13:24:00 0 Comments
Hai BPers...

Wah, wah, wah... enggak berasa, ya, ternyata lebaran tinggal menghitung hari. Nah, hal yang paling heboh dan meski disiapkan saat menyambut lebaran adalah baju lebaran. Baju lebaran identik dengan baju baru, ya. Benar enggak? Kayaknya kalau enggak menggunakan baju baru berasa enggak lebaran, ya? Ah, benar enggak sih.

BPers...

Sebenarnya merayakan lebaran enggak meski dengan baju baru, yang patut dirayakan adalah kemenangan kita setelah satu bulan berpuasa menahan berbagai godaan, menang dari para kejahatan syaitan yang terkutuk. 

Kemenangan enggak meski dirayakan dengan hal-hal yang serba baru termasuk baju baru untuk lebaran. Baju yang masih terlihat pantas digunakan pun tetap layak digunakan untuk berlebaran. So, tanamkan sedini mungkin dalam hati kamu kalau yang baru adalah hati kita bukan hanya sekedar bajunya saja. Hati kita meski baru setelah melewati bulan suci Ramadhan dan merebut kemenangan dengan success.

And than? Kenapa sih, lebaran meski dikaitkan dengan baju lebaran? BPers, itu sih hanya tradisi para leluhur kita, yang namanya merayakan kemenangan yang digunakan adalah yang terbaik termasuk bajunya, makanya ada istilah "baju lebaran". So, kalau kamu enggak beli baju baru untuk berlebaran maka sah saja, lebaran akan tetap hadir walau tanpa baju baru lebaran.

Pengalaman membuktikan bahwa yang paling sibuk dengan baju baru lebaran saat akan merayakan lebaran adalah golongan anak-anak. Merengek minta dibelikan baju baru lebaran dan selepas dibelikan langsung dipamerkan kepada teman-teman mereka. So, kalau kamu yang dewasa masih sibuk dengan baju baru lebaran maka bisa dipastikan, kamu hanya dewasa usianya saja tapi masih masuk golongan anak-anak  apalagi ditambah dipamerkan juga ke tetangga *wkwkw, tepok jidat dah.

Merayakan hari lebaran dengan baju baru boleh saja, asalkan jangan sampai memaksakan kehendak. Apalagi sampai "berhutang" demi dapat baju baru lebaran, duh enggak banget deh. 

Jadi, baju baru lebaran hukumya wajib bagi golongan anak-anak, bayangkan anak-anak guling-guling di lantai kalau enggak dibelikan baju baru lebaran dan sunah bagi kita orang dewasa. Nah, baju apapun kalau digunakan saat lebaran maka disebut baju lebaran walau enggak baru. 

BPers...

Berikut tips memilih baju lebaran:

1. Pilih model kekinian
2. Pilih model yang sesuai bentuk tubuh
3. Pilih bahan yang nyaman 
4. Pilih warna yang calm
5. Pilih yang terlihat menawan
6. Sesuaikan dengan isi dompet

Mari berlebaran dengan baju terbaik, baru atau lama itu urusan nomor sekian. Jika ada rezeki, bisa beli yang baru, alhamdulillah, jika tidak ada rezeki, maka gunakan yang ada saja, enggak ada masalah. Ingat, lebaran tetap jalan tanpa baju baru lebaranmu.

Selamat berlebaran, BPers!

By: Pixabay.com