Motor yang Malang

Iiik …!

Rem pakem angkot berpelat kuning berhenti di depan mini market Stasiun Bekasi. Sejak dari rumah, aku berniat akan memesan ojek online dari Stasiun Bekasi menuju Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian, my office.

“Makasih, Bang.” Kuserahkan selembar uang bergambarkan Dr. KH. Idham Chalid sambil berlalu.

Pagi ini di Stasiun Bekasi tak terlalu ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor. Buktinya, saat menyebrang jalan, hanya terlihat dua mobil pribadi yang terparkir di parkiran Stasiun Bekasi.

Sesampainya di depan mini market, aku langsung menghampiri penjual kue cubit.

“Pagi, Pak.”

“Pagi, Mbak.”

“Pesan satu bungkus, Pak.”

“Ok, Siap.”

Sebenarnya aku tak terlalu menyukai kue cubit, tapi melihat semangatnya mencari rezeki di pagi buta, jadilah hati tergerak untuk menjadi pembeli pertamanya. Selain itu, senyumnya yang ramah mirip Sahrul Gunawan, membuat aku terkesima, bak melihat artis di pagi hari. Jadi pingin swafoto sama orang terkenal.

Kue cubit sudah duduk manis di dalam tas ransel. Saatnya beraksi. Gawai yang sedari tadi nganggur, sekarang harus bekerja.

Aplikasi ojek online yang selalu kupakai sejak bertahun-tahun yang lalu, kubuka perlahan. Kumasukkan lokasi jemput, tujuan, dan metode pembayaran. Dalam beberapa detik, koneksi tersambung.

“Bisa jemput, Pak?”

“Bisa, Bu.”

“Saya di depan mini market Stasiun Bekasi. Bapak posisi di mana?”

“Saya di Pos Polisi. Mohon ditunggu.”

Ninung … ninung …ninung…

Suara sirene dari Pos Kereta Api berbunyi. Palang perlintasan tertutup otomatis. Jadilah, hatiku otomatis harus bersabar menunggu ojek online. Karena posisinya percis di seberang rel kereta api.

Lima menit berlalu. Kereta api sudah melintas, tapi ojek online yang kupesan tak kunjung datang.

Aku masih bersabar. Kukirim pesan padanya.

“Pak, posisi sudah sampai di mana?”

“Bentar lagi sampai, Bu. Ini lagi isi angin.”

Hah! Isi angin ...

Pada menit ke delapan. Ojek online baru mendarat di depan mataku.

“Bu, Salbiah, ya?”

“Iya.”

Hampir mau loncat, melihat ojek online yang berdiri di depanku. Badannya sangat tambun, tapi motor yang ia bawa sangat ramping,  lebih ramping dari penumpangnya. Hampir saja, suara kuntilanak tertawa cekikikan mau keluar dari mulutku. Sumpah, kasihan banget aku melihat motornya.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan membaca basmallah, akhirnya kunaiki motor tersebut.

Semoga motornya baik-baik saja, aamiin.

“Lewat Kalimalang aja, ya, Pak. Dari situ lurus terus, sampai jembantan Sekolah Tinggi Transportasi Darat, baru belok kanan.”

“Baik, Bu. Mohon arahannya aja.”

Motor tersebut melaju seperti kura-kura yang kakinya habis kejepit pintu. Berkali-kali aku, beristiqfar, berdoa, semoga tak terjadi hal-hal diluar nalar.

Merananya nih motor, maaf, ya, tor!

Bibirku ingin ketawa selebar-lebarnya, menertawakan diriku yang sangat ramping dibonceng oleh sopir yang sangat tambun. Ukuran tubuhnya empat kali ukuran tubuhku. Mungkin kalau bisa digambarkan ibarat gajah membonceng ayam.

Paling kasihan sama motornya. Ukuran motornya tak sesuai dengan yang badan sopir. Lebih pas, jika si sopir membawa motor laki, biar tidak terlalu menderita motornya. Tragis banget, aku kasihan melihat nasib motor tersebut.

Lampu merah Bank BRI sudah terlewati dengan mulus. Saat melewati lampu merah Rumah Sakit Bella. Motor melaju lurus menuju Terminal Bekasi, harusnya kan belok kanan menuju Kalimalang.

“Pak, kok lurus sih?”

“Ya, Bu maaf, ini lagi nyari bensin.”

“Ya Allah, mana ada pom bensin di Terminal Bekasi. Adanya nanti setelah belokan lampu merah yang menuju Kalimalang.”

“Oh, iya, Bu. Maaf, Bu.”

Ban motor membelok ke arah kanan melewati Kantor Pos Pusat Bekasi. Hatiku cukup keki, aneh tukang ojek tidak tahu lokasi pom bensin.

Setelah melewati belokan lampu merah, akhirnya motor berhenti di pom bensin. Aku langsung turun menunggu di depan pengisian gas nitrogen.

Dari kejauahan kulihat si motor, ya Allah ... itu motor atau ikan teri?

“Maaf, Bu, jadi kelamaan menunggu.”

“Iya, enggak apa-apa.”

Padahal hatiku cukup kesal. Harusnya tuh, kalau niat cari rezeki. Sejak kemarin, ia persiapkan motornya, bensinnya diisi penuh. Jadi, saat dapat penumpang, perjalanan dapat dilakukan dengan lancar tanpa hambatan satupun. Namanya pagi hari, orang kerja berburu waktu, jangan sampai telat gara-gara isi bensin. Konyol, kan.

Helm sudah terpasang dengan baik. Kami kembali melaju menyusuri Kalimalang. Sepanjang perjalanan, hatiku deg degan. Gimana tidak, rasanya motor tidak kuat menahan beban Bapak sopirnya. Kali ini benar-benar kasihan dengan motor tersebut. Lajunya benar-benar pelan. Entahlah, jam berapa aku akan sampai kantor.

Peessss …

Ban depan motor seketika kempes tepat di perempatan lampu merah Grand Wisata. Motor agak oleng. Aku panik begitu juga dengan Pak Sopir.

Allahu Akbar …

Allahu Akbar …

Motor segera dibawa ke pinggir jalan, dan di depan kami sudah buka tukang tambal ban.

Melihat kondisi seperti itu, tensi darah langsung naik, seketika raut wajahku memerah.

“Pak, lama enggak nih nambal bannya?”

“Sebentar, Bu.”

“Yakin? Pak seharusnya kalau niat cari rezeki semuanya sudah dipersiapkan. Pagi-pagi pakai acara isi angin, isi bensin, sekarang nambal ban. Saya itu mau kerja, bukan mau piknik. Jam enam sudah harus sampai kantor. Dikejar waktu.”

Wajahku makin memerah, api berkobar dari kepalaku. Jilbabku terasa terbakar.

“Maaf, Bu. Emang bannya suka kempes. Kalau mau dibatalin, enggak apa-apa, Bu.”

“Gampang banget batalin. Ini sudah setengah jalan, Pak”

Sambil menahan emosi, sebenarnya aku ingin tertawa. Iyalah ban motornya suka kempes, beban orang yang menaikinya tidak seimbang dengan ukuran motornya.

Aku menarik nafas. Berusaha berpikir jernih, jangan pernah berpikir dalam kondisi emosi.

Kupikirkan berulang-ulang. Mau tak batalin cari ojek online yang lain atau menunggu tambal ban tersebut. Bingung mulai  melanda. Setelah mikir matang-matang, akhirnya kuputuskan untuk menunggu tambal ban.

Keputusan ini kuambil dengan beberapa alasan, yaitu karena aku tak begitu hafal dengan daerah tersebut, kalau mau pesan ojek online lain, apa coba namanya, dan kondisinya masih sepi. Selain itu, aku tuh orangnya tidak tegaan, apalagi sama orang yang sedang mencari rezeki halal untuk menafkahi keluarganya. Masa sih aku setega itu.

Tanpa basa basi kutunggu tambal ban tersebut. Entahlah berapa lama aku menunggu tambal ban tersebut. Pastinya, setelah itu, kami langsung melaju dengan cepat.

Niat mengejar waktu yang terbuang, Pak Sopir  menancap gasnya. Mau ditancap sekencang apapun namanya motor kejepit badan Pak Sopir, ya jalannnya tetap kayak kura-kura. Sumpah, aku tertawa sekencengnya walau dalam hati.

Pasrah, sudah tahu bakalan telat sampai kantor. Finally, aku sampai di gerbang kantor disambut suara tawa security.

Senang, ye, pagi-pagi sudah dapat hiburan.

Photo by Loifotos from Pexels

Comments

  1. Qiqiqiqi... Aku juga pernah lihat mba, supir ojolnya lebih gemesin dari motornya, hihi...

    ReplyDelete

Post a comment