Doetrun

Assalamualaikum warohmatullah …

Assalamualaikum warohmatullah …

Solat Ashar berjamaah di masjid kantor selesai ditunaikan. Selanjutnya, aku sebagai angkoters bersiap-siap mengemas semua alat tempur kerja sebelum absen pulang. Seorang senior menggoyangkan kursi yang sedang kududuki.

“Sal, udah siap pulang?”

“Udah donk! Datang ke kantor enggak boleh telat Mbak, maka pulang juga enggak boleh telat. Nanti dipotong!”

“Wkwk ..., bisa aja kamu Sal.”

“Ho oh, sesuai aturan!”

Mesin absen sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, para pecinta anak istri/suami sudah mulai berbaris di depan mesin absen. Kami memang tak mau telat sampai di rumah, karena sudah ditunggu anak istri/suami, maka kami harus on time meletakkan lima jari di atas mesin absen.

Tet!

“Terimakasih”

Suara mesin absen selalu terdengar seperti itu saat kami telah berhasil melakukan absensi.

Ah, bisanya ngucapin terimakasih aja. Mau datang lebih pagi atau telat. Meski bilangnya seperti itu. Luar biasa konsistensimu.

***

Aku berjalan sendirian menuju gerbang depan kantor. Tak ada yang istimewa sore ini. Seperti biasa suara burung menemani sepanjang perjalanan. Sesampainya di gerbang kantor, terlihat security yang sedang asyik mengamankan situasi.

“Pulang, Bu? Enggak nginep?”

“Pulanglah, ngapain nginep. Bocah udah pada gerawakan noh di rumah.”

“Bocah atau Bapaknya yang gerawakan, Bu?”

“Au, ah. Mana mobil jemputan saya Pak?”

“Dari tadi kaga lewat-lewat, lagi demo kali.”

“Berisik, ah. Jangan lupa kalau ada mobil saya, tolong diberhentiin, ya. Makasih.”

“Siap, Bu.”

Akhirnya, mobil berpelat kuning berhenti di depan gerbang.

“Bu, sudah ada mobilnya, nih.”

“Makasih, Pak.”

Sedikit berlari kuhampiri mobil berwarna merah itu. Kaki dengan spontan masuk ke dalam dan langsung mengambil posisi di sudut belakang.

Perjalanan dengan menggunakan angkot ini sudah kujalani setiap hari. Hari ini terasa  unik, karena di bagian sudut belakang angkot tersedia kipas angin dengan posisi on.

Ambyar sudah semua kepenatan dalam otakku. Semilir angin yang keluar dari kipas angin seakan meninabobokan.

Tak terasa tiga puluh menit telah berlalu. Mobil berhenti di depan tukang bakso.

“Mbak ... Mbak ... Mbak sudah sampai Kampung Utan.” Colekan dari seorang wanita membangunkanku.

“Ya Allah, makasih, ya, Bu.”

Kuserahkan ongkos kepada Pak Sopir, seraya mengucapkan terimakasih atas pelayanan istimewa. Kipas anginnya berhasil membuat terlelap semua penumpang, termasuk aku.

“Terimakasih, Pak,” ucapku dalam hati.

Kali ini, aku akan melanjutkan perjalanan dari Kampung Utan menuju Stasiun Bekasi. Seperti biasanya, aku menunggu di depan minimarket. Tak sampai menunggu lama, akhirnya aku menemukan sebuah elf muncul dari kejauhan.

Ia semakin mendekat, mendekat, mendekat, dan akhirnya berhenti di depanku. Kubaca dengan seksama tulisan di depan kaca elf tersebut,  “Doetrun".

Oh, namanya adalah Doetrun.

Sambil masuk ke dalam, mulutku bertanya secara spontan.

“Pak, Stasiun Bekasi kan?”

“Iya, Mbak.”

"Oke lah."

Aku mengambil posisi di bagian tengah. Kursinya masih terlihat mulus, belum ada cacat sama sekali. Hanya kudapatkan empat orang penumpang di dalamnya.

Hampir tujuh menit, aku duduk dengan manis. Tak satupun orang yang naik ke dalamnya.

Kapan nih berangkatnya?

“Pak, kapan berangkat?”

“Bentar lagi.”

Mendapat jawaban yang terkesan santai, aku jadi agak keki.

Ini Sopir niat banget nunggu sewa. Pusing pala Barbie nunggunya.

Aku masih bisa bersabar. Mungkin sebentar lagi ada sewa yang masuk. Sampai akhirnya terdengar suara Pak Ogah dari belakang mobil.

“Woiiii … woiii … berangkat, macet nih.”

Rupanya gara-gara mangkalnya yang terlalu lama, akhirnya menimbulkan kemacetan panjang.

Kepalaku menengok ke arah belakang. Ternyata sudah banyak mobil berbaris menunggu antrian.
Dengan berat hati, Si Doetrun berjalan seperti kura-kura. Sampai akhirnya berhenti di depan Metland Tambun.

Dia berhenti lagi. Sabar …

Doetrun masih menunggu penumpang yang tak kunjung datang. Dan ending-nya seperti yang pertama. Teriakan Pak Ogah mendorongnya melaju kembali.

“Pak … Pak … berangkat!”

Tak kulihat jawaban dari Pak Sopir, ia hanya menancap gasnya dengan kencang. Mungkin, ia kesal.
Gas, benar-benar ditancap dengan kencangnya. Sampai akhirnya, rem kembali ditekan di depan Rumah Sakit Karya Medika II.

Iiik …!

Kambuh lagi nih angkot, ngetem mulu.

Seperti sebelumnya, tak ada satupun penumpang yang datang. Pak Sopir hanya menggigit bibirnya.

Sudahlah Pak, belum rezeki. Cari di lokasi lain sambil melaju, pelan juga enggak apa-apa. 

Tanpa instruksi dari Pak Ogah, karena memang tak ada Pak Ogah yang sedang berdinas saat itu. Ia menancap gas kembali. Aku kembali menghela nafas. Semoga remnya enggak ditekannya lagi.

Baru saja berharap, ternyata, Doetrun kembali berhenti di Pasar Tambun.

Gusti … Gusti … dia berhenti lagi, kayakanya aku yampe ke rumah bisa-bisa lebaran tahun depan nih.

Aku masih mencoba bersabar. Mungkin, ia adalah tipikal seorang imam yang bertanggung jawab  terhadap keberlangsungan hidup seluruh anggota keluarganya. Sehingga semangatnya mencari nafkah tak pernah padam. Aku mencoba memakluminya. Berusaha bersabar sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.

Merasa sepi penumpang. Akhirnya, Doetrun kembali menancap gasnya walau setapak demi setapak.  Dari jendela tak satupun kutemukan penumpang yang berdiri di pinggir jalan untuk menaikinya.

Kasihan juga sih sebenarnya, tapi namanya juga rezeki tentunya sudah diatur oleh Sang Pemiliki Rezeki. Jadi, tidak usah ngegas juga, ya.

Sejak dari Pasar Tambun sampai Bulak Kapal. Ia tak menghentikan lajunya. Sampai akhirnya, ia kembali berhenti di depan Superindo.

Kali ini berbeda. Rupanya ada orang yang melambaikan tangannya.

Iiik …!

Seorang wanita separuh baya naik ke angkot tersebut. Aku membantunya naik ke dalam mobil, dan mengarahkannya untuk duduk di bagian belakang.

Dari kejauhan sudah nampak gapura Terminal Bekasi.

Alhamdulillah sudah Terminal Bekasi. Masih setengah perjalanan lagi menuju Stasiun Bekasi.

Iiik …!

Doetrun mengerem dengan pakemnya.

“Terminal Bekasi abis … abis. Bapak Ibu, saya mau muter, yang mau ke Stasiun Bekasi naik elf lain. Abis sampai sini,” teriak Pak Sopir dari depan.

Hah!

Mata kami terbelalak. Semua penumpang kaget, termasuk aku.

“Pak, katanya sampai Stasiun Bekasi? Kok malah sampai Terminal Bekasi?” tanyaku dengan geram.

“Sampai sini aja Mbak,” jawab Pak Sopir tanpa dosa.

Dengan wajah memerah semua penumpang turun. Kekinya sudah tidak ada toleransi lagi. Sejak di Kampung Utan kami sudah mulai bersabar, tapi kesabaran tak dihargai.

Prak!

Prak!

Prak!


Kulemparkan ongkos  di depan kaca depan Doetrun.

“Dosa tuh Pak, janjinya sampai Stasiun Bekasi. Kami sekarang disuruh turun di sini. Stasiun Bekasi kan masih jauh. Enggak akan barokah tuh rezekinya. Ogah naik elf ini lagi, kapoook,” ceramahku membuat wajah Pak Sopir tertunduk.

Kesal banget rasanya. Pengkhianat. Kan kasihan orang-orang yang tidak punya uang lebih, kalau uangnya hanya bisa untuk membayar sampai Stasiun Bekasi, dan ia diturunkan di Terminal Bekasi, terus bagaimana ia bisa melanjutkan perjalanannya.

Tak hanya aku, wanita separuh baya yang tadi baru naik dari Superindo ikut mengoceh tak hentinya. Ocehannya berhenti saat mobil elf berhenti pula di depan kami.

Didalam angkot tersebut, kami mengutarakan kekesalan tersebut. Salah seorang penumpang, berbaju kaos memberikan nasihatnya.

“Oh ... begitu, ya ceritanya. Makanya Bapak Ibu, jangan sampai naik elf Doetrun. Ia pasti muter pas sampai Terminal Bekasi.”

Oh begitu toh … mulai detik ini, aku berjanji, enggak akan naik Doetrun lagi. Tobat deh! 


Photo by Open Clipart from Pixabay

Comments

  1. Waah aku juga pernah sih mirip2 digituin, tapi alhamdulillah gak disuruh bayar. Turun aja terus lanjut angkot lain.

    ReplyDelete

Post a comment