Grand Wisata

Pagi yang sangat mempesona. Sang Surya berwarna orange, cantik sekali. Ia menemaniku menunggu mobil berwarna merah di pinggir jalan.  Tiga menit kemudian, bumper-nya sudah berada di depanku.

“Stasiun Bekasi, Pak?” tanyaku pada ahli isap yang sedang memegang setir.

“Ya, Mbak,” jawabnya sambil mengisap benda berbahan daun tembakau.

Aku menyengaja duduk di sudut belakang angkot tersebut. Kebulan asap yang keluar dari Pak Sopir, seakan mengingatkanku pada mobil pemadam kebakaran di film Upin Ipin.

Apa perlu ku panggilkan Bomba saat terlihat kebulan asap? Pikiran yang konyol!

Iiik …!

Rem pakem angkot berhenti di depan Stasiun Bekasi. Sejak dari rumah, aku berniat akan memesan ojek online dari Stasiun Bekasi menuju kantorku di Setu, Cikarang.

Kukeluarkan gawai yang sejak tadi masih terpulas di dalam ransel. Aplikasi ojek online siap digunakan. Lokasi jemput, tujuan, dan metode pembayaran sudah sesuai dengan keinginan. Dalam beberapa detik langsung tersambung dengan driver.

“Maaf, Pak, bisa jemput?”

“Ya, Bu. Bisa.”

“Posisi saya di depan Stasiun Bekasi. Bapak Posisi di mana?”

“Saya di depan Bank Muamalat. Mohon ditunggu, ya, Bu.”

“Baik.”

Aku setia menunggu ojek online tersebut. Hanya lima menit, ia sudah berdiri di depan wajahku.

“Bu Salbiah, ya?”

“Ya, Pak?”

Segera kuambil helm dan naik ke atas motor. Lumayan lah motornya masih terlihat baru. Bapak sopirnya juga terlihat lincah. Semoga bensin dalam tank masih terisi banyak dan bannya tidak kempes. Semoga perjalanan lancar tanpa hambatan. Berdoa mulai.

“Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian, ya, Pak. Lewat Kalimalang saja, lurus terus sampai jembatan Sekolah Tinggi Transportasi Darat baru belok kanan.”

“Siap, Bu.”

Wah,  Pak Sopir terlihat wibawanya, tegas dan mengerti instruksi. Semoga ini awal yang baik.

Bank BRI Cabang Bekasi sudah terlewati, Terminal Bekasi sudah terlewati, Perempatan lampu merah Bekasi Timur sudah terlewati, posisi kami kini sudah berada di jalan raya Kalimalang.

Motor melaju dengan gesitnya. Walau di setiap perempatan lampu merah kami selalu dihadang, tapi setelah itu, bagaikan pesawat ruang angkasa yang meluncur tanpa hambatan.

Buusss … buusss … buusss

Antara senang dan takut mulai menghinggapi aliran darahku. Senang karena Pak Sopir keren bawa motornya, lincah bin gesit. Takut jika sedang lincahnya, tiba-tiba di depan ada gangguan dadakan. Wah, ngeri-ngeri sedap, nih.

Kalau boleh dikatakan, Pak Sopir, bawa motornya sudah seperti pembalap motor profesional, seperti Alshad Ahmad. Sayangnya, cuma beda kegantengan dan nasib saja. Semoga sama-sama barokah.

Kuperhatikan, si Bapak seperti melihat map di aplikasinya.

Ngapain coba lihat map, orang tinggal lurus aja!

Perjalanan begitu lancar, sampai akhirnya kami dihadang oleh lampu merah Grand Wisata. Setelah lampu berubah jadi hijau, motor belok kanan menuju Grand Wisata. Aku terkaget!

“Pak, kok belok sih, tadi saya sudah bilang lurus aja.”

“Ini di map-nya disuruh belok kanan Bu, mungkin lebih cepat lewat sini. Jalan alternatif.”

“Pak, saya tahu, ujungnya jalan ini. Ini mah makin jauh, muterin kantor saya.”

“Masa sih, Bu?”

Kurang asam! Pertanyaan terakhirnya tak kujawab. Ngeyel juga nih sopir, isi kepalanya batu  batako semua kayaknya. Kubiarkan Pak Sopir mengikuti arahan aplikasinya. Mau kulihat sampai sejauh mana ia mengikuti arahan aplikasi.

Aku tuh, sudah hampir sembilan tahun kerja di daerah ini. Seluk beluk, jalan alternatif sudah nemplok di jidat. Lewat perumahan, sawah, pasar, kebun, sampai kuburan. Sudah hafal mana jalan yang membutuhkan waktu cepat atau malah butuh waktu lama.

Dasar ini sopir keras kepala, awas, ya, kalau sampai aku telat. Tak kepret pakai security.

Kami masih terus melaju, sesuai petunjuk aplikasi. Motor yang aku tunggangi masih berada di sekitar Grand Wisata, belum jauh-jauh dari belokan tadi.

“Bu, kok masih mutar-mutar di sini saja, ya? Jauh juga, ya, Bu, kantornya?”

“Kan sudah saya bilang tadi, jalan ini mutarin kantor saya, jadi wajarlah kalau mutar-mutar. Kantor saya itu enggak terlalu jauh, ini tuh sudah setengah jalan. Bapaklah yang bikin jauh. Tadi kan sudah saya bilang!”

Suaraku semakin lama, semakin terdengar keras. Kutarik nafas dalam-dalam. Tak kulanjutkan dialog kusir, hanya buang energi saja. Kubiarkan Pak Sopir mengikuti arahan map pada aplikasinya. Biar tahu rasa! Pahitnya mutar-mutar kayak komedi putar.

“Eh, Bu, belok gang ini, ya?”

“Emang katanya disuruh lewat mana?”

“Ini, katanya kita suruh belok kanan. Berarti masuk gang. Gang yang mana, ya, Bu? Kebanyakan gang.”

“Astaqfirullah … baru dikasih gang aja udah bingung. Kalau mau lewat gang, bukan gang yang ini, itu yang di belakang, udah kelewat satu gang. Kalau mau enggak lewat gang, tinggal lurus aja, itu juga bisa sampai ke kantor saya.”

“Oh, ya, Bu.”

Mutar-mutar aja terus sampai siang!

Darah dalam tubuhku terasa sudah mendidih. Pak Sopir yang memang bersalah, tak mengelak semua ucapanku.

Si Belalang Tempur yang sepertinya sudah kecapean mutar-mutar di sekitar Grand Wisata, akhirnya memperlambat lajunya saat mulai memasuki gang. Kami melewati rumah penduduk dan gang yang dilalui cukup sempit.

“Oh, rupanya, keluarnya di sini, ya, Bu?

“Ya, mau di mana lagi, emang tujuannya kan kantor saya, keluarnya di gang dekat kantor, hanya aja, tadi tuh kita mutar-mutar dulu ke Eropa.”

“Maaf, ya, Bu, jadi telat.”

“Udah, biasa! Lain kali percaya sama Allah, ya, Pak, jangan sama aplikasi.”

Photo by grandwisatabekasi.com



Comments

  1. Hehe, ujian kesabaran yaa Mbak Salbiah. Btw meski udah bolak-balik komen di blogpost nya mbak, saya br ngeh kl Karantina itu kantornya ya, makanya jadi nama bagian nama blog juga ya

    ReplyDelete
  2. Semakin keren ceritanya Mbak. Selalu menikmati baca pengalamannya seputar naik angkutan umum.

    ReplyDelete
  3. Wkwkwk... Seruuuu ceritanya mba. Tapi pas ngalamin betein banget itu yaa...

    ReplyDelete

Post a comment