Hari Putra

“Kakak, tolong ambilkan payung di atas meja.” Tanganku menunjuk ke sudut ruangan.

Ya Allah, semoga hujan ini segera reda.

Kumasukkan sepatu ke dalam kantong plastik berwarna hitam. Bisa dipastikan, sandal jepit akan menemaniku sepanjang perjalanan menuju kantor.

Guyuran hujan pagi ini begitu lebat. Tubuhku yang ramping, hampir membeku karena dinginnya hembusan angin.

Mungkin, untuk sebagian orang, suasana hujan begini, lebih enak selonjoran di atas ranjang. Tapi buatku, perjuangan menuju kantor, malah baru dimulai di bawah guyuran air yang turun dari langit.

***
“Enggak pakai jas hujan, Neng?” Pak ogah mengampiriku sambil menggosok-gosok hidungnya yang mancung ke dalam.

“Enggak, Pak. Ribet kalau pakai jas hujan,” jawabku sambil mengibas-ibas rok bagian bawah yang sudah basah.

“Neng, dengar-dengar Mozza hari ini enggak narik. Sopirnya pulang kampung. Kalau mau, naik Hari Putra saja, dia gesit juga sama kayak Mozza. Cuma, kalau Hari, mah, agak siangan dikit.  Sabar nunggu aja. ” Pak Ogah lanjut bicara dengan nada sedikit keras untuk mengalahkan suara hujan.

“Oh, gitu, Pak. Makasih infonya,” tandasku.

Sepuluh menit aku menunggu di pinggir trotoar. Masih belum ada tanda-tanda elf datang. Guyuran hujan masih membasahi kota Bekasi, dan seakan tak mau reda, sampai akhirnya aku menemukan elf pujaan pengganti Mozza.

Semoga hujan pagi ini membawa berkah, dan  jalanan lancar jaya.

***
“Iiik …”

Suara rem khas angkot berwarna merah terdengar percis di depan mataku. Seorang ibu yang menggunakan jas hujan turun tergesa-gesa. Ia sedikit berlari dan mendarat di sampingku.

“Misi, Mbak.”

“Oh, ya, Bu.”

“Nunggu Mozza, Mbak?”

“Iya, Bu.”

“Sopir Mozzanya pulang kampung. Tadi saya smsan-an sama sopirnya. Barengan saja sama saya naik Hari Putra.”

“Oh begitu, Bu. Iya, Bu. Terimakasih.”

Pertemuanku pagi ini dengan ibu tersebut, rupanya membawa berkah. Ia justru menawarkan bantuan di waktu yang sangat tepat.

 “Nah, itu tuh Hari Putra. Siap-siap Mbak,” lanjutnya dengan senyum berkembang.

Seperti tak mau tertinggal angkot. Kakiku melangkah membuntuti ibu berjas hujan tersebut.

Semua orang yang berdiri di trotoar telah pindah duduk di kursi empuk milik elf Hari Putra. Seperti biasa, aku menempatkan diri tepat di belakang sopir. Aku memang paling suka kursi ini, kursi strategis, sih. Dan enggak semua orang mau duduk di kursi kebesaran ini. Bahkan ada yang antipati dengan posisi ini. Entahlah!

Semua penumpang telah duduk pada posisinya. Tak satupun dari mereka yang mengeluarkan suara hanya untuk sekedar bertegur sapa. Masing-masing sibuk dengan sandal jepit, sepatu, jas hujan, payung, dan tas yang agak kebasahan akibat hujan yang tak kunjung reda. Akupun sempat bingung. Apa mereka sedang puasa bicara?

Suasana Hari Putra, agak tegang nih, enggak sesantai Mozza.

Penumpang Hari Putra, seperempatnya adalah penumpang Mozza. Tapi, banyak juga yang tak kukenal. Sama seperti Mozza. Mereka, terlihat necis dengan berbagai seragam khas Kawasan Industri Cikarang.

Oh, rupanya penumpangnya juga adalah para pekerja di Kawasan Industri Cikarang. 

Kuamati satu per satu gelagat mereka. Kursi di depanku, diduduki oleh dua orang penumpang. Keduanya berbadan ramping, samalah sepertiku. Mereka berdua terlihat sibuk dengan jas hujan.

Kursi di samping kiriku diisi oleh dua orang wanita berseragam biru telur asin. Penumpang pertama, berambut panjang. Wajahnya manis, kulitnya tampak putih terawat dan terbebas dari sinar ultraviolet. Tak sedikitpun aku temukan  noda hitam di wajahnya.

Penumpang kedua berbadan tambun. Memakai jilbab ala-ala tahun 70-an. Hanya berpeniti pada bagian lehernya, dan tak ada aksesoris sebagai tambahan untuk membuatnya tampak cantik. Sepertinya ia seorang yang sederhana dan bersahaja.

Kursi bagian tengah dan belakang. Diisi oleh penumpang laki-laki yang menggunakan baju bebas rapi. Aku hanya melihat dengan satu kali tengokan saja. Tak berani berlama-lama mengamati mereka. Takutlah, bisa-bisa aku dilemparnya keluar elf, karena seperti memata-matai.

Terakhir, pandanganku tertuju pada sosok sopir yang dijuluki malaikat tak bersayap di pagi hari. Kulihat badannya ramping, kulitnya hitam manis, dan wajahnya menunjukkan kalau ia berasal dari sebelah timur pulau jawa.

Gaya membawa setirnya santai. Jarak antara setir dan kursi sesuai dengan poster tubuhnya. Tak terlihat gagah, tapi cocok untuk seorang bertubuh ramping seperti dia.

Pembawaannya yang santai mungkin dikarenakan sepanjang perjalanan, ia selalu mengobrol dengan para penumpang yang mendampinginya di kursi bagian depan. Sehingga, fokusnya terbagi, antara mulut dan tangan.

“Pak Hari. Saya hari ini, kayak orang kesetanan, gerabak-gerubuk enggak karuan. Hampir saja, saya terlambat hari ini. Gara-gara semalam baru tidur jam tiga pagi. Akhirnya, bangun kesiangan,” ucap penumpang yang duduk percis di samping Pak Sopir.

“Biasalah itu, Mas. Namanya juga manusia. Makanya saya itu, tidur paling lambat jam sembilan malam. Kalau lebih dari itu, alamat telat narik, bisa-bisa disemprot sama penumpang. Pernah kejadian kayak gitu sebulan yang lalu.” Balasnya sambil tertawa lepas.

Mendengarkan percakapan tersebut. Saya jadi tahu kalau nama Bapak tersebut adalah Pak Hari. Pantas saja, nama elf nya “Hari Putra”. Mungkin beliau putranya Pak Hari, atau Pak Harinya, punya anak namanya Putra.

Ampun dah, apa pula analisisku ini, unfaedah banget deh. 

Hari Putra melaju dengan gesitnya. Beruntung, tak ada lampu merah yang menghalangi. Lampunya berubah warna jadi hijau semua di setiap pertigaan.

Hujan telah menghentikan guyurannya saat kami berada di Bulak Kapal. Hanya sandal jepit merek Swallow yang masih terasa basah.

Aku kembali mengamati seluruh isi elf “Hari Putra”. Sama halnya dengan Mozza, kursi dan kaca jendelanya terlihat bersih. Satupun tak kutemukan sampah yang berserakan di lantai.

Para penumpang sangat menikmati udara dingin yang masuk tanpa permisi, melalui pintu dan jendela. Aku yang kelupaan membawa jaket, jadi menggigil dan bibir menjadi pucat.

“Dingin, ya, Mbak, udara pagi ini.” Seorang penumpang berambut ikal membuka percakapan.

“Ya, Bu, saya lupa bawa jaket. Tadi keburu-buru,” jawabku sambil gemetaran menahan dingin.

“Kerja di mana, Mbak,” tanyanya.

“Saya kerja di Kementerian Pertanian di dekat Pasar Setu,” jawabku perlahan.

“Oh, berarti nanti turun di Kampung Utan, ya,” pungkasnya dengan cepat.

“Iya, Bu,” jawabku.

Beruntung perempuan berambut ikal tersebut, mengajakku ngobrol, sehingga udara dingin yang sejak tadi menusuk tulangku, perlahan hilang. Beginilah nasib, bertubuh dengan sedikit daging. Baru diserang udara dingin, langsung merinding.

Obrolan kami begitu asyik. Sampai akhirnya, aku tahu nama beliau adalah Ibu Happy. Sesuai dengan raut wajahnya yang selalu menunjukkan aura “happy” sepanjang perbincangan tadi.

Ketika Hari Putra menikuk dengan tajamnya kemudian berhenti karena mengerem.

Iiik …!

Rem pakemnya terasa sampai ke hati. Kakiku ikut mengerem pula.

“Astagfirullah,’ desahku pelan.

Seorang Bapak berbaju kotak-kotak merah perlahan menaiki Hari Putra sambil menyapa pada Pak Sopir.

“Pagi, Pak. Salam sehat di musim hujan.”

“Pagi, semoga pada sehat dah, walaupun musim hujan,” balas Pak Sopir.

Kunikmati perjalanan bersama Hari Putra. Semoga besok bisa naik elf ini lagi. Tak terasa sudah sampai ditujuan.

“Kampung Utan … Kampung Utan,” teriak Pak Sopir.

Setelah berpamitan dengan teman baruku tadi. Aku turun dari Hari Putra dan melangkahkan kaki ke sebuah mini market.

Banyak ngobrol bikin lapar. Beli roti dulu, ah, mumpung masih ada waktu. 

Brak!

Aku terkaget, karena sandal jepitku terjepit di saluran air depan mini market tersebut.

Baca Juga : Ibu Happy dan Teller Bank

Photo by Aldo Picaso from Pexels





Comments

  1. Paling sebel kalau sandal atau sepatu kejepit di selokan, fuhhh. Udah kaki sakit, malu pulak hehehe

    ReplyDelete
  2. Mbak.. Yang ditulis kejadian baru hari ini atau kemarin ya?
    Keren nulisnya, runut..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kejadinnya entah kapan, saya pun sudah lupa. Tapi, saya tulis seperti baru terjadi.

      Delete
  3. Sama kaya di kampung saya, di kaca depan/belakang eElf biasanya ditulisin nama dan biasanya pakai nama anak-anak si empunye elf hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mbak, saya enggak tahu itu nama siapa, yang pasti nama sopirnya memang Pak Hari.

      Delete
  4. Seru Mbak pengalamannya. Slalu suka baca cerita-ceritanya.

    ReplyDelete

Post a comment