Teller Bank

Pagi ini begitu luar biasa. Semilir angin hampir menerbangkan jilbabku yang sudah tertata rapi sejak dari rumah.

Tak akan kubiarkan kamu mengacak-acak hijabku!

Pagi ini memang terasa berbeda. Saat aku membuka pintu rumah, hembusan angin menyapaku dengan ganasnya. Kulihat langit berbintang-bintang, tandanya tak akan turun hujan.

Kakiku melangkah dengan cepat. Menembus angin pagi yang begitu kuat. Semoga tak akan ada badai hari ini, apalagi badai kehidupan. Jauh-jauh deh!

***

“Iiik …”

Sepertinya, aku kepagian sampai di Pos Polisi. Buktinya, Pak Ogah yang selalu hadir duluan, sekarang kok terlihat absen. Biasanya saat aku turun dari angkot, ia selalu terlihat nongkrong di ujung trotoar samping Pos Polisi. Hari ini nihil, tak kudapati batang hidungnya. Bukannya aku kangen, ya, apalagi rindu. Hanya, jadi terasa berbeda saja, tak seperti biasanya.

Kedua kaki sudah tepat berdiri di atas trotoar. Sepertinya hari ini akan menjadi hari terpanjang dalam penantian. Elfnya belum datang, penumpangnya sudah hadir. Dasar, penumpang yang satu ini, rajinnya kebangetan. Perlu dikasih jempol empat nih.

Sesosok laki-laki, bercelana hitam, berbaju kaos, dengan memakai topi ala Maher Zain, berjalan menghampiriku. Sepertinya, aku kenal. Tak asing lagi. Ia adalah Pak Ogah.

“Wah, mantap nih, Pak. Rapi banget bajunya. Mau kondangan, ya?”

“Ya donk, sekali-kali rapi. Keren, kan, Neng?”

“Enggak tuh. Orang keren mah enggak telat markirin angkot. Itu, angkotnya sudah berbaris kayak kereta api. Harusnya, Bapak sudah ada di sini, sebelum saya.”

“Maklumlah, Neng, ngopi dulu ngopi.”

Percakapan kami terhenti, saat Mbak Ika ikut nimbrung.

“Eh, ada Mbak Ika. Ayo, Mbak, ikut gosip di pagi hari, bersama narasumber kita, Pak Ogah.”

“Malas, ah, Mbak Sal. Lagi puasa ngomong.”

"Puasa ngomong? moso sih?"

Kami bertiga bercakap dengan bahagianya di trotoar. Memang lokasi ini merupakan tempat yang strategis untuk menghibur diri di kala menunggu angkot.

Iiik …!

Tet.. tet… tet!

Suara rem dan klaksonnya membubarkan obrolan kami. Hari Putra ternyata memarkirkan diri di ujung trotoar, sehingga semua penumpang agak sedikit berlari menuju ujung trotoar.

“Ayo, ayo … cepat … cepat. Ada Polisi,” suara Pak Sopir bergema sampai keluar elf.

“Pagi-pagi Pak Bos, sudah berkeliaran. Elf enggak boleh parkir lama-lama. Kalau kelamaan nanti di kandangin,” lanjut Pak Sopir.

Semua penumpang hanya diam, tak ada yang menanggapi kicauan Pak Sopir. Hanya senyum bahagia yang terpancar dari wajah kami, akhirnya pahlawan sampai juga.

Iiik …!

Hari Putra mengerem dengan pakem. Lampu merah terminal Bekasi menghadang lajunya.

“Masih ada kursi, kan, ya,” tanya Pak Sopir kepada semua penumpangnya.

“Masih Pak, tinggal satu lagi nih dekat pintu,” jawab wanita berjilbab hijau dari belakang.

“Nah, kursi itu jangan ada yang dudukin, ya, buat yang punya kendaraan nih di Bulak Kapal,” pinta Pak Sopir sambil tertawa lepas.

Lampu di perempatan telah berubah menjadi hijau. Hari Putra menancap gasnya dengan kencang. Semilir angin kembali masuk melalui jendela.

Masya Allah, ademnya!

Gesitnya Hari Putra memang tak tertandingi. Buktinya, hanya dalam lima menit, kami sudah berada di Bulak Kapal.

“Nungguin bentar, ya. Pemilik elf mau naik,” suara Pak Sopir sambil memegang gawainya.

“Halo, Mbak, sudah di mana? Saya sudah di Bulak Kapal. Ok, ok, ditunggu di Bulak Kapal,” terdengar pembicaraan Pak Sopir dengan orang yang diteleponnya.

 Siapa coba penumpang itu? Manja benar, minta ditungguin. 

“Maaf, ya, Bapak Ibu. Minta waktunya sebentar, mohon bersabar. Nungguin penumpang istimewa, nih,” ucap Pak Sopir kembali.

Kalau aku sih, tidak ada masalah. Selama nunggunya tidak sampai tujuh tahun, ya, tidak apa-apa. Eh maksudnya tujuh menit. Tapi kalau lebih dari tujuh tahun, bisa naik darah nih. Aku kan mau ke kantor, bukan mau naik haji.

Lima menit berlalu. Semua penumpang setia menunggu. Bersabar sesuai arahan.

Tujuh menit berlalu. Semua penumpang, masih setia menunggu. Kembali bersabar, sesuai arahan pimpinan. Tapi, kulihat sudah ada penumpang yang grasak-grusuk, garuk-garuk kepala, padahal kepalanya tidak berambut. Tampaknya, ia mulai frustrasi.

Sembilan menit berlalu. Mulut beberapa penumpang mulai komat kamit, entahlah apa yang mereka ucapkan, karena tak terdengar sampai ke telingaku.

Menuju menit kesebelas. Dua penumpang bersuara sopran dan tenor, mulai berkicau di depan Pak Sopir.

“Pak, mana sih orang yang ditunggu. Lama sekali, enggak datang-datang. Kami nanti kesiangan!”

“Iya nih, Pak. Kalau tahu begini, mending saya naik elf lain. Pak Hari harusnya konsisten donk. Kita kan mau kerja, bukan mau piknik.”

“Sebentar lagi, Bapak Ibu. Mohon maaf, ya. Katanya dia kena macet.”

“Itu mah urusan dia, Pak. Macet atau enggak itu kan kondisi jalan. Gara-gara dia, jangan sampai mengorbankan banyak orang. Harusnya Pak Hari yang tegas!”

Kulihat wajah Pak Hari menjadi pucat pasi. Tidak lucu kan, kalau tiba-tiba ia ditinggalkan semua penumpang, hanya gara-gara satu orang penumpang.

Tepat kemenit duabelas. Langkah suara sepatu high heels seorang wanita berseragam teller sebuah bank milik pemerintah, terdengar mendekati Hari Putra.

Tuk … tak … tik … tuk!

“Maaf, Pak terlambat. Tadi kena macet di pertigaan Universitas Empat Lima.”

Kami yang mendengar permintaan maafnya, tetap keki.

Masa sih, macetnya di Unisma. Itu kan hanya perempatan lampu merah, dan seumur-umur aku baru tahu kalau ada kemacetan di area itu. Jangan … jangan …!

Wanita bersepatu high heels tersebut duduk di singgasana yang telah disediakan untuknya. Wajahnya yang berdempul dua sentimeter terlihat lunglai. Mungkin ia kecapean mengejar teriknya matahari.
Tapi, apakah pantas, kami yang tadinya kepagian malah jadi kesiangan akibat ulah satu orang ini. Kata orang alim, ini mah namanya zalim.

Hatiku yang kesal jadi semakin kesal, karena melihat gelagatnya di atas kursi, kayak ratu dari Inggris. Apakah benar, ia adalah pemilik mobil elf ini. Kok Pak Hari sampai bela-belain nungguin dia bermenit-menit.

Jadi penasaran nih, siapakah sebenarnya sosok wanita itu?

Tak ingin berlama-lama dalam kebingungan. Akhirnya, kuberanikan diri bertanya pada perempuan yang duduk di samping kiriku.

“Bu, maaf mau tanya, memang benar wanita yang baru naik tadi adalah pemilik elf Hari Putra ini.”

“Ah, Mbak percaya aja. Pak Hari mah cuma becanda. Dia itu teller bank di kawasan Lippo Cikarang. Memang sih, dia seperti diistimewakan oleh Pak Hari. Kalau belum datang, ini elf enggak bakal jalan, nungguin sampai datang. Wanita itu, bayar ongkosnya per bulan, jadi tiap awal bulan ia bayar seluruh ongkosnya sampai dengan akhir bulan. Jadi, wajar aja kalau Pak Hari nungguin dia, karena kan sudah bayar ongkosnya di awal bulan. Lagian, orangnya kan cantik, mungkin kecantikannya yang membuat hati Pak Hari meleleh.”

“Ulalaaaa ….”

Setelah mendapatkan penjelasan panjang kali lebar kali tinggi dari perempuan di sampingku. Hatiku tergelitik, kepingin ketawa sekencangnya tapi malu. Khawatir dibawa ke rumah sakit. Akhirnya, kusimpulkan bahwa, apalah kami semua, hanya recehan, dibandingkan teller bank itu. Jauh!

“Kampung Utan … Kampung Utan,” teriak Pak Sopir.

Kuserahkan ongkos padanya. Kali ini, tak ada kata terimakasih. Masa mau ucapkan terimakasih atas keterlambatanku sampai di kantor. Tapi, mengingat jasa-jasa Pak Sopir selama ini, maka tetap kuucapkan terimakasih padanya, walau hanya dalam hati.

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels


Comments

  1. Ya oloh nyebelin banget kalau ketemu kayak begitu yaa. Kita jadi kesiangan gara2 satu orang.

    ReplyDelete
  2. Selalu berkesan ya kalau naik angkutan umum apalagi menunggu orang istimewa heu :)

    ReplyDelete
  3. Wah elf nya gak mau jalan kl si mbak tellernya belum naik ya Mbak, hehe.. penumpang istimewa itu mah

    ReplyDelete
  4. Waah ada2 aja iih ceritanya. Namanya jg penumpang istimewa, wkwkwk...

    ReplyDelete

Post a comment