Inilah Pertanian Cerdas Masa Kini untuk Indonesia!

Matthias Bockel from Pixabay

Indonesia sejak dulu dikenal sebagai negara agraris. Tentu saja julukan tersebut sangat layak, karena sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian dan lahan pertanian terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Kini, julukan tersebut tak terdengar selantang dulu atau lambat laun akan hilang bersama dengan berkurangnya orang yang ingin bekerja sebagai petani dan semakin menyempitnya lahan pertanian di Indonesia.

Dampaknya bisa dibayangkan, importasi komoditas pertanian dari waktu ke waktu semakin meningkat. Tidak! kondisi tersebut tidak boleh terjadi. Jika kondisi tersebut terus-menerus dibiarkan, maka target Indonesia menjadi lumbung pangan dunia tahun 2045 akan gagal total.

Lalu, apakah kita hanya berdiam diri? Cita-cita menjadi lumbung pangan dunia harus tetap diupayakan. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya, pertanian cerdas salah satu solusinya.

Apa itu pertanian cerdas? Pertanian yang menggunakan teknologi (internet of things) disebut pertanian cerdas. Sistem pertanian ini dapat diterapkan pada mekanisasi pertanian dan lahan sempit. Sehingga semua proses bertani, mulai dari budidaya sampai pemasaran, dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.

Bagaimana penerapan pertanian cerdas pada mekanisasi pertanian dan lahan sempit? Mari kita kupas tuntas.

Mekanisasi pertanian. Salah satu alasan pemerintah mendorong mekanisasi pertanian dikarenakan minimnya tenaga kerja petani. Profesi petani tidak dapat menopang kesejahteraan, sehingga banyak yang alih profesi. Tak bisa dipungkiri pula, generasi milenial pun banyak yang enggan terjun ke bidang pertanian karena takut lumpur.

Solusinya, pemerintah mengganti tenaga manusia dengan mesin. Berdasarkan data dari Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, setiap tahun selalu dialokasikan anggaran pengadaan alat mesin pertanian. Tahun 2019 sebanyak 46.840 unit disalurkan kepada petani.

Diharapkan, lahan pertanian seluas satu hektar yang biasanya dikerjakan oleh puluhan orang, maka kini cukup dikerjakan dengan beberapa orang.

Alat mesin pertanian yang dihasilkan sudah pasti seiring sejalan dengan kemajuan teknologi. Pemanfaatan internet of things sangat membantu alat mesin pertanian dapat terkoneksi secara digital.

Negara adidaya, Amerika Serikat. Sistem pertaniannya telah menggunakan mesin pertanian berbasis teknologi, melalui Kementerian Pertaniannya, penelitian terus dikembangkan.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia pun dapat menerapkan teknologi pada alat mesin pertanian, kita telah memiliki hasil karya anak bangsa yang patut diapresiasi.

Nah, berikut beberapa hasil pertanian cerdas yang dapat digunakan saat ini.

Satu: Autonomous tractor. Traktor dengan sistem kemudi otomatis dalam pengelolaan tanah.  Pengolahannya sesuai dengan peta perencanaan dengan akurasi 5-25 cm. Sistem navigasi menggunakan GPS berbasis Real Time Kinematika.

Dua: Drone Deteksi Unsur Hara. Mendeteksi unsur hara nitrogen menggunakan metode remote sensing dan transformasi bagan warna daun padi. Drone mengambil data peta kandungan unsur hara tanah.

Tiga: Soil and weather sensor. Digunakan untuk membantu mengetahui kondisi tanaman. Alat ini dipasang di lahan pertanian. Sensor ini menghasilkan data berupa suhu, kelembapan udara dan tanah, kadar air, pH tanah sampai estimasi masa panen.

Alat mesin pertanian di atas merupakan hasil riset Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian dan RiTx, unit bisnis PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa. Selain alat di atas, masih banyak alat mesin pertanian yang telah dirilis.

Penulis yakin, hasil riset tersebut tidak kalah bagus dengan buatan luar negeri. Akan tetapi, sejatinya sebuah alat akan bermanfaat jika telah digunakan. Berdasarkan komunikasi pribadi dengan petani,  banyak kelompok tani yang belum mendapatkan alokasi alat mesin pertanian. Alangkah baiknya, alat  tersebut diproduksi massal untuk dapat digunakan pada semua areal pertanian di Indonesia.

Penggunaan lahan sempit. Tak dapat dipungkiri, kini lahan pertanian banyak yang telah beralih fungsi karena pembangunan infrastruktur. Ini fakta, sawah yang terbentang luas di dekat rumah penulis di Bekasi, kini telah berubah menjadi perumahan dan pusat perbelanjaan. Miris melihatnya, tapi itu kenyataannya.

Lalu dengan lahan pertanian yang masih ada dan lahan pertanian yang telah beralih fungsi  tersebut, kita tetap bisa melakukan aktivitas bertani. Percaya tidak? Nah, berikut penulis akan jelaskan beberapa sistem pertanian atau metode bercocok tanam yang dapat dilakukan di lahan sempit.

Satu: Hidroponik. Budidaya tanaman dengan menggunakan air sebagai sumber nutrisinya tanpa tanah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Riau menjabarkan teknik membuat instalasi hidroponik, salah satunya Nutrient Film Technique yaitu rak paralon bertingkat dengan air mengalir dari tinggi ke rendah.

Jenis tanaman yang dapat ditanam diantaranya kangkung, selada air, sawi, bayam, tomat, melon, cabai, wortel, dan daun bawang.

Teknik bercocok tanam ini sungguh menjanjikan. Pak Tani Digital menceritakan kisah petani hidroponik sukses asal Bali. I Gusti Made Dwiadya, namanya. Penghasilannya fantastis mencapai lima puluh juta per bulan. Produknya telah lulus uji laboratorium dan aman dikonsumsi.

Dua: Akuaponik. Bercocok tanam dengan mengkombinasikan akuakultur (budidaya ikan) dan hidroponik (budidaya tanaman) dalam satu ekosistem.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta menjelaskan bahwa metode ini memanfaatkan sistem re-sirkulasi kotoran yang berasal dari ikan ke tanaman lalu tanaman menghasilkan oksigen yang membuat air berkualitas baik untuk ikan.

Metode ini harus memperhatikan ratio pakan ikan. Pada sayuran daun, pakan ikan yang diberikan  40 – 50 g per m2 per hari dan sayuran buah sebanyak 50 – 80 g per m2 per hari.

Jenis ikan yang dapat dipelihara adalah ikan air tawar, seperti gurame, lele, nila, sampai koi. Sedangkan tanamannya adalah jenis tanaman hidroponik.

Jusuf Randi, seorang petani akuaponik dari Purwokerto sudah merasakan keberhasilan menggunakan metode ini. Ia menyatakan bahwa budidaya ini sangat efisien. Satu kali panen, ia mendapatkan 240 kg kangkung dan satu ton lele.

Tiga: Slab roof. Bertani di atap gedung. Berawal dari kekhawatiran berkurangnya lahan pertanian karena alih fungsi, maka ide ini muncul.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi gedung harus kedap air sehingga tidak terjadi kebocoran. Negara yang telah sukses menerapkan metode ini adalah Tiongkok. Mereka menanam berbagai sayuran, buah-buahan, dan padi di atap gedung seluas 0,2 hektar.

Instansi pemerintah yang telah menerapkan metode pertanian cerdas di atas adalah Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian. Instansi tersebut telah memiliki rumah hidroponik, keramba ikan, dan sedang membuat slab roof untuk menanam padi. Harapan ke depan, kebutuhan pegawainya dapat tercukupi dari hasil tersebut.

Setelah proses budidaya dilakukan dengan sukses, maka petani harus diberikan fasilitas untuk memasarkan produknya. Online market seperti Toko Tani Indonesia, Among Tani, dan lainnya harus didorong penuh sehingga makin berkembang.

Peran Kementerian Pertanian sebagai tulang punggung keberlangsungan ketahanan pangan penduduk Indonesia harus terus dibuktikan. Rencana strategis Kementerian Pertanian tahun 2020-2024, dapat diwujudkan melalui penyediaan alat mesin pertanian dan jaringan internet, bimbingan teknis dan supervisi baik budidaya, pasca panen, pemeliharaan ternak, diseminasi hasil penelitian, penyuluhan, serta pengawasan intern.

Jika pertanian cerdas ini diterapkan, maka julukan Indonesia sebagai negara agraris akan semakin berjaya. Dukungan semua pihak baik rakyat dan pengambil kebijakan, tentunya sangat dibutuhkan. Yuk, mari bahu membahu membangun sektor pertanian demi kesejahteraan bangsa. Lumbung pangan dunia 2045, bisa!



Comments

  1. Terkait dengan alat" pertanian itu tidak ada sama sekali di daerah saya. Petani di daerah saya masih mengandalkan tenaga manusia, seperti saat tanam maupun panen. Biasanya yang menggunakan alat bantuan hanya traktor saat membajak sawah. Ada alat modern pun bagi petani desa seperti didaerah saya sepertinya masih berat terkendala dengan dana yang tidak sedikit

    ReplyDelete
  2. waw ternyata drone bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi unsur hara ya mbak, btw kl di tempatku lagi musim banget hidroponik, senangggg. melihat hampir tiap rumah punya sayuran yang bisa dipanen, hihi
    mungkin karena sejak pandemi bosan di rumah aja, jadi orang2 di komplekku pada berbondong2 buat tanaman hidroponik

    ReplyDelete
  3. Keren banget kalau membayangkan para petani di Indonesia secara menyeluruh bisa menerapkan sistem pertanian yg maju seperti itu.

    ReplyDelete
  4. Saya punya keinginan berkebun di atas atap suatu hari nanti (maksudnya kalau udah punya rumah sendiri, hehehe). Senang banget melihat atap rumah bisa dimanfaatkan dan dimaksimalkan daripada dibiarkan kosong.

    ReplyDelete
  5. Artikel yang sangat menarik tentang pertanian cerdas. Jadi memberikan pengetahuan pada pembaca akan perkembangan teknologi di bidang pengembangan pertanian.

    ReplyDelete
  6. keren ya kalo pertanian udah masuk ek revolusi industri 4.0 ini apalagi deteksi unsur hara pake drone, wow banget. Jujur aku lagi struggle sama si hidroponik yg kayaknya akan gagal haha

    ReplyDelete
  7. slab roof ini juga sama kaya hidroponik ga sih. skrg banyak bgt yang lagi menggandrungi hidroponik nih buat memanfaatkan lahan sempit

    ReplyDelete
  8. syukurnya sekarang ada alat-alat canggih tuk bidang pertanian ini ya yang bisa bantu pekerjaan para petani kita, semoga dengan alat-alat ini hasil pertanian bisa semakin meningkat ya :)

    ReplyDelete
  9. Slab roof nih yang saya kepingin banget. Tapi sepertinya lantai 2 nya harus disiapkan dulu.

    ReplyDelete
  10. Kita masih bisa untuk menjadi negara agraris lagi, dengan kerjasama semuanya juga ya. Semoga pengembangan pertanian dengan teknologi bisa memberikan hasil yang bermanfaat ya

    ReplyDelete
  11. Wah dulu wakt kecil kenangannya malah di sawah memang mbak. Terus tahu kapan panen ubi, panen jagung, panen kacang, panen padi dan lain lain.
    Btw sekarang kayaknya banyak yang bercocok tanam pakai hydrophonik. mengatasi keterbatasan lahan ya.

    ReplyDelete
  12. Saya lagi nyoba hidroponik, nih, Mbak udah sebulanan. Seneng banget karena hasilnya bagus, masya Allah. Bayam udah 3x panen, masiha da sayuran lain juga. Selama ini nggak kebayang bisa berkebun dengan cara sederhana kayak gini di Jakarta :D

    ReplyDelete
  13. Lahan pertanian memang semakin menyempit karena banyak digunakan sebagai lahan infrastruktur. Ditambah kurangnya minat generasi penerus yang ingin bertani karena memang kebanyaka dari kecil sudah dicekoki dengan harapan bahwa anak-anak petani harus sukses, jangan jadi petani lagi. Nah, pertanian dengan memaafaatkan teknologi ini menurutku harus diadakan penyuluhan dulu secara merata tentang konsep dan cara kerjanya. Terutama petani yang ada di pelosok daerah karena masih banyak yang awam tentang teknologi.

    ReplyDelete

Post a comment