Tukang Kebersihan

“Bunda berangkat dulu, ya, sayang.” kucium jidat dan kedua pipi sulung dengan lembutnya.

Anak perempuanku itu memang sayang benar sama Bundanya. Ia akan tetap berdiri di seberang jalan, sampai aku naik ke mobil berpelat kuning. Kalau aku sudah naik angkot, barulah ia mulai melambaikan tangan, sebagai tanda perpisahan, kayak di film Bollywood gitu.

***

“Ninung … ninung … ninung.” Sirene dari pos jaga kereta api terdengar lantang, dan palang perlintasan menutup otomatis.

Ya Allah, itu kereta enggak tahu apa, kalau aku sudah kesiangan. Pakai numpang lewat lagi.

Melihat situasi tidak aman. Akhirnya, aku langsung mengambil gawai dari dalam tas.

“Maaf Pak, posisi saya sudah ada di seberang rel kereta api. Nungguin kereta apinya lewat. Saya jangan di tinggal, ya. Makasih, Pak.”

Isi pesan singkatku kepada sopir elf Rahmawati Mozza.

Begitulah jurus kalau sedang kepepet. Kalau ditinggal sama Mozza, bisa gawat urusan, alamat telat sampai di kantor. Nah, saat genting seperti itu lah, aku harus secepat kilat menginformasikan posisiku kepada Pak Sopir Mozza. Biasanya, Mozza akan menungguku sampai datang.

“Bang, salip mobil elf yang di depan itu. Saya turun di depannya,” pintaku pada sopir angkot berwarna merah.

“Makasih, Bang.” Kuserahkan tiga lembar uang pecahan dua ribu rupiah.

Kuberlari secepat kilat. Tidak enak dengan penumpang yang lain. Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Apalagi menunggunya saat mau berangkat kerja, itu akan menjadi hal yang paling mengesalkan.

“Maaf, ya, Pak, agak telat. Tadi nungguin kereta lewat,” ucapku sambil tersengal-sengal pada Pak Sopir.

Sebenarnya, permintaan maaf itu secara tidak langsung, aku tunjukkan kepada semua penumpang juga sih. Tapi tidak mungkin, aku meminta maaf satu per satu pada mereka. Apalagi bukan lebaran. Jadilah suaraku bergema dengan keras di dalam elf tersebut.

“Permisi, Pak,” ucapku pada penumpang berbaju orange dan bersepatu boots.

“Silakan, Mbak,” jawabnya sambil tersenyum.

Aku mulai membenahi tas ransel yang sedari tadi kudekap dengan kuatnya. Mulai mengatur nafas dan mencari posisi duduk yang PW (posisi wuenak).

“Mbak, maaf tasnya terbuka.” Penumpang berbaju orange menunjuk ke arah tas ransel yang berada di atas pahaku.

“Oh, ya. Saya tadi terburu-buru bayar angkot, kelupaan nutup tas.” Senyum simpul kutampakkan padanya.

Ini orang memperhatikan aku saja dari tadi. Semoga enggak ada maksud apa-apa.

Saat suasana sedang hening. Aku hampir terjatuh dari kursi. Rem pakem Mozza seakan membangunkanku dari zona nyaman.

Ini pasti karena lampu merah, jadi ban mobil Mozza berhenti berputar.

Saat sedang mengamati sekelilingku di pertigaan lampu merah. Aku seperti mencium sesuatu dari arah penumpang yang berbaju orange. Kutarik nafas panjang, kubuang perlahan. Kuenduskan hidung seperti orang yang sedang mencari sesuatu di TKP (tempat kejadian perkara).

Bau tersebut makin menyengat. Kucari sumber bau tersebut. Kutarik nafas panjang, kembali kubuang perlahan. Hidung yang mancung ke dalam ini, semakin merasakan baunya. Seperti bau sampah.
Tak berani menolehkan wajah ke penumpang yang berbaju orange tersebut. Akhirnya aku menahan nafas lalu menghembuskannya.

Huu … Huu … Huu …!

Sepertinya, ia menyadari kegelisahan yang melandaku. Bapak tersebut menolehkan wajahnya sambil tersenyum.

“Ada yang bisa dibantu, Mbak?” tanyanya perlahan.

“Oh, enggak, Pak. Makasih.” Kata yang keluar begitu spontannya.

Lampu merah telah berubah menjadi lampu hijau. Mozza kembali berlari dengan gesitnya.

Buss … buss … buss!

Sepanjang perjalanan menuju terminal. Kepalaku mulai fly. Rasanya ingin muntah.

Seorang penumpang berbaju blazer hitam, sepertinya merasakan hal yang sama. Ia memegang-megang hidungnya berkali-kali. Menatap tajam Bapak berbaju orange, kemudian bertanya.

“Maaf, Bapak kerjanya dimana?”

“Saya kerja di Pasar, Mbak, jadi tukang kebersihan.”

Tepat di perepatan lampu merah. Mozza kembali tertahan lajunya.

“Kiri, Pak.” Bapak berbaju orange menyerahkan ongkos dari dalam mobil.

Rupanya, si doi adalah Pasukan Orange. Petugas kebersihan di Pasar. Aku heran, seragam Bapak tersebut terlihat rapi, seperti baru disetrika. Tapi, kok dari seragam tersebut muncul aroma seperti bau sampah.

Sebenarnya, sumber bau sampah tadi dari mana, ya? Setelah menganalisis lebih mendalam, akhirnya kutemukan jawaban. Walau masih belum pasti kebenarannya, tapi setidaknya akan lebih menenangkan pikiranku yang jadi kacau gara-gara bau tersebut. Pastinya, lebih masuk di akal *he.

Mungkin bau sampah tersebut berasal dari sepatu boots-nya! Wkwk …

Lega rasanya saat Bapak berbaju orange tersebut turun. Aku bisa bersantai ala pantai, sambil memainkan gawai yang sejak tadi duduk manis di dalam tas ransel.

Jalan arteri nampak lancar. Mozza melaju dengan mulusnya.

Buss … buss … buss!

Tet … tet .. teeeet!

Beberapa kali keluar suara klakson dari mulut Mozza. Ia memberikan peringatan kepada pengguna sepeda motor yang salah kaprah. Lampu sein kiri, tapi lajunya di kanan.

Iiik …!

Mozza mengerem seketika. Bukan karena dihadang lampu merah. Tapi, ada sewa yang akan naik.

Ya ampun …, kok penumpangnya berbaju orange lagi, sih. 

Hidungku mulai megar-megar, saat penumpang baru berbaju orange menaiki Mozza.

“Misi, Mbak.” Punggungnya menunduk, isyarat izin memasuki mobil.

“Iya, Pak.” Tak kuasa aku menahan emosi, akhirnya hanya kata itu yang terucap.

Kursi di sampingku jadi sasaran empuknya. Memang, duduk di dekat pintu agak rawan. Banyak yang lalu lalang, datang pergi silih berganti, bak gonta ganti pasangan. Kayaknya, aku kapok duduk di kursi kebesaran ini.

Biasanya, penumpang yang duduk di kursi dekat pintu, itu yang lokasi tujuannya dekat, sehingga lebih cepat turun. Jika lokasi tujuan jauh, biasanya mereka akan duduk di kursi pojok bagian belakang. Ini hanya, hasil pemantauan aku saja sih. Belum pernah melakukan riset lebih detail.

Benarlah, bau sampah mulai kembali berkeliaran ke seluruh ruang dalam mobil elf. Apalagi, aku yang paling dekat dengan sumber baunya. Bisa kebayangkan, gimana kekinya hati. Menahan tangis akibat bau ini.

Akhirnya, aku penasaran. Mulai membuka percakapan, basa-basi sedikit, agar fokus terhadap bau tersebut berkurang.

“Maaf Pak mau tanya. Bapak kerjanya dimana? Pagi-pagi sudah rapi.”

“Saya tugas di Pasar, Mbak, bersih-bersih.”

“Oh, semua petugas kebersihannya, menggunakan baju orange, ya, Pak?”

“Ya, Mbak.”

Sepanjang perjalanan aku berdoa tiada hentinya. Agar jalanan tak macet, dan segera sampai Kampung Utan. Bagaimana tidak? Aku akan turun terlebih dahulu dibandingkan Si Bapak berseragam orange tersebut. Bisa dipastikan, sepanjang perjalanan, dia akan menemaniku.

Aku berusaha tegar dengan cobaan ini. Minyak kayu putih menjadi senjata utama dalam menghadapi masalah pelik ini. Bukannya tidak menghargai pekerjaanya, aku justru salut dengan profesinya, yang begitu mulia, hanya baunya saja yang mengganggu. Beruntung, jalan tak macet dan waktu yang ditunggu akhirnya tiba juga.

“Kampung Utan … Kampung Utan abis,” teriak Pak Sopir.

Semangat empat lima bergelora dalam hatiku. Terimakasih Tuhan, akhirnya sampai juga di Kampung Utan.

Foto oleh mgrol112 dalam Republika.com




Comments

  1. Seru ya pergi naik angkot tiap hari, selain beragam karakter orang, bermacam aroma juga ada hihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak, ini baru aroma. Belum lagi bertemu karakter orang-orang di sekeliling ..he

      Delete
  2. kasian juga ya sebenernya ...

    kasih saran aja mba suruh cuci sepatu boatnya hahahahhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, saat itu aku tak sanggup berbicara seperti itu Mbak, duh

      Delete
  3. Hihi, begitulah kalau naik angkutan umum yaa. Saya selama kehamilan kedua seperti itu. Waktu kehamilan pertama ada tebengan, pas kehamilan kedua semuanya mandiri. Maklum LDM. Sampai ke dokter saja saya sendiri, tanpa ditemani

    ReplyDelete
  4. suka dukanya naik angkot, Mbak, he. Enak atuh kalau ada tebengan. Lebih save apalgi dlm kondisi hamil.

    ReplyDelete

Post a comment