Follow Us @soratemplates

Sunday, 27 May 2018

Desiminasi South American Leaf Blight (SALB)


Desiminasi
South American Leaf Blight (SALB)

Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian


South American Leaf Blight (SALB) atau penyakit hawar daun karet amerika selatan yang disebabkan oleh cendawan Microcyclus ulei adalah penyakit yang sangat merusak dan menghancurkan di pertanaman karet. Dalam sejarahnya, penyakit SALB telah menimbulkan kerugian ekonomi maupun sosial yang sangat besar bagi negara-negara penghasil karet alam di wilayah Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Penyakit SALB diketahui sebagai faktor utama yang menghambat perkembangan industri karet alam di kedua wilayah tersebut.
Berdasarkan data statistik karet alam tahun 2010, sebanyak 85% pertanaman karet di Indonesia adalah milik petani (smallholder) dan 15 % adalah milik swasta (private). Dari luasan pertanaman tersebut, sebanyak 76% produksi karet alam berasal dari lahan milik petani, dan 24% dari lahan milik swasta. Dengan demikian, Indonesia sangat berkepentingan untuk melakukan usaha-usaha pencegahan introduksi SALB ke wilayah Asia Pasifik, terutama ke Indonesia karena sebagian besar pertanaman karet di Indonesia adalah milik petani.
Penyakit SALB dapat menjadi ancaman bagi negara-negara penghasil karet alam di wilayah Asia Pasifik. Oleh karena itu, pencegahan penyebaran SALB selalu menjadi perhatian utama negara-negara penghasil karet alam yang tergabung dalam Asia Pacific Plant Protection Commission (APPPC). Dalam beberapa kali pertemuan APPPC, pencegahan masuknya SALB ke wilayah APPPC selalu menjadi topik penting yang dibahas sehingga menghasilkan beberapa kesepakatan penting.
Pertemuan APPPC ke-25 di Beijing-China (2007) menyepakati Pest Risk Analysis on SALB (PRA on SALB).  Dalam pertemuan tersebut, Malaysia dengan bantuan Thailand, Cina, dan Selandia Baru diminta menyusun draft standar regional untuk pencegahan SALB berdasarkan hasil PRA SALB. Pada tahun 2008, draft standar yang berhasil disusun diedarkan untuk mendapat tanggapan dari berbagai negara untuk kemudian disepakati pada pertemuan APPPC ke-26.
Pertemuan APPPC ke-26 di New Delhi-India (September 2009) menyepakati pedoman pencegahan SALB (Guidelines for Protection against South American Leaf Blight of Rubber) sebagai standar regional ketentuan fitosanitari di Asia Pasifik. Selain itu, pertemuan juga menyepakati dilakukannya penyusunan pedoman prosedur impor dari negara-negara endemis SALB ke wilayah Asia Pasifik. Pedoman tersebut kemudian disusun dalam suatu kegiatan “Workshop on the Prevention of Introduction of SALB of Rubber” yang diselenggarakan oleh Malaysia pada tanggal 13-17 Desember 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Pertemuan APPPC ke-27 di Filipina (15-19 Agustus 2011) juga merekomendasikan kelompok kerja SALB untuk menyelenggarakan 2 jenis kegiatan pada tahun 2012 dan 2013, yaitu (1) workshop pelatihan SALB (Training Workshop on SALB) menggunakan referensi yang dihasilkan tahun 2011, dan (2) workshop pelatihan diagnosis SALB (Training Workshop on SALB Diagnostics).
Dalam rangka melaksanakan beberapa kesepakatan tersebut  diselenggarakan Desiminasi Penyakit SALB (South American Leaf Blight) Pada Tanaman Karet di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian pada bulan September 2013.
Kegiatan desiminasi ini bertujuan meningkatkan kapasitas atau kemampuan petugas karantina tumbuhan tentang penyakit SALB dan pencegahan SALB di Indonesia.
Materi desiminasi disampaikan dengan cara pengajaran 12 materi oleh para narasumber yang diikuti dengan diskusi interaktif, serta kunjungan lapang ke perkebunan karet.

Materi 1: The economic importance of rubber and SALB
Topik ini memberi gambaran mengenai pentingnya karet alam secara ekonomi bagi negara-negara penghasil karet alam di Asia. Beberapa fakta yang disampaikan, antara lain: (i) sekitar 90% produksi karet alam di dunia didominasi oleh Thailand, Indonesia, Malaysia, India, dan Vietnam; (ii) terjadi peningkatan konsumsi karet alam di Asia, terutama di Indonesia, Malaysia, dan Thailand; (iii) peningkatan konsumsi karet alam dan produknya meningkatkan kontribusi pendapatan ekspor bagi negara tersebut; (iv) karet alam yang umumnya diusahakan oleh petani kecil menjadi sumber penghidupan utama bagi petani dan keluarganya.
Selain itu, diberikan juga gambaran tentang bahayanya SALB bagi pertanaman karet, bagaimana sejarah kerusakan akibat SALB, daerah penyebaran SALB, akibat yang ditimbulkannya pada pohon karet, kerugian ekonomi dan dampak lingkungan akibat SALB, serta ancaman SALB bagi Asia dan Afrika. Saat ini, keberadaan SALB terbatas di negara-negara penghasil karet di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Penyakit SALB diketahui sebagai faktor utama yang telah menghambat industri karet alam di wilayah tersebut. SALB sangat berpotensi sebagai ancaman bagi pertanaman karet di Asia, karena: (i) spora SALB dapat bertahan dalam waktu yang lama dalam kondisi ekstrim; (ii) klon karet yang ditanam di Asia adalah klon yang rentan terhadap SALB, serta (iii) kesesuaian kondisi iklim di Asia untuk perkembangan dan penyebaran SALB. 
Materi 2: The biology of rubber plant: its cultivation and propagation methods
Topik ini memberikan informasi mengenai: (i) daerah asal tanaman karet (hutan Amazone di Amerika Selatan) dan penyebaran tanaman karet hingga ke Asia (Thailand, Indonesia, Malaysia, China, Vietnam); (ii) keberadaan 11 spesies karet di Amerika Selatan, dimana Hevea brasiliensis adalah yang paling banyak diusahakan secara komersial; (iii) bagaimana metode perbanyakan karet (seedlings, budded stump, budded plants), dimana budded plants adalah yang paling sering digunakan untuk pertanaman komersial; (iv) bagian tanaman karet yang paling sering digunakan untuk keperluan impor, yaitu biji, budwood atau stumps.
Materi 3: The symptoms of SALB, the spores of M. ulei, physiological races, distribution, dispersal, and epidemiology
Topik ini memberikan informasi mengenai: (i) patogen penyebab SALB, yaitu Microcyclus ulei yang menghasilkan 3 tipe spora, yaitu konidia, pikniospora, dan askospora, dimana hanya konidia dan askospora yang bertanggung jawab terhadap kejadian penyakit SALB; (ii) karakteristik spora M. ulei, yaitu konidia berbentuk 2 sel dengan salah satu selnya agak terpilin, pikniospora berbentuk seperti batang korek api dengan salah satu ujungnya lebih besar, serta askospora yang berbentuk elips, 2 sel, bersepta dan hialin; (iii) siklus hidup M. ulei; (iv) bagian tanaman yang dapat diserang, yaitu bagian yang masih muda (daun, batang, bunga, buah); (v) gejala SALB pada berbagai bagian tanaman karet, dimana gejala khasnya adalah lesio di permukaan bawah pada daun muda dan keberadaan peritesia di permukaan atas pada daun tua; (vi) ras fisiologis M. ulei dan akibat adanya ras baru yang akan mematahkan resistensi klon karet tertentu; serta (vii) epidemiologi SALB, dimana kondisi cuaca sangat mempengaruhi perkecambahan spora, produksi spora, penglepasan spora (konidia dilepaskan pada pagi hari, sedangkan askopsora dilepaskan pada malam hari), dan penyebaran spora (spora disebarkan oleh angin dan percikan air hujan). Askospora diketahui sebagai penyebab terjadinya siklus penyakit SALB yang baru. Selain itu, curah hujan yang tinggi tanpa disertai musim kering panjang serta kelembaban tinggi diketahui dapat meningkatkan serangan penyakit SALB.
Materi 4: Management of SALB of rubber
Topik ini memberikan informasi mengenai strategi pengelolaan SALB, antara lain dengan menggunakan: (i) klon tahan SALB, namun klon yang memiliki resistensi horisontal (tahan terhadap semua ras M. ulei) belum tersedia; (ii) pengendalian secara kimiawi dengan fungisida, umumnya digunakan pada masa pembibitan dan tanaman muda, namun tidak cost-effective; (iii) menanam pohon karet di SALB escaped areas, yaitu di lokasi yang tidak sesuai untuk perkembangan SALB karena curah hujan tahunan yang rendah dan masa kering yang panjang (minimal 4 bulan kering per tahun) (seperti di Sao Paulo dan Matto Grosso); (iv) crown budding, yaitu menggunakan 3 bagian tanaman untuk membentuk klon yang tahan SALB; serta (v) pengendalian hayati dengan cendawan Dicyma pulvinata, namun hal ini belum dapat dilakukan dalam skala komersial.
Materi 5: Methods for isolation and culturing of M. ulei
Topik ini menjelaskan berbagai metode isolasi M. ulei, yaitu dengan menggunakan daun terinfeksi atau memindahkan konidia secara langsung ke media cair (water agar) atau media padat (Potato Sucrose Agar, PSA yang mengandung 2.5% sukrosa). Sementara itu, untuk merangsang sporulasi, media tersebut harus diberikan kondisi gelap dan terang secara bergantian dalam waktu tertentu. Penelitian terhadap media pertumbuhan spora yang mengandung air kelapa dan makanan anjing (dog food) menunjukkan adanya peningkatan produksi spora.
Materi 6: Other important Hevea disease
Topik ini memberikan informasi tentang berbagai penyakit yang menyerang pertanaman karet berdasarkan kategorinya, yaitu (i) penyakit utama yang sudah lama, yaitu Colletotrichum Secondary Leaf Fall (SLF), Oidium Leaf Fall, dan Phytophthora Leaf Fall; (ii) penyakit baru, yaitu Corynespora Leaf Fall, dan Fusicoccum Leaf Blight; (iii) penyakit minor, yaitu Fusicoccum Leaf Disease, Bird’s eye spot, dan Cylindrocladium Leaf Disease; serta (iv) penyakit eksotik bagi Asia, yaitu SALB, Black crust, dan Target Leaf Spot. Dalam melakukan diagnosa SALB, perlu diketahui bahwa gejala penyakit Colletotrichum Secondary Leaf Fall sangat mirip dengan gejala SALB, terutama pada tahap awal perkembangan penyakit.
Materi 7: Quarantine pests and diseases of Hevea
Topik ini difokuskan pada OPT karet yang ada di Brazil yang berpotensi sebagai OPTK, yaitu Thanatephorus cucumeris (target leaf spot), Phyllachora huberi (black crust), Leptopharsa  hevea (lace bug), Aleurodicus cocois (white fly), Erinyis ello (sphingid moth).
Materi 8: The historical development on quarantine of SALB
Topik ini memberikan gambaran umum tentang sejarah perkembangan karantina kaitannya dengan SALB, termasuk latar belakang dan kemajuan perkembangannya.
Materi 9: Pest Risk Analysis (PRA) of M. ulei with emphasis on entry pathways and import requirements
Topik ini menjelaskan tahapan PRA M. ulei, yaitu kategorisasi OPT, penilaian kemungkinan introduksi dan penyebaran SALB beserta konsekuensinya, dan kemungkinan perkembangan SALB di area PRA. Selain itu, disampaikan juga manajemen risiko SALB, berupa persyaratan impor yang dikenakan bagi komoditas inangnya (host materials), bukan inang (non-host materials), dan penumpang.
Materi 10: Procedures for inspection, diagnostics and disinfection of planting materials
Topik ini memberikan gambaran tentang prosedur pemeriksaan dan clearance (pemeriksaan dokumen dan persyaratan impor), pemeriksaan dan perlakuan yang diterapkan di pre-border dan at border, serta pemeriksaan dan diagnosis OPT yang mungkin terbawa melalui importasi biji, bunga, dan buah hevea. Selain itu, dijelaskan juga tentang sistem laboratorium diagnosis, termasuk persyaratan minimum untuk personil dan fasilitas laboratorium, pentingnya keberadaan laboratorium karantina pusat maupun cabang untuk mendukung pemeriksaan, pentingnya memahami metode diagnosis (visual, mikologis, molekuler dan serologi) untuk deteksi keberadaan SALB, serta beberapa informasi perlakuan karantina yang dapat membebaskan komoditas dari SALB (iradiasi UV, X-ray, disinfektan, dan perlakuan panas lembab).
Materi 11: Contingency plan: Detection surveys and eradication procedures
Topik ini memberi penekanan pada definisi: (i) contingency plan (suatu rencana yang disusun untuk mendapat suatu hasil yang berbeda dari hasil dalam rencana pada umumnya); (ii) manajemen risiko, termasuk pentingnya keberadaan suatu peraturan terkait SALB, pentingnya memiliki kelompok orang yang kompeten untuk melaksanakan survei (deteksi, terbatas, monitoring), identifikasi dan pengendalian, pentingnya public awareness, pentingnya dukungan dari berbagai instansi terkait, pentingnya SOP untuk melaksanakan rencana tersebut, serta pentingnya meningkatkan kapasitas untuk melaksanakan manajemen risiko (kapasitas dalam surveilans, identifikasi, dan pengendalian); (iii) survei, termasuk pentingnya survei deteksi, pengorganisasian survei, sumber daya yang dibutuhkan dalam survei, rencana kerja survei, frekuensi survei, banyaknya jumlah tanaman/sampel survei); dan (iv) program eradikasi apabila terjadi inkursi SALB di suatu negara (misal: penyemprotan fungisida mulai dari area penyangga ke area yang terinfeksi dan monitoring efikasi penyemprotan). Hal-hal tersebut harus ditempuh oleh negara-negara penghasil karet alam apabila terjadi serangan SALB di negaranya.
Materi 12: Public relation: Creation of public awareness
Topik ini menjelaskan tanggung jawab NPPO untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang arti penting pencegahan SALB dan usaha-usaha yang dilakukan untuk mencegah inkursi SALB. Selain itu, disampaikan juga berbagai metode untuk menyebarluaskan informasi tentang SALB, antara lain melalui kampanye public awareness atau melalui periklanan (media massa dan publikasi). 


No comments:

Post a Comment