Follow Us @soratemplates

Sunday, 15 July 2018

Bimbingan Teknis Pemantauan OPTK Tahun 2016


Bimbingan Teknis Pemantauan OPTK

Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian

Dalam perdagangan global, ketentuan perkarantinaan menjadi instrument penting bagi setiap negara untuk digunakan dalam pengaturan masuknya produk impor dan mendorong akses pasar bagi setiap produk perdagangan. Penerapan ketentuan Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS) merupakan hak berdaulat suatu negara dalam melindungi kehidupan atau kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan dari risiko yang ditimbulkan oleh masuk, menetap, dan menyebarnya organisme pengganggu  tumbuhan (OPT), bahan makanan, racun, dan cemaran yang terbawa melalui lalulintas komoditas pertanian dalam perdagangan internasional.
Kebijakan penyelenggaraan pelayanan karantina tumbuhan terhadap komoditas ekspor memiliki peran strategis dalam mendukung ekspor nasional melalui penyelenggaraan sertifikasi fitosanitari, yang berorientasi pada pemenuhan persyaratan fitosanitari negara tujuan ekspor. Upaya mendorong peningkatan nilai tambah dan daya saing komoditas ekspor Indonesia di pasar internasional harus diarahkan untuk (1) penyiapan informasi teknis yang diperlukan oleh negara mitra dagang untuk keperluan Analisis Risiko OPT/Pest Risk Analysis (PRA), (2) pengembangan pelaksanaan sertifikasi berbasis in line inspection system, (3) pengembangan perlakuan fitosanitari sesuai dengan persyaratan fitosanitari negara tujuan ekspor, (4) penguatan program surveilen OPT untuk memperkuat status OPT pada area produksi komoditas unggulan ekspor, dan (5) memperkuat kerjasama dengan negara mitra dagang.
Selaras dengan program peningkatan nilai tambah dan daya saing komoditas ekspor pada poin keempat yaitu program penguatan surveilen OPT, maka perlu diadakan bimbingan teknis. Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian menyelenggarakan salah satu fungsinya melalui kegiatan bimbingan teknis Pemantauan Daerah Sebar Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dengan silabus berdasarkan pada hasil seminar pemantauan OPTK tahun 2016 dan disesuaikan dengan sasaran pemantauan tahun 2017. Bimbingan teknis pemantauan OPTK ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan keahlian Petugas Karantina Tumbuhan (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) lingkup Badan Karantina Pertanian dalam pelaksanaan pemantauan OPTK.
Kegiatan Bimbingan Teknis Pemantauan Daerah Sebar Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina dilaksanakan pada tanggal 24 – 29 Oktober 2016 (enam  hari). Kegiatan ini bertempat didua lokasi yaitu di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian Bekasi dan Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon.
Penyampaian materi Bimbingan Teknis Pemantauan Daerah Sebar Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina dilakukan dengan ceramah dan tanya jawab di dalam kelas di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian antara narasumber dan peserta. Technical meeting/pengarahan sebelum melakukan deteksi dan identifikasi OPT. Kunjungan lapang ke Kebun Mangga Cirebon. Deteksi dan Identifikasi OPT di laboratorium entomologi Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian. Diskusi akhir/evaluasi kegiatan.
Materi yang diberikan dalam penyelenggaraan bimbingan teknis ini meliputi  Kebijakan Badan Karantina Pertanian  dalam  Mendukung Akselerasi Ekspor, Standar Operasional Produksi dan Persyaratan Ekspor, Teknik Pemantauan OPT Komoditas Unggulan Ekspor Nasional, Kunjungan Lapang ke Perkebunan Mangga, Metode Koleksi, Mengenal Serangga, Mengenal Kumbang, A quide for Diagnosis and Detection of Quarantine Pest Mango Seed Weevil,  Praktikum Deteksi dan Identifikasi OPT pada Buah Mangga, Teknik Pemantauan pada Buah Salak, Praktikum Deteksi dan Identifikasi OPT pada Buah Salak, OPT pada buah Manggis dan Naga, Praktikum Deteksi dan Identifikasi OPT pada buah Manggis dan Naga.
Materi dengan tema Kebijakan Badan Karantina Pertanian  dalam  Mendukung Akselerasi Ekspor dengan judul “Pelaksanaan Pemantauan OPT/OPTK dalam Trade Facilitation” disampaikan oleh Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian yaitu Bapak Dr. Ir. Antarjo Dikin, M.Sc. Pada materi ini peserta mengetahui dan memahami : arti penting pemantauan OPT/OPTK. Hubungan yang saling berkaitan antara trade facilitation and plant health, single risk management pusat kawasan berikat, pelaksanaan analisis resiko organisme pengganggu tumbuhan, persyaratan impor. Akselerasi ekspor dapat didukung dengan adanya status hama komoditas ekspor dan standar operasional prosedur impor protocol phytosanitary certification. Apabila terdapat temuan OPTK A1 dan A2 maka langkah yang harus dilakukan adalah validasi dan upaya eradikasi. Pengelolaan data pemantauan diantaranya pengambilan sampel dan data di lapangan, identifikasi, database sebaran OPT/OPTK, daftar OPTK, Analisis Resiko Organisme Pengganggu Tumbuhan, single risk managementnational bio security. Selain itu, database sebaran OPT/OPTK digunakan untuk market aksestrade facilitationexport acceleration. Umpan balik Unit Pelaksana Teknis terhadap regulasi karantina (layanan impor/domestik) dan pengembangan ekspor yaitu dengan melakukan training internal, workshop, dan seminar. Penetapan pest free area dapat dilakukan dengan memahami International Standar Phytosanitary Measures sehingga diperlukan training kepada fungsional untuk audit impor dan optimalisasi ekspor. Dukungan National Plant Protection Organization (organisasi perlindungan tanaman nasional) terhadap akselerasi ekspor diantaranya berbagi informasi teknis tindakan biosekuriti persyaratan impor untuk industribantuan teknis kepada industri untuk memenuhi persyaratan impor, penilaian dan koreksi tindakan yang terjadi pada titik-titik kritis industri dalam rantai pasokan, persetujuan proses industri sebagai bagian dari sistem sertifikasi fitosanitari, pemantauan kepatuhan dan pelatihan
sistem sertifikat fitosanitari. Sistem managemen pemantauan terhadap area pemantauan terdiri dari area  yang bebas, deteksi dini pada suatu area, dan pembatasan area sehingga dapat diketahui keuntungan mitigasi risikonya.
Materi dengan tema Standar Operasional Produksi dan Persyaratan Ekspor dengan judul “Sertifikasi Fitosanitari dalam Pemenuhan Persyaratan Ekspor” disampaikan oleh Kepala Subbidang Bidang  Non Benih Ekspor dan Antar Area,  Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian yaitu Bapak Ir. Turhadi Noerachman, MSi. Pada materi tersebut peserta mengetahui dan memahami : agreement on the Application Sanitary and Phytosanitary World Trade Organization tentang perdagangan internasional dan negara pengekspor harus memenuhi persyaratan negara pengimpor. Kondisi global perdagangan ekspor dan impor. Kondisi komoditas pertanian khususnya hortikultura. Hambatan ekspor komoditas pertanian Indonesia sehingga menyebabkan rendahnya akseptabilitas komoditas pertanian Indonesia di pasar internasional. Kebijakan Badan Karantina Pertanian dalam mendukung akselerasi ekspor. Persyaratan fitosanitari negara tujuan terhadap komoditas buah yang akan di ekspor. Menerapkan in line inspection approach system yaitu pendekatan kesisteman dalam pengelolaan risiko dengan penerapan mitigasi risiko terbawanya organisme pengganggu tumbuhan dan kontaminasi cemaran berbahaya sejak di sentra produksi sampai dengan pengiriman dengan melibatkan para pihak yang terkait. Dengan penerapan in line inspection approach system maka akan dibuat pedoman untuk petugas karantina tumbuhan sehingga dapat digunakan untuk pemenuhan persyaratan fitosanitari negara tujuan ekspor. Mitigasi OPT di kebun produksi. Mitigasi risiko di rumah kemas. Mitigasi risiko selama penyimpanan. Mitigasi risiko selama pengangkutan. Sertifikasi karantina tumbuhan. Dengan adanya mitigasi risiko mulai dari kebun produksi sampai penetapan sertifikat karantina tumbuhan sehingga dapat bebas dari masalah hama dan keamanan pangan. Tanggungjawab stakeholders dalam ekspor buah segar.
Materi dengan tema Teknik Pemantauan pada Buah Mangga, Manggis, dan Naga dengan judul  “Teknik Pemantauan OPT Komoditas Unggulan Ekspor Nasional (Manggis, Mangga dan Naga)” disampaikan kembali oleh Kepala Subbidang Bidang  Non Benih Ekspor dan Antar Area,  Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian yaitu Bapak Ir. Turhadi Noerachman, MSi. Pada materi tersebut peserta mengetahui dan memahami : arti penting dan tujuan pemantauan OPT/OPTK. Dasar hukum pelaksanaan pemantauan OPT/OPTK. Pelaksanaan pemantauan OPT/OPTK lingkup Badan Karantina Pertanian. Target pemantauan mempertimbangkan kondisi di wilayah masing-masing Unit Pelaksana Teknis lingkup Badan Karantina Pertanian. Garis besar pengelolaan pemantauan dimulai dari perencanaan persiapan, pengumpulan data dan spesimen dilapangan, konsolidasi data lapangan, verifikasi data, pengelolaan data, analisis data dan pelaporan. Tahapan kegiatan pemantauan OPTK meliputi perencanaan, persiapan,  pelaksanaan, mekanisme, komunikasi dan koordinasi dengan dinas/instansi terkait, analisis data, pelaporan, tindaklanjut temuan OPTK, penyimpanan data pemantauan, pembuatan koleksi. Hasil temuan OPTK A1 pemantauan 2015-2016 visualisasi dengan GUN. Hasil temuan OPTK A2 pemantauan 2015-2016 visualisasi dengan GUN. Temuan OPTK A1 dan A2 tahun 2015-2016 yaitu kelompok bakteri dan fitoplasma, cendawan, gulma, nematoda, serangga, tungau, virus. Arahan pemantauan tahun 2017 adalah pemantauan untuk mendukung akselerasi ekspor nasional yaitu penyusunan pest list untuk keperluan AROPT negara tujuan ekspor dan mendukung status bebas OPT pada area, tempat produksi, atau situs produksi. Dukung akselerasi ekspor nasional dengan cara identifikasi komoditas, mengetahui OPT target, melakukan pemantauan. OPT target berdasarkan komoditas buah unggulan nasional seperti pada buah manggis dan salak. Managemen risiko khusus buah mangga dari Indonesia. Pemantauan untuk penetapan status bebas hama terhadap tempat produksi yang terbebas dari mango seed weevil. Persyaratan pemantauan terhadap tempat produksi yang bebas dari mango seed weevil. Formulir survei pembelahan buah  untuk hama penggerek biji. Jumlah minimum tanaman dan buah yang di sampling. OPT pada buah naga.
Kegiatan Bimbingan Teknis Pemantauan Daerah Sebar Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina adalah kunjungan lapang ke perkebunan mangga. Latar  belakang kunjungan lapang ini karena arahan pemantauan tahun 2017 dari Badan Karantina Pertanian untuk mendukung akselerasi ekspor komoditas buah unggulan nasional dan pemerintah Australia mempersyarakaan pemasukan buah mangga dari Indonesia harus dari tempat produksi yang bebas mango seed weevil sehingga perlu dilakukan pemantauan untuk penetapan status bebas hama terhadap tempat produksi yang terbebas dari mango seed weevil (Sternochetus mangiferae-penggerek biji mangga). Akan tetapi kegiatan ini hanya sebagai pembelajaran dalam Bimbingan Teknis Pemantauan Daerah Sebar OPTK bukan untuk melakukan penetapan sesungguhnya suatu tempat produksi terbebas dari mango seed weevil.
Perkebunan mangga yang akan dilakukan pemantauan skala bimbingan teknis adalah perkebunan milik Kelompok Tani Buah Sukamulya yang terletak di jalan Setu Pengasinan Sedong Cirebon. Kelompok Tani Buah Sukamulya merupakan kelompok tani buah binaan Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon. Sesampainya kami disana disambut oleh tim Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon. Kemudian dilakukan acara sambutan dari pihak Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon kepada pihak Bimbingan Teknis Pemantauan Daerah Sebar OPTK.
Sesuai arahan dari narasumber, maka peserta Bimbingan Teknis Pemantauan Daerah Sebar OPTK langsung memisahkan diri sesuai kelompoknya dan menuju kebun mangga. Varietas mangga yang terdapat pada kebun mangga tersebut adalah varietas mangga gedong gincu dan arumanis. Peserta memetik buah mangga yang busuk di pohon, buah mangga yang kecil, buah mangga yang sedang, dan buah mangga yang besar kemudian dimasukkan ke dalam toples plastik yang didalamnya sudah diletakkan tissue yang dibasahi air. Kegiatan ini, dimaksudkan untuk host rearing OPT pada buah mangga. Selain itu, peserta juga memetik buah mangga yang telah terdeteksi adanya serangga berupa noda/luka, bintik hitam dikulit mangga, bekas kotoran serangga, bekas gerekan serangga, dan berlubang. Kemudian buah mangga tersebut dibelah untuk dihitung populasi OPT pada buah mangga tersebut. Setiap varietas buah yang ada dipilih tiga macam buah (satu kecil, satu sedang, dan satu besar). Buah yang akan diperiksa dipetik langsung dari pohon. Jika ditemukan serangga dewasa (kumbang) masukkan dalam botol yang diberi alkohol 70% atau dimatikan dalam botol pembunuh yang dilengkapi dengan kapas dan tetesan ethyl acetat, kemudian dimasukkan dalam kertas papilot. Jika ditemukan telur, larva atau pupa. buah mangga yang terdapat telur, larva atau pupa tersebut dimasukkan dalam toples plastik yang dasarnya diberi tissue (satu buah dalam satu toples). Jumlah individu setiap jenis serangga yang ditemukan dalam satu buah mangga dihitung. Pada setiap toples dibubuhi catatan (tanggal, lokasi, varietas mangga, kolektor).
Materi pertama yang disampaikan oleh  Ibu Dr. Woro Noerdjito adalah metode koleksi. Pada materi ini peserta mengetahui dan memahami: jenis kumbang yang berasosiasi dengan pohon mangga. Perangkap alkohol untuk Brazil: Curculionidae, Cerambycidae, Bostrichidae. Perangkap malaise berbentuk seperti tenda dari kain nilon (kelambu) yang dilengkapi dengan botol koleksi (sepertiganya diisi alkohol 70%) di ujungnya. Untuk koleksi serangga kecil yang aktif di siang hari (lalat, lebah, kumbang) dan suka merayap. Perangkap lampu untuk koleksi serangga yang aktif di malam hari (kumbang dan ngengat). Menggunakan generator dan lampu merkuri atau lampu hitam neon (kumbang). Perangkap di pasang mulai pukul 18.00 WIB (matahari tenggelam – minimum pukul 24.00 WIB). Perangkap buah mangga dilakukan dengan beberapa cara yaitu buah mangga dilekatkan pada batang/ranting pohon dengan menggunakan kain kelambu, serangga yang hadir mengerumuni “perangkap buah” dikoleksi dengan pinset atau jaring. Menggunakan keranjang sampah yang bagian bawah rapat untuk diisi dengan air yang di beri satu sendok sabun cair dan satu sendok makan garam daur (untuk preservasi) sehingga serangga yang hadir akan terjatuh. Perangkap buah dapat dibuat mirip sekali dengan kurungan dari kain nilon/kelambu, di bagian sisi dilengkapi dengan risleting, sedang di bagian bawah berupa dasar plastik/triplek tempat meletakkan buah. Antara dasar dan kurungan ada tempat serangga masuk perangkap. Koleksi serangga dewasa dilapangan dilakukan dengan ditangkap, dimatikan (serangga yang bertubuh keras, dimasukkan dalam botol dengan kapas yang ditetesi dengan ethyl acetat, serangga yang bertubuh lunak dapat dimatikan dengan memencet bagian toraks, penyimpanan sementara (serangga yang sudah dimatikan dimasukkan ke dalam papilot (kertas segitiga), terutama untuk serangga yang bertubuh lunak, serangga yang bertubuh keras juga dapat dimasukkan kedalam botol yang berisi alkohol 70%. Koleksi serangga dewasa dilaboratorium dilakukan dengan opset, menjarum,  merentangkan sayap, papan perentang, dikeringkan, member label, memberi nama. Koleksi serangga pra dewasa  dilakukan pemeliharaan dengan makanan yang sama saat ditemukan sampai mencapai dewasa baru diproses untuk diidentifikasi. Pemeliharaan larva-dewasa dengan mengamati data daur hidup.
Materi kedua yang disampaikan oleh  Ibu Dr. Woro Noerdjito adalah mengenal serangga. Pada materi ini peserta mengetahui dan memahami: morfologi serangga seperti tubuh serangga beruas-ruas terdiri dari kepala, torkas, dan abdomen. Perkembangan serangga seperti telur, larva/nimfa, pupa, imago. Klasifikasi serangga terdiri dari dua puluh sembilan ordo. Serangga pemakan bagian tumbuhan, pada tanaman dapat menjadi hama yang merugikan. Serangga pollinator, membantu bunga dalam proses penyerbukan. Serangga pemangsa, kehadirannya dapat bersifat merugikan/menguntungkan bagi manusia tergantung mangsanya. Serangga parasit, dapat memarasit larva atau imago serangga lain. Serangga perombak, pemakan bangkai, kotoran, dan tumbuhan mati.
Materi ketiga yang disampaikan oleh Ibu Dr. Woro Noerdjito adalah mengenal kumbang. Pada materi ini peserta mengetahui dan memahami bagian tubuh kumbang yang dapat dipakai sebagai ciri karakteristik untuk identifikasi yaitu tipe antena kumbang, bagian mulut kumbang, toraks kumbang, struktur kaki depan kumbang, tarsi kumbang, sayap kumbang, abdomen kumbang, ovipositor kumbang.
Materi keempat yang disampaikan oleh  Ibu Dr. Woro Noerdjito adalah deteksi dan identifikasi OPT buah mangga. Pada materi ini peserta mengetahui dan memahami: dengan menggunakan “Ethanolic trap CARVALHO 47”: terkoleksi coleoborers (Coleoptera: Bostrichidae, Cerambycidae, Curculionidae) pada  area kebun mangga, Mangifera indica L. (Anacardiaceae), in JosĂ© de Freitas city-PiauĂ­, from June 2004 to May 2005 (Jean Kelson da Silva Paz, Paulo Roberto Ramalho Silva 2006). Bostrichidae memiliki ciri karakteristik diantaranya sternit abdominal pertama tidak terbagi oleh koksa belakang (subordo: polyphaga). Permukaan tubuh bagian atas gundul (glabrous atau subglabrous) atau non-glabrous; tanpa rambuttampak bersisik atau sisik seperti rambut. Kepala tersembunyi di bawah toraks. Antena pendek, menggada (clubs) 2-segmen. Talsal formula 5-5-5. Larvatidak predasiuspengebor kayu hidup dan mati, pada kayu tebangan baru, pada peti kemas. Cerambycidae memiliki ciri karakteristik diantaranya sternit abdominal pertama tidak terbagi oleh koksa belakang (subordo: polyphaga).  Antena filiform  yang sangat panjang terutama pada kumbang jantan, 1 ½  sampai lebih dari 2 kali panjang tubuh. Tubuh biasanya memanjang dan silindris, 2-60 mm. Mata biasanya bertakik dan pangkal antena muncul dalam takik. Talsal formula tampak 4-4-4, sebenarnya  5-5-5 dengan segmen ke-4 kecil dan tersembunyi.  Kumbang chrysomelid mempunyai tarsal formula yang sama tetapi mempunyai antena yang lebih pendek dari panjang tubuhnya, tubuh lebih oval dan mata tidak bertakik. Beberapa spesies mempunyai warna yang menyolok, indah, dan menarik.  Kumbang dewasa sebagai pemakan nektar, pucuk daun, dan kulit kayu. Larvanya sebagai pengebor kayu lapuk, mati dan kering, dan beberapa ada yang mengebor kayu hidup. Larva ini sangat mirip dengan teka-teka atau lilen, yang mempunyai tubuh pipih. Curculionodae memiliki ciri karakteristik diantaranya sternit abdominal pertama tidak terbagi oleh koksa belakang (subordo: polyphaga).  Kepala dilengkapi dengan moncong, ada yang lebar dan pipih, beberapa spesies panjang atau pendek. Antena biasanya membesar diujung membesar elbowed dengan tiga segmen menggada club. Tubuh sering ditutupi oleh sisik, 0.6 sampai 35 mm, kebanyakan 10 mm. Tarsal formula tampak  4-4-4, ternyata 5-5-5. Semua spesies fitofag, dengan beberapa spesies hama serius, tetapi ada spesies dipergunaksn sebagai kontrol gulma (misal eceng gondok). Diketahui ada dua spesies Sternochetus (Cryptorinchus) yang berpotensi sebagai hama buah mangga yaitu Sternochetus frigidus (Fabricius 1787)  dan Sternochetus mangiferae (Fabricius 1775). Identitas Sternochetus mangiferae (mango seed weevil) diantaranya nama hama, deskripsi, kategori hama, gejala, pengendalian. Deskripsi imago, larva, telur, biologi, daur hidup, inang Sternochetus mangiferae. Survei, deteksi dan identifikasi Sternochetus mangiferae.
Materi kelima yang disampaikan oleh  Ibu Dr. Woro Noerdjito adalah A Guide for Diagnosis & Detection Of Quarantine Pests Mango Seed Weevil. Sternochetus mangiferae (Fabricius, 1775)Coleoptera: Curculionidae. Edited by: Ahmad cheraghian. Bureau of Plant Pest. Surveillance and Pest Risk Analysis 2014. Pada materi ini peserta mengetahui dan memahami: morfologi telur, larva, pupa, dan imago Sternochetus mangiferae. Tanda kerusakan pada buah, daun, pucuk oleh Sternochetus mangiferae. Penyebaran Sternochetus mangiferae. Fitosanitari Sternochetus mangiferae. Deteksi dan inspeksi Sternochetus mangiferae.
Praktikum deteksi dan identifikasi OPT pada buah mangga dengan target Mango seed weevil (Sternochetus mangiferae-penggerek biji manggadilakukan di laboratorium Entomologi Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian. Praktikum dimulai dengan arahan dari Ibu Dr. Woro Noerdjito. Pada praktikum hari tersebut, semua peserta membelah mangga yang belum dibelah yang didapatkan dari kunjungan lapang di perkebunan mangga. Hasil dari pembelahan mangga tersebut tidak didapatkan telur atau larva atau pupa atau imago dari Sternochetus mangiferae sehingga dapat dikatakan bahwa area perkebunan mangga Sukamulya Kabupaten Cirebon bebas dari Sternochetus mangiferae. Oleh sebab itu, proses identifikasi dilanjutkan  pada spesies lain dari genus Sternochetus yaitu Sternochetus frigidus. Harapannya peserta dapat mengidentifikasi sampai ke tingkat spesies dari genus Sternochetus. Sternochetus frigiduyang di identifikasi didapatkan dari hasil rearing tim uji terap Perlakuan Irradiasi Sinar Gamma terhadap Penggerek pada Buah Mangga Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina PertanianCiri karakteristik Sternochetus frigidus, sebagai berikut : pronotum dengan sisik hitam dan tegak, yang tersusun ditengah sepasang kelompok sisik yang longgar. Elitra menyempit dari dasar ke ujung, terdapat pola warna putih kecoklatan yang terpisah-pisah, terdapat lubang seperti tusukan berbentuk bulat. Aedeagus dengan sepasang internal sklerit yang ujungnya saling bertemu.
Materi dengan tema Teknik Pemantauan OPT pada buah salak dengan judul Survei OPT/OPTK disampaikan oleh  Staf Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yaitu Bapak Dr. Suputa. Pada materi ini peserta mengetahui dan memahami : tujuan kegiatan adalah survei deteksi dan survei pemantauan. Definisi pemantauan. Ruang lingkup pemantauan. Survei deteksi adalah mengetahui ada tidaknya OPT pada suatu area. Survei pemantauan adalah mengetahui karakteristik populasi OPT di suatu area. Kegunaan survei. Penentuan metode sampel. Penentuan sampel diagonal. Penentuan sampel sistematis. Penentuan sampel terpilih. Penggambaran tiga cara pengambilan contoh. Monitoring populasi. Penentuan ukuran sampel. Sikap yang perlu diambil oleh pemantau. Trapping. Pengambilan sampel lalat buah menggunakan atraktan dan rearing dari buah yang diserang. Jumlah perangkap standar. Pemasangan trapping lalat buah pada area alami. Teknik pemantauan pada inang. OPT dan non OPT Salak diantaranya Rattus tiomanicusOmotemnus serrirostrisOmotemnus minialocrinitusNodocnemis sp., Oecophylla smaragdina. Tujuh tahap pertumbuhan kutu dompolan. Klasifikasi kutu dompolan. Identifikasi kutu dompolan. Populasi kutu dompolan. Musuh alami kutu dompolan. Rearing dan pelepasan musuh alami kutu dompolan. Lalat buah pada salak. Inang utama dan inang alternative lalat buah. Rearing lalat buah. Kelebihan dan kekurangan survei pada tanaman inang. Identifikasi lalat buah dengan CABI Key. Klasifikasi lalat buah. Morfologi lalat buah. Ciri-ciri morfologi penting lalat buah Bactrocera spp. Spesies termasuk dorsalis complek atau bukan. Ciri-ciri morfologi penting lalat buah dorsalis complex. Perbedaan antara spesies. Spesies lalat buah yang telah dilaporkan telah ada di Indonesia. Identifikasi lalat buah berdasarkan DNAnya. Urutan proses mendapatkan urutan basa DNA diantaranya ekstraksi DNA akan mendapatkan genomic DNA, elektroforesis genomic DNA untuk memastikan ekstraksi DNA nya berhasil, PCR dalam rangka melipatgandakan DNA yang dikehendaki berdasar pada primer, purifikasi PCR produk untuk membersihkan DNA hasil PCR dari komponen lain, cek kualitas dan kuantitas DNA, sequencing DNA. Preservasi lalat buah tephritidae. Spesimen voucher lalat buah diletakkan dalam museum serangga.
Praktek deteksi dan identifikasi OPT pada salak dengan target lalat buah dilakukan di laboratorium entomologi Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian. Praktikum diawali dengan pengarahan dari Bapak Dr. Suputa terkait host rearing dan identifikasi lalat buah.
Host rearing dilakukan dengan cara serbuk kayu gergaji yang telah di oven pada suhu 100 0C selama 60 menit dimasukkan dalam  toples plastik. Kemudian di atas serbuk kayu gergaji tersebut di tempatkan tempat sabun plastik yang telah ditutupi kasa alumunium dan tissue gulung lalu buah salak diletakkan diatasnya. Penempatan salak di atas tempat sabun bukan langsung diatas serbuk gergaji dimaksudkan agar air yang nantinya keluar dari salak akan jatuh ke tempat sabun bukan ke serbuk gergaji sehingga serbuk gergaji tidak basah dan pupa alat buah dengan mudah ditemukan pada serbuk gergaji.
Identifkasi lalat buah dengan program CD-ROM Cabikey yang memiliki aplikasi khusus untuk mengidentifikasi lalat buah. Kunci identifkasi ini cukup mudah cara penggunaannya karena deskriptor hanya memasukkan ciri-ciri yang diminta oleh program dan program yang akan menyimpulkan nama spesies lalat buah yang sesuai dengan ciri-ciri yang dimasukkan kedalam program. Penciri utama yang harus dimasukkan ke dalam program adalah asal lalat buah (dari buah atau atraktan), sex, lokasi, jenis atraktan, ciri toraks, ciri abdomen, ciri sayap, ciri kepala, dan ciri femur.  Hasil dari identifikasi didapatkan spesies lalat buah Bactrocera carambolae dan Bactrocera papayae. Ciri karakteristik Bactrocera carambolae, sebagai berikut :spesies berukuran sedang. Muka berwarna kuning pucat dengan sepasang facial spot hitam berukuran sedang berbentuk oval. Skutum didominasi warna hitam. Terdapat warna coklat pada bagian belakang lateral postsutural vittaemesonotal suture dan pada postpronotal lobes.  Lateral postsutural vittae bertipe parallel atau subpararel, tidak memiliki medial postsutural vittae. Skutum terdapat spot kecil berwarna kuning pada anterior mesonotal suture.  Pita mesopleuron mencapai pertengahan antara notopleuron dan anterior notopleural. Sayap dengan costal band sedikit melewati R2+3 dan memanjang hingga R4+5. Sayap dengan basal costal dan costal bening. Microtrichia di hanya luar sudut costal. Abdomen terga III-V berwarna kuning kemerahan dengan pola hitam “T” yang lebar. Sudut anterolateral pada terga ke IV berbentuk persegi. Sepasang Ceromae dengan warna cerah. Tungkai terdapat spot pada preapical femur kaki depan betina. Ciri karakteristik Bactrocera papayae, sebagai berikut: sayap dengan pita hitam pada garis costa dan garis anal sangat jelas. Pita hitam pada costa confluent dengan R2+3 sedangkan pola sayap pada bagian ujung (apeks) tidak melebar. Skutum berwarna hitam dominan, mempunyai rambut supra alar disisi anterior dan pita berwarna kuning sisi lateral postural vittae. Pita kuning di sisi lateral parallel dan lebar dibelakang rambut intra alar. Abdomen terga III-V berwarna coklat orange dengan pola hitam “T”. Sepasang Ceromata oval berwarna berwarna kuning cerah pada terga V.
Materi dengan judul OPT pada buah manggis dan naga disampaikan oleh  Staf Dosen Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor yaitu Ibu Dewi Sartiami, M.Si. Pada materi ini peserta mengetahui dan memahami : spesies OPT pada buah manggis. Spesies OPT pada buah naga. Spesies kutu putih pada tanaman manggis dan tanaman naga di dunia. Biologi kutu putih. Ekologi kutu putih. Siklus hidup kutu putih. Penyebaran dan pemencaran kutu putih. Pengendalian kutu putih. Penanganan sampel dari lapangan. Berbagai fase kutu putih. Teknik rearing kutu putih pada umbi kentang dan labu kuning. Teknik deteksi kutu putih diantaranya terdapat dibagian tanaman yang tersembunyi dan berasosiasi dengan semut. Morfologi kutu putih dengan menggunakan diagram tubuh kutu putih. Imago Exallomochlus hispidus pada manggis. Imago Planococcus minor pada buah naga. Imago Pseudococcus jackbeardsleyi pada buah naga. Teknik deteksi dan identifikasi kutu putih. Serangga lain yang mirip dengan kutu putih. Pembuatan preparat sementara dengan waktu singkat untuk keperluan identifikasi membutuhkan bahan kimia, peralatan dan bahan habis pakai. Setelah pemberian materi, selanjutnya dilakukan praktikum deteksi dan identifikasi OPT pada buah manggis dan naga dengan target kutu putih. Sebelum dilakukan identifikasi kutu putih maka di lakukan pembuatan preparat. Semua peserta secara serentak mendengarkan instruksi dari narasumber dalam pembuatan preparat. Langkah-langkah pembuatan preparat sebagai berikut : sampel kutu putih dimasukkan kedalam cawan sirakus yang telah berisi larutan chloroform atau alkohol 100%. Peserta membuat lubang di toraks dorsal dengan menggunakan jarum mikro dibawah mikroskop stereo. Setelah itu ditambahkan tiga tetes essig’s fluid dan acid fuchsin. Cawan sirakus telah beirisi kutu putih di panaskan selama 20 menit pada suhu 80 oC. Dibawah mikroskop stereo dilakukan penekanan berulang dengan kuas halus sehingga isi tubuh keluar. Tahapan di ulang dengan essig’s yang baru dalam cawan sirakus lainnya. Media heinz diteteskan pada kaca obyek. Kutu putih yang telah siap dipindahkan ke heinz ini. Pada saat memindahkan sentuhkan forceps ke tissue untuk mengurangi larutan pewarna yang berlebihan. Media heinz ditutup dengan kaca penutup secara perlahan. Label dilekatkan pada kaca obyek. Kutu putih siap diidentifikasi. Identifikasi menggunakan kunci identifikasi. Apabila akan di buat sebagai preparat awetan maka preparat sementara tadi dapat diremounting dengan media Canada balsam.
Identifikasi kutu putih yang dilakukan pada praktikum ini dengan menggunakan buku identifikasi kutu putih dengan judul “Mealybugs of Southern Asia oleh DJ. Williams”. Buku tersebut, berisi hal yang terkait dengan kutu putih dan semut, morfologi, metode, klasifikasi dan definisi dari famili Pseudococcidae, daftar genus dan spesies kutu putih dari Asia Selatan, kunci genus Pseudococcidae dari Asia Selatan, taksonomi dari spesies. Spesies yang diidentifikasi diantaranya adalah Pseudococcus jackbeardsleyi, Exallomochlus hispidus, Planococcus minor. Spesies Pseudococcus jackbeardsleyi sebelum dilakukan preparasi terlihat cerrari yang ramping dan panjang. Lemak dibagian dorsal terlihat berpasang-pasangan. Ciri karakteristik Pseudococcus jackbeardsleyi, sebagai berikut: mempunyai 17 pasang cerrariOral rum tubular duct (ortd) mempunyai seta dikiri dan kanan serta terdapat satu discoidal pore. Mata tersklerotisasi dan pada daerah yang tersklerotisasi terdapat 4-9 discoidal pore. Terdapat multilocular dist pores pada segmen VI, VII, dan VIII.
Spesies Exallomochlus hispidus sebelum dilakukan preparasi, lilin terlihat besar dan pendek hal ini disebabkan cerrari yang dimilikinya besar dan kokoh. Ciri karakteristik Exallomochlus hispidus, sebagai berikut : pada bagian lobus anal tersklerotisasi tetapi tidak mempunyai seta. Bentuk lobus kokoh dan pada bagian dalam terdapat penebalan. Cincin anal terletak jauh atau terdapat jarak dari tepi posterior. Seta dorsal berukuran besar. Bentuk seta oval cenderung bulat. Sirkulus terpotong oleh garis intersegmental pada ruas tiga dan empat. Terdapat delapan belas pasang cerrari. Ciri karakteristik Planococcus minor, sebagai berikut: pada lobus anal terdapat garis/penebalan. Pada pangkal koksa tungkai satu terdapat multilocular disc poresMultilocular disc pores sampai kebagian tepi tubuh. Bentuk sirkulus rectangularTranslucent porester terdapat dibagian loka dan tibia tungkai tiga.
Untuk mengetahui evaluasi secara keseluruhan dari kegiatan Bimbingan Teknis Pemantauan Daerah Sebar Organisme Pengganggu Tumbuhan maka dilakukan diskusi dengan peserta. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan saran, pernyataan, pertanyaan, pengalaman yang terkait dengan kegiatan pemantauan di masing-masing Unit Pelaksana Teknis.



No comments:

Post a Comment