Follow Us @soratemplates

Friday, 25 May 2018

Kajian Berbagai Macam Metode Pengendalian Gulma


Kajian Berbagai Macam Metode Pengendalian Gulma

Salbiah
Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian


Latar Belakang
Pada saat kita menanam tanaman, sering kali tumbuhan yang kita tanam diikuti dengan tumbuhnya rerumputan atau gulma. Gulma merupakan tumbuhan yang berasal dari spesies liar yang telah lama menyesuaikan diri dengan  perubahan lingkungan atau spesies baru yang telah berkembang sejak adanya pertanian (Gunawan, 2013). Gulma merupakan tumbuhan yang keberadaannya tidak dikehendaki manusia karena tumbuh di tempat yang tidak diinginkan dan mempunyai pengaruh negatif terhadap manusia baik secara langsung ataupun tidak langsung. Meskipun gulma tidak mengakibatkan kematian akan tetapi keberadaan gulma tidak dikehendaki karena gulma mempunyai daya kompetisi yang tinggi (ruang, air, udara, unsur hara) terhadap tanaman yang dibudidayakan, sehingga mengganggu pertumbuhan dan menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen tanaman budidaya sehingga hasil produksi tanaman tidak memuaskan (Nasution, 1986).
Tanaman budidaya yang tumbuh secara liar di lahan produksi yang diperuntukkan untuk jenis tanaman lainnya juga digolongkan sebagai gulma. Gulma dapat dikatakan sebagai tumbuhan liar yang dapat berkembang biak secara vegetative atau generative (Sukman dan Yakub, 1991). Sifat gulma umumnya mudah beradaptasi dengan lingkungan yang berubah di bandingkan dengan tanaman budidaya (Tjitrosoedirdjo et al, 11984). Kompetisi antara gulma dan tanaman dapat berupa kompetisi antara tajuk dalam memanfaatkan cahaya matahari  dan/atau kompetisi antara sistem perakarannya dalam memanfaatkan air dan unsur hara (Barus, 2003). Dengan demilkian apa saja selain yang termasuk tanaman budidaya, dapat dipandang sebagai gulma apabila tumbuh pada tempat yang tidak di inginkan. Tumbuhan yang lebih lazim sebagai gulma biasanya cenderung mempunyai sifat-sifat atau ciri khas tertentu yang memungkinkanya untuk mudah tersebar luas dan mampu menimbulkan kerugian dan gangguan (Anderson, 1977). Oleh sebab itu, banyak kerugian yang diakibatkan oleh gulma.
Berikut beberapa kerugian yang di akibatkan oleh gulma :
  • Menurunkan hasil tanaman (kuantitas dan kualitas produk) melalui persaingan: air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh sehingga terjadi kompetisi dalam dimensi ruang dan waktu. Contohnya Paspalum conjugatum Berg., Axonopus compressus (Swartz) Beauv., dan Digitaria adscendens (H.B.K.) Henr. mengakibatkan 85 % bibit karet tidak layak untuk diokulasi karena lilit batangnya tertekan (Nasution, 1986). Produksi lateks selama enam tahun pertama setelah penyadapan menurun secara nyata pada lahan yang ditumbuhi gulma (Nasution,1986). 
  • Menghambat/menekan pertumbuhan bahkan meracuni tanaman budidaya dengan mengeluarkan zat alelopat. Beberapa contoh gulma yang mampu menghambat pertumbuhan tanaman lain, misalnya sembung rambat (Mikania sp.) mengeluarkan zat ekskresi  (fenol dan flavon) sehingga tertekannya pertumbuhan karet (Nasution, 1986).
  • Mempersulit pemeliharaan tanaman seperti pemupukan, pengairan dan penggemburan tanah, serta pengendalian OPT.  Menghambat aliran air dan merusak saluran pengairan. Mengurangi persediaan air di waduk karena adanya proses transpirasi. Mengurangi kapasitas air di saluran pengairan dan tempat penampungan (sungai, selokan, waduk, dam, embung, kolam dan sebagainya) akibat sedimentasi. Mengganggu dan mempersulit aktivitas manusia dalam budidaya tanaman sejak pratanam sampai pascapanen.
  • Gulma sebagai inang pengganti bagi serangga hama dan patogen penyakit. Di antara musim pertanaman, gulma tersebut bertindak sebagai tumbuhan inang serangga yang menjamin adanya serangga pada musim tanam berikutnya. Misalnya Lersia hexandra dan Cynodon dactylon merupakan tanaman inang hama ganjur pada padi.
  • Menimbulkan ganguan kesehatan. Tepungsari beberapa spesies gulma menyebabkan alergi dan beberapa spesies menyebabkan peradangan kulit. Beberapa spesies gulma yang tepungsarinya menyebabkan alergi, antara lain Cynodon dactylon, Eleusine indica, Imperata cylindrica, Amarantus spinosus, Tridax procumbens, Mimosa pudica, dan Cyperus rotundus.
  • Kompetisi terhadap tanaman budidaya.
  • Menambah biaya pengendalian
  • Menurunkan kualitas hasil tanaman.
  • Menurunkan kualitas ternak.
  • Meningkatkan biaya produksi dan biaya pengolahan, misalnya menambah tenaga dan waktu dalam pengerjaan tanah, penyiangan, perbaikan selokan dari gulma yang menyumbat air irigasi.
  • Menurunkan nilai keindahan taman.
  • Pengotoran kualitas produksi pertanian, misalnya kontaminasi benih oleh biji-biji gulma.
  • Gangguan kelancaran pekerjaan para petani, misalnya adanya duri-duri Amaranthus spinosus, Mimosa spinosa di antara tanaman yang diusahakan.
  • Gulma air mengurangi efisiensi sistem irigasi, yang paling mengganggu dan tersebar luas ialah eceng gondok (Eichhornia crassipes). Terjadi pemborosan air karena penguapan dan juga mengurangi aliran air. Kehilangan air oleh penguapan itu 7,8 kali lebih banyak dibandingkan dengan air terbuka. Di Rawa Pening gulma air dapat menimbulkan pulau terapung yang mengganggu penetrasi sinar matahari ke permukaan air, mengurangi zat oksigen dalam air dan menurunkan produktivitas air. (Moenandir, 1988).
Dengan banyaknya kerugian yang di akibatkan oleh gulma maka perlu dilakukan tindakan pengendalian gulma untuk mencegah masuknya gulma, menekan pertumbuhan gulma dan mengurangi populasi gulma.

Tujuan
Kajian ini bertujuan memberikan informasi kepada pembaca tentang berbagai macam metode pengendalian gulma.

Kajian
  Misi Badan Karantina Pertanian adalah melindungi kelestarian Sumber Daya Alam Hayati Tumbuhan dari serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina dan Jenis Asing Invasif. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 93 Tahun 2011 terdapat 58 spesies gulma yang tergolong dalam Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) A1. Sehingga perlu dilakukan tindakan pencegahan masuknya gulma ke dalam wilayah Republik Indonesia karena peran petugas karantina adalah mencegah masuknya OPTK.
Usaha manusia untuk mengatasi kehadiran gulma pada lahan budidaya dapat berupa pemberantasan atau pengendalian, tergantung dari tujuan, jenis tanaman budidaya, kondisi lapangan, dan biaya. Keberadaan gulma sebenarnya masih diperlukan karena termasuk dalam rantai ekosistem pertanian, sehingga usaha pengendalian dapat dilaksanakan apabila memang sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, metode pengendalian gulma selain mempertimbangkan efisiensi dan nilai tambah, juga harus mempertimbangkan kelestarian lingkungan sekitar. Tanaman budidaya walaupun syarat tumbuhnya terpenuhi apabila mendapatkan gangguan akan mengalami kerusakan akibat hasilnya menurun bahkan dapat gagal panen.
Pengendalian gulma dimaksudkan untuk menekan pertumbuhan gulma dan mengurangi populasi gulma sehingga penurunan hasil yang diakibatkannya secara ekonomi menjadi tidak berarti. Cara pengendalian gulma berbeda dengan cara pengendalian hama dan penyakit tanaman pada umumnya (Direktorat jenderal perkebunan, 1983). Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara dimulai dengan tindakan pencegahan sampai dengan mempraktekkan pengendalian terpadu.  Disamping itu, upaya menjaga agar populasi gulma tidak melampaui ambang ekonomi, perlu didukung oleh kesadaran, pengamatan dan pendidikan para pelaku usaha tani (Rukmana, 1999).
Berikut beberapa pengendalian gulma yang dapat dilakukan:
1.   Pencegahan (Weed Prevention) adalah usaha untuk mencegah masuk, berkembangbiak dan menyebarnya gulma. Usaha pencegahan lebih baik daripada perawatan. Oleh karena itu, sedini mungkin harus menjaga benih yang akan ditanam sebersih mungkin dan bebas dari kontaminasi biji gulma. Beberapa usaha pencegahan, sebagai berikut :
  •  Menggunakan benih bebas gulma, benih murni, benih berlabel, dan benih bersertifikat.
  • Pencegahan penyebaran struktur vegetatif gulma tahunan  dan musiman.
  • Membersihkan alat-alat pertanian setelah digunakan.
  • Menyaring air pertanian agar tidak membawa biji gulma.
  • Lahan pertanian harus di monitoring secara berkala untuk mengidentifikasi gulma baru.
  • Tidak mengimpor gulma atau biji gulma untuk pakan ternak.
  • Irigasi yang bersih  sebelum masuk ke lahan pertanian.
  • Mengisolasi terhadap pemasukan hewan hidup selama beberapa hari untuk pencegahan biji gulma tersebar melalui kotoran ternak.
  • Pemeriksaan dan pembersihan impor batu-batuan, pasir dan tanah.
  • Edukasi tentang  gulma.
  • Apabila ada gulma teridentifikasi pada bahan kiriman, maka benih gulma harus dilakukan perlakuan.
  • Sosialisasi tentang jenis asing invasif.
  • Perundang-undangan yang mengharuskan penjualan benih bebas gulma.
2.  Secara fisik mekanik merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cara merusak bagian-bagian gulma sehingga pertumbuhannya menjadi terhambat dan akhirnya mati. Teknik pengendalian mekanis hanya mengandalkan kekuatan fisik atau mekanik. Dalam praktek dilakukan secara tradisional dengan tangan, dengan alat sederhana sampai penggunaan alat berat yang lebih modern. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih peralatan untuk digunakan dalam pengendalian gulma adalah sistem perakaran, umur tanaman, kedalaman dan penyebaran sistem perakaran, umur dan luas infestasi, tipe tanah, topografi, serta kondisi cuaca/iklim (Nanda Oktara, 2013). Beberapa usaha pengendalian secara fisik mekanis, sebagai berikut :
-       Pencabutan dengan tangan atau disebut penyiangan dengan tangan (hand pulling atau hand weeding). Cara semacam ini sangat praktis, efisien, dan terutama murah jika diterapkan pada suatu area yang tidak luas. Penyiangan yang tepat biasanya dilakukan pada saat pertumbuhan aktif dari gulma. Penundaan sampai gulma berbunga mungkin tidak hanya gagal membongkar akar gulma secara maksimum tetapi juga gagal mencegah tumbuhnya biji-biji gulma yang viable sehingga member kesempatan untuk perkembangbiakan dan penyebarannya (Nanda Oktara, 2013).  Pencabutan dengan tangan ditujukan pada gulma annual (semusim) dan biennial (dua musim). Untuk gulma perennial pencabutan semacam ini mengakibatkan\terpotong dan tertinggalnya bagian di dalam tanah yang akhirnya kecambah baru dapat tumbuh. Pencabutan bagi jenis gulma yang terakhir ini menjadi berulang-ulang dan pekerjaan menjadi tidak efektif. Pada taman, cara pencabutan akan berhasil dengan baik bila diberi air sampai basah benar, sehingga memudahkan pencabutan. Pelaksanaan pencabutan terbaik adalah pada saat sebelum pembentukan biji. 
-       Menggunakan alat bajak tangan, alat semacam ini dinamakan most satisfactorily meets the weeds. Alat ini sangat berguna sebagai alat tambahan pengolah tanah dalam penyiangan di segala jenis barisan pertanaman. Jenis gulma perennial yang persisten dapat pula diberantas dengan alat ini. Dalam tiga sampai empat bulan pertama pembajakan dengan interval sepuluh harian dianjurkan pelaksanaannya. Alat ini juga sangat praktis dilaksanakan pada tempat yang tak dapat dijangkau dengan alat berat maupun  herbisida.
-     Pengendalian gulma dengan cara dikored adalah dengan menggunakan alat berupa kored dan sangat praktis dilakukan pada tempat yang tidak dapat terjangkau dengan alat berat maupun herbisida terutama di antara barisan tanaman atau pada bedengan. Pengendalian gulma dengan cara ini juga hanya efektif pada jenis gulma semusim/setahun dan dua tahunan dan tidak efektif pada jenis gulma tahunan yang mempunyai organ perbanyakan vegetatif. Pengkoredan jenis gulma tersebut hanya memotong bagian gulma yang ada di atas tanah saja sehingga organ perbanyakan vegetatif gulma yang berada di dalam tanah dapat tumbuh kembali di lahan tersebut.
-    Pengendalian gulma dengan cara dipotong dengan sabit maupun dengan mesin pemotong rumput. Pengendalian ini hanya bersifat untuk merapikan tumbuhnya gulma terutama pada taman atau halaman. Pengendalian gulma dengan cara ini harus dilakukan secara berulang-ulang dengan interval minimal sebulan sekali terutama pada musim penghujan. Apabila pengendalian dengan cara ini dilakukan pada lahan pertanian kurang efektif dan dapat mengakibatkan tanaman budidaya ikut terpotong bersama gulmanya.
-       Pengendalian gulma dengan cara dicangkul atau di bajak merupakan suatu usaha pengendalian yang cukup praktis pada jenis gulma semusim/setahun, dua tahunan dan tahunan. Pengendalian gulma dengan cara dicangkul atau dibajak dapat dilakukan pada saat pengolahan tanah dan pada saat lahan sudah ada tanaman budidayanya dapat dilakukan dengan cara penyiangan menggunakan cangkul saja. Pengendalian gulma jenis semusim/setahun dengan cara dicangkul atau dibajak ini cukup dengan merusak/mencangkul bagian gulma yang berada di atas tanam saja. Sedangkan untuk jenis gulma dua tahunan dapat dilakukan dengan merusak/mencangkul bagian gulma yang ada di atas tanah dan mahkotanya. Jenis gulma tahunan dapat dilakukan dengan merusak/mencangkul bagian gulma yang berada di atas tanah maupun di bawah tanah. 
-    Pengolahan tanah (soil tillage) adalah suatu usaha yang pada prinsipnya melepaskan ikatan antara gulma dengan media tempat tumbuhnya. Efektivitas  pengolahan tanah dalam pengendalian gulma tergantung beberapa faktor seperti siklus hidup gulma dan tanaman yang dibudidayakan, dalam dan penyebaran perakaran, lama dan luasnya infestasi, macam tanaman yang dibudidayakan, jenis tanah, topografi dan iklim (Nanda Oktara, 2013). Pengaruh tidak langsung dari pengolahan tanah terhadap perkembangan gulma adalah terangkatnya deposit biji gulma yang ada di dalam tanah. Pengolahan tanah dapat dilakukan untuk mengendalikan gulma annual, biennial, perennial. Dalam pengendalian gulma annual cukup dibajak dangkal saja. Dengan cara ini gulma tersebut hanya dirusakkan bagian yang ada di bagian atas permukaan tanah. Sedang untuk tipe biennal bagian yang dirusak adalah bagian atas dan mahkotanya dan bagi perennial kedua bagian di bawah dan di atas tanah dirusakkan. Kebanyakan gulma annual dapat dikendalikan hanya dengan sekali pemberoan. Bila tanah banyak mengandung biji gulma yang viabel, maka perlu diikuti tahun kedua dengan pertanaman barisan dan pengolahan yang bersih untuk mencegah pembentukan biji. Sedangkan untuk gulma perennial, pemberoan semusim belum cukup. Sebaiknya perlakuan digabung dengan penggunaan herbisida dan pengolahan yang bersih. Metode ini cukup memadai dan beragam dengan spesies gulma, usia infestasi dan sifat tanah, kesuburan serta kedalaman air tanah. Gulma perennial yang berakar dangkal sekali pembajakan cukup dapat mereduser, dengan “membawa” akar ke  atas dan dikeringkan. Pembajakan di atas akan menekan pembentukan dan tunas baru. Untuk gulma perennial berakar dalam pembajakan berulangkali dan pada interval teratur akan menguarangi perkembangannya. Perlakuan ini akan menguras cadangan pangan dalam akar dengan berulangkali merusak bagian atas. Pada tanah ringan dan kurang subur perlakuan tersebut sangat berhasil. Dari pengolahan tanah dapat disimpukan bahwa penimbunan titik tumbuh gulma dan mengganggu sistem perakaran dengan pemotongan akar dapat membuat gulma mati, karena potongan-potongan akar dapat mengering sebelum pulih kembali.
-     Pembakaran (burning) dilakukan karena dapat mengkoagulasikan protoplasma gulma yang berasal dari suhu tinggi sehingga bagian gulma tersebut akan mati dan mengurangi enzim (Teguh Yuono, 2013). Suhu kritis yang menyebabkan kematian (termodeash point) pada sel tanaman adalah 45– 55 oC, tetapi biji yang kering lebih tahan daripada tumbuhan yang hidup (Nanda Oktara, 2013). Api atau uap panas sehubungan dengan pengendalian gulma mempunyai tujuan untuk menghancurkan bagian atas gulma yang telah tua atau terpotong oleh alat lain (api) pada tempat berbatu atau jalan kereta api, uap panas dan hembusan api dapat dikerjakan lebih praktis, pada barisan tanaman kapas biji gulma yang berkecambah dapat dibasmi oleh hembusan api, yang dikerjakan berulang kali sejak batang tanaman bergaris tengah kurang lebih 0,5 cm, panas sering untuk membasmi biji yang terpendam (gulma perennial).
Pembakaran lebih sering diaplikasikan untuk menghilangkan sampah bekas tanaman daripada sebagai cara pengendalian. Hanya sebagian kecil biji gulma dapat selamat, apabila masuk dalam celah-celah tanah, ikut “drift” dari angin atau aliran air. Di lain pihak, api dapat memacu perkecambahan biji gulma tertentu yang tertimbun tanah sangat dangkal. Meskipun pembakaran gulma tua tidak begitu memadai, namun dapat membantu dalam hal menghindari bahaya kebakaran, membersihkan aliran air, membunuh hama dan penyakit yang bersarang pada gulma dari sisa bajakan atau potongan, dan menghilangkan sampah itu sendiri.
3. Secara kultur teknis merupakan pengendalian gulma dengan cara memodifikasikan lingkungan yang mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi baik dan pertumbuhan gulma menjadi buruk. Pada prinsipnya merupakan cara pengendalian dengan memanfaatkan lingkungan untuk menekan perkembangan gulma (Anonim, 2008). Misalnya mengubah kedudukan air dan nutrisi dalam tanah saat tertentu (pada saat ada atau tiada tanaman yang tumbuh pada suatu lahan), dengan cara pemberoan setelah suatu tanaman dipanen. Beberapa usaha pengendalian secara kultur teknis, sebagai berikut :
-    Penggenangan (flooding)  dilakukan dengan maksud akan menghambat respirasi dan metabolisme gulma dalam menyerap oksigen dari udara. Metabolisme yang terhambat lambat laun akan menyebabkan penurunan populasi gulma karena sebagian besar gulma tidak berkecambah pada kondisi anaerob (Teguh Yuono, 2013). Pada umumnya metode penggenangan berhasil untuk gulma darat dan perennial (gulma tahunan). Penggenangan dibatasi dengan pematang, dengan tinggi kurang lebih 15-25 cm selama 3-8 minggu. Sebelumnya dibajak dilakukan perendaman hingga semua bagian gulma terendam. Gulma perennial dan tumbuh dengan padi sawah pada umumnya diberantas dengan cara ini dan sangat berhasil pada tanah ringan, sedang pada tanah keras dianjurkan.
-      Pemberian mulsa (mulching) dilakukan untuk menghalangi sampainya cahaya matahari pada gulma dan menghalangi pertumbuhan bagian atas, dengan ditutupkannya mulsa diatas permukaan tanah maka akan mempengaruhi proses perkecambahan biji dan pertumbuhan gulma akan terhambat. Gulma perennial menghendaki selapis tebal jerami, namun gulma yang mempunyai pertumbuhan vegetatif indertiminite kurang sesuai dengan perlakuan ini. Tetapi perlakuan mulsa dengan jerami, dan lain-lain, hanya dipergunakan dalam ukuran kecil saja.
-  Pengaturan jarak tanam akan mempengaruhi intensitas sinar matahari untuk mencapai bagian mempengaruhi fotosintesis pada tanaman, termasuk gulma. Jarak tanaman yang terlalu rapat akan mampu menekan gulma, tetapi akan mempengaruhi produksi untuk tanaman tertentu, begitu pula sebaliknya.
-  Pergiliran tanaman (rotasi tanaman) merupakan pengendalian rotasi tanaman sangat efektif bila dilakukan terhadap gulma yang tidak tahan penaungan. Pergiliran tanaman akan memungkinkan lahan tertutup sepanjang musim, sehingga peluang munculnya keragaman gulma mejadi berkurang.
-      Pengendalian dengan kompetisi gulma sehingga gulma satu dapat menekan populasi gulma lainnya.
-       Pengendalian dengan waktu tanam dan populasi.
-       Pengendalian dengan tanaman penutup (cover crops).
-       Pengendalian dengan cara manipulasi kesuburan tanah.
-       Pengendalian dengan tanaman resisten seperti kapas dan kedelai tahan herbisida.
4.  Secara biologi merupakan pengendalian dengan menggunakan organisme hidup (tumbuhan, serangga dan binatang darat maupun air). Agen pengendali hayati gulma yang paling sering digunakan adalah serangga herbivora. Serangga herbivora dapat mengendalikan gulma dengan cara memakan/merusak  berbagai bagian tanaman gulma dengan cara melubangi batang atau akar tanaman gulma, serangga herbivora dapat pula mengendalikan gulma dengan jalan mentransmisikan penyakit (patogen) tanaman, serangga herbivora yang digunakan sebagai agen pengendali hayati harus spesifik, sehingga hanya menekan populasi gulma tanpa berpengaruh buruk terhadap tanaman yang berguna. Beberapa usaha pengendalian secara biologi sebagai berikut :
- Pengendalian hayati kaktus Opuntia inermis dan Opuntia stricta dengan menggunakan ngengat Cactoblastis cactorum di Australia sekitar tahun 1926-1935 adalah satu di antara beberapa keberhasilan pengendalian hayati gulma dengan serangga yang sangat spektakuler.
-    Gulma air Salvinia molesta  Mitchell  dapat dikendalikan dengan kumbang Cyrtobagous salviniae Calder.
-       Pengendalian eceng gondok menggunakan kumbang.
-       Pengendalian kiambang dengan kumbang.
-       Pengendalian gulma jejagoan dengan menggunakan boipestisida.
-       Pengendalian Cromolaena odorata menggunakan bakteri layu.
5.    Secara kimia merupakan pengendalian dengan pemberian zat-zat kimia tertentu pada gulma yang dimana zat-zat tersebut bersifat racun/toxin yang data merusak jaringan tanaman/gulma. Metode ini adalah metode yang paling efektif untuk mengendalikan gulma, tetapi kurang ramah terhadap lingkungan. Hal ini dikarenakan gulma memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat. Secara generative banyak gulma yang bijinya memiliki masa dormansi yang sangat panjang, yaitu bisa mencapai 30 tahun. Begitu pun dengan perkembangbiakannya secara generative, seperti terjadi pada Cyperus rotundus yang apabila akarnya terpotong dan akar yang terpotong tersebut memiliki mata tunas maka jumlahnya akan semakin banyak dan tak terkendali.
Apabila pengendalian gulma dilakukan secara mekanis sudah pasti tentunya banyak membutuhkan waktu dan tenaga sehingga biaya usaha tani dapat bertambah. Pengorbanan ekonomi yang besar tentu tidak diharapkan oleh setiap petani. Salah satu solusi untuk menangani permasalahan pengendalian gulma tersebut, pengendalian secara kimiawi-lah salah satu cara yang paling mudah dan cepat dalam pengaplikasiannya.
Metode pengendalian sudah ini begitu dikenal oleh masyarakat, yaitu dengan menggunakan herbisida. Herbisida adalah salah satu jenis pestisida yang merupakan bahan yang mengandung senyawa kimia beracun dan digunakan untuk mematikan tanaman pengganggu/gulma (Purba, 2009). Herbisdida ada yang diaplikasikan secara Pre-emergence herbicide, Emergence herbiside dan Post-emergence herbicide. Ada yang bersifat kontak dan ada juga yang sistemik. Ada pula herbisida yang selektif dan ada juga yang non-selektif.
6.   Pengendalian terpadu adalah penggunaan lebih dari satu atau seluruh metoda pengendalian yang sesuai untuk menekan pertumbuhan gulma. Kekurangan dari satu metoda dapat diisi oleh metoda lain sehingga dapat memadukan berbagai teknik pengendalian menjadi kesatuan pengolahan (Tarigan dkk, 1987). Pengendalian ini dilakukan akibat parahnya penekanan gulma pada pertumbuhan membuat para petani berusaha dengan sunguh-sunguh dalam menanganinya. Suatu pengendalian gulma yagn efektif melibatkan beberapa cara dalam waktu yang berurutan dalam suatu musim tanam. Misalnya saja, satu jenis spesies pertanaman kurang mampu menekan pertumbuhan gulma, pengendalian secara mekanik sendiri tidak sempurna dalam mengatasi gulma tertentu. Maka timbul pemikiran bahwa paduan antara beberapa cara pengendalian dalam satu musim tanam diharapkan dapat mengatasi masalahnya. Seperti perpaduan antara pengendalian secara mekanik diteruskan dengan pemberian herbisida pasca tumbuh, penggunaan herbisida pra-tumbuh dan lain lagi perpaduan yang sekiranya dapat menekan infestasi gulma yang sulit untuk dibasmi. Penentuan keputusan pelaksanaan pengendalian secara terpadu sangat penting dalam keberhasilannya. Apakah perpaduan cara pengendalian itu menguntungkan atau tidak. Kombinasi dalam perpaduan yang tepat akan memberikan hasil yang maksimal dalam pengendalian gulma.

Kesimpulan
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai metode diantaranya pencegahan, pengendalian secara fisik mekanis, kultur teknia, biologi, dan pengendalian terpadu.

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, W. P. 1977. Weeds Sains : Principle. West Publishing company. New York.
Aska, Putry. 2013. httpaskaputry.blogspot.com (di unggah pada tanggal 15 September 2013).
Barus, Emanuel. 2003. Pengendalian Gulma Di Perkebunan. Kanisius. Yogyakarta.
Dana. 2013. httpdanahauses.blogspot.com201306bercocok-tanam-dengan-menggunakan-mulsa.html (di unggah pada tanggal 15 September 2013).
Direktorat jenderal Perkebunan. 1983. Gulma dan cara pengendalian pada budidaya perkebunan. Departemen Pertanian. Jakarta.
Elda, Nurnasari. 2013. httpwww.chem-is-try.orgauthornieldha (di unggah pada tanggal 15 September 2013).      
Indonesia Tanah Subur. 2012. Httpindonesiatanahsubur.blogspot.com2012_01_html (di unggah pada tanggal 1 Oktober 2013).
Moenandir, Jody. 1988. Pengantar Ilmu Gulma dan Pengendalian Gulma. Rajawali Press. Jakarta.
            Gulma-secara-mekanisasi (di unggah pada tanggal 2 Oktober 2013).
Nasution, U. 1986. Gulma dan pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Tanjung Morawa.
Purba, Edison. 2009. Keanekaragaman Herbisida Dalam Pengandalian Gulma Mengatasi Populasi Gulma dan Toleran Herbisida. Jurnal USU.
Rukmana, Rahmat, Suganda Saputra. 1999. Gulma dan Tehnik Pengendalian. Kanisius. Yogyakarta.
Saung Sumber Jambe. 2012. Httpsaungsumberjambe.blogspot.com2012penangana
            n-pasca-panen-padi-1.html (di unggah pada tanggal 2 Oktober 2012).
Sukman, Y. dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Pers. Jakarta.
Syekh, Fanis. 2013. httpsyekhfanismd.lecture.ub.ac.id201306soil-reklamasi-lahan-berombak (di unggah pada tanggal 2 Oktober 2013).
Tarigan, M. U., G. Sinuraya dan E. Purba., 1987. Ilmu Gulma dan Pengelolaan. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.
Teguh Yuono. 2013. http://detiktani.blogspot.com/2013/06/pengendalian-gulma-secara-fisik.html (di unggah pada tanggal 3 Oktober 2013).
Tjitrosoedirdjo, S., Is H. U. dan Joedojono W. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Gramedia. Jakarta.
Triharso. 1994. Dasar – Dasar Perlindungan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.
Zack, Supriadi. 2013. httpzacksupriadi.blogspot.com2013_08_01_archive.html (di unggah pada tanggal 2 Oktober 2013).

           

                     



No comments:

Post a Comment