Follow Us @soratemplates

Thursday, 31 May 2018

Cara Praktis Pengendalian Kecoa di Lingkungan Perumahan

10:33:00 0 Comments

Cara  Praktis Pengendalian Kecoa di Lingkungan Perumahan

Salbiah*, Dede Risanda, Intan Wiji Ekawati, Yusnanto Dwi Nurcahyo, Dede Suryadi

Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
*Korespondensi. Email :bombyx_mori08@yahoo.com
         

ABSTRAK
Kecoa dapat berasosiasi dengan berbagai patogen seperti bakteri, cendawan, protozoa, dan virus. Kecoa juga dapat menimbulkan alergi pada manusia. Bertolak dari permasalahan yang ditimbulkan maka diperlukan pengembangan metode pengendalian kecoa yang memadukan antara cara aplikasi dan formulasi umpan beracun sehingga dapat meminimalisir risiko yang ditimbulkan. Tujuan yang ingin dicapai adalah membuat suatu pengembangan metode pengendalian kecoa sehingga didapatkan pengendalian yang tepat, efisien, dan ramah lingkungan. Pada pengujian perangkap di lingkungan perumahan, perangkap yang di ujikan merupakan perangkap yang sudah terbukti efektif memerangkap kecoa pada pengujian di arena pengujian. Perangkap tersebut di letakkan pada ruang-ruang dalam rumah yaitu sekitar kamar mandi, dapur, dan ruang makan. Pengamatan terhadap perangkap tersebut dilakukan setelah 24 jam kemudian dihitung jumlah kecoa yang terperangkap dan mati dalam perangkap. Perangkap yang paling banyak ditemukan kecoa yang mati diasumsikan merupakan perangkap yang paling efektif untuk mengendalikan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari tiga lokasi pengamatan yang diujikan, ternyata lokasi pengamatan yang paling banyak memerangkap kecoa adalah dikamar mandi (Gambar 17). Pada lokasi kamar mandi, kecoa yang terperangkap berjumlah 10 ekor, sedangkan dapur dan ruan makan jumlah kecoa yang terperangkap sebanyak 5 dan 3 ekor. Hal ini disebabkan pada kamar mandi suhu dan kelembabannya sesuai untuk habitat kecoa yaitu berkisar antara oC dan %. Jumlah kecoa yang terperangkap pada perangkap ternyata sesuai dengan jumlah kecoa yang terperangkap pada pendugaan populasi kecoa dengan  sticky trap yaitu sebanyak 7 ekor kecoa. Oleh sebab itu, perangkap ini dapat dikatakan efektif untuk memerangkap kecoa. Spesies kecoa yang ditemukan di tiga puluh rumah tinggal  adalah P. americana. Pada pengujian preferensi umpan didapatkan bahwa selai kacang tanah merupakan selai yang paling dipilih kecoa baik pengujian di rumah maupun di laboratorium. Pada pengujian toksisitas insektisida didapatkan bahwa mortalitas P. americana tertinggi disebabkan dari ekstrak A. squamosa dengan konsentrasi 1%. Sedangkan pada pengujian keefektifan perangkap di arena pengujian, jenis bahan perangkap yang paling di pilih kecoa adalah jenis bahan dari stirofom yang dikombinasikan dengan umpan yang berinsektisida dan di beri lem tikus.

PENDAHULUAN
         Banyak orang beranggapan bahwa kecoa merupakan serangga yang menjijikan karena  sering berasosiasi dengan sanitasi yang buruk dan standar hidup yang rendah. Kecoa sering mengkontaminasi bahan-bahan makanan dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Kerusakan pada bahan makanan lebih disebabkan oleh kontaminasi yang ditimbulkannya dari pada susut karena di konsumsi.
Kecoa  dilaporkan dapat berasosiasi dengan berbagai patogen seperti bakteri, cendawan, protozoa, dan virus. Kecoa juga dapat menimbulkan alergi pada manusia. Alergi ini disebabkan oleh eksuvia, feses, hemolimfa, dan enzim pencernaan  yang dikeluarkan kecoa. Selain itu,  feses kecoa merupakan perangsang asma yang paling kuat. Alergi pada anak-anak yang berpenyakit asma sensivitasnya dapat mencapai 79%  (Bell & Adiyodi 1982).
Berbagai upaya  pengendalian kecoa terus dilakukan dan dikembangkan. Pengendalian kecoa di lingkungan permukiman dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti sanitasi lingkungan rumah, penggunaan perangkap berperekat, penyemprotan, dan pengasapan. Akan tetapi cara-cara pengendalian ini banyak menimbulkan dampak negatif.
Sanitasi lingkungan rumah harus dilakukan secara berkala dan memerlukan konsistensi dari penghuni rumah. Hal inilah yang sering diabaikan, pengabaian ini karena banyak faktor, salah satunya adalah padatnya aktivitas di luar rumah. Untuk mengatasi hal ini, orang lebih banyak melakukan aplikasi insektisida seperti penyemprotan dan  pengasapan ke tempat-tempat yang diduga menjadi tempat hidup kecoa.
Bertolak dari permasalahan yang ditimbulkan maka diperlukan pengembangan metode pengendalian kecoa yang memadukan antara cara aplikasi dan formulasi umpan beracun sehingga dapat meminimalisir risiko yang ditimbulkan. Salah satu cara pengendalian kecoa yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan perangkap yang didalamnya terdapat formulasi umpan beracun. Penggunaan perangkap diharapkan dapat digunakan sebagai pengganti dari berbagai cara aplikasi yang saat ini kurang tepat. Sedangkan insektisida yang digunakan bisa  berasal dari senyawa aktif tumbuhan yang relatif aman terhadap manusia.

BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan di Lingkungan Perumahan di daerah Darmaga Bogor,  Laboratorium R&D Syngenta Cikampek Kabupaten Karawang, Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga, dan ruang staf, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Sejak bulan Januari-Juni 2007.

Uji Preferensi Umpan
Preferensi kecoa terhadap umpan di rumah tinggal
Persiapan umpan
           Setiap jenis umpan ditimbang seberat dua gram lalu diletakkan pada kotak-kotak plastik yang telah dibagi menjadi enam kuadran. Masing-masing kuadran berisi satu jenis umpan.
Penempatan umpan
Kotak-kotak umpan diletakkan di 30 rumah tinggal di lingkungan perumahan di daerah Darmaga Bogor. Kriteria rumah tinggal yang dijadikan lokasi penelitian  adalah rumah yang memiliki ruang makan, dapur, dan kamar mandi. Pada masing-masing ruangan itu diletakkan satu kotak umpan.
Pengamatan dilakukan setelah 24 jam kemudian kotak-kotak umpan tersebut dibawa ke laboratorium untuk diamati jumlah umpan yang dikonsumsinya. Jumlah umpan yang dikonsumsi dihitung berdasarkan selisih berat kering awal dan berat kering akhir. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kesalahan perhitungan karena adanya penambahan kadar air pada umpan tersebut. Penentuan berat kering dilakukan dengan cara memasukkan masing-masing jenis umpan kedalam oven dengan suhu 105 oC selama dua jam.
Sesaat sebelum pengambilan kotak-kotak umpan dilakukan pengukuran suhu dan kelembaban relatif pada masing-masing ruangan. Selain itu, dilakukan juga penilaian kondisi sanitasi tiap ruangan. Penilaian kondisi sanitasi dilakukan dengan menggunakan skor seperti pada tabel 1 :
Tabel 1 Skor tingkat sanitasi rumah tinggal dilokasi pengamatan
Skor
Tingkat Sanitasi
1
Kotor
2
Sedang
3
Bersih


Pengamatan populasi kecoa
Pengamatan populasi kecoa ini dilakukan di masing-masing lokasi pengamatan yakni ruang makan, dapur, dan kamar mandi. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan sticky traps.  Sticky traps adalah perangkap yang terbuat dari kotak plastik yang di atasnya diolesi lem tikus sampai lem itu membentuk alur segiempat yang jarak antar alurnya sekitar 3 cm. Pada bagian tengah kotak plastik tersebut diletakkan susu bubuk sebanyak lima gram sebagai umpan agar kecoa mendekat ke sticky traps.  Pengamatan terhadap sticky traps ini dilakukan  setelah 24 jam. Pada tiap sticky traps dihitung jumlah kecoa yang terperangkap kemudian diidentifikasi.
Preferensi kecoa terhadap umpan di laboratorium
Persiapan kecoa
Pemeliharaan kecoa dilakukan di Laboratorium R&D Syngenta, Cikampek, selama satu bulan. Satu hari sebelum pengujian umpan, dipilih lima pasang kecoa yang sudah menjadi imago kemudian diletakkan dalam wadah plastik  untuk dipuasakan.
Pengujian umpan
Masing-masing umpan ditimbang seberat dua gram kemudian diletakkan pada arena pengujian. Arena pengujian adalah wadah plastik yang berbentuk lingkaran dengan diameter 30 cm dan di dalamya dibagi menjadi enam ruang. Sebelumnya ke dalam arena tersebut telah dimasukkan lima pasang kecoa yang telah dipuasakan selama satu hari. Pengamatan dilakukan tiap 24  jam selama tiga hari dan pada setiap pengamatan dilakukan penggantian umpan. Pengamatan ini dilakukan terhadap jenis umpan yang paling dipilih.

Uji Toksisitas Insektisida
Persiapan insektisida
         Insektisida yang digunakan adalah  insektisida botani (ekstrak biji sri kaya, Annona squamosa) dengan pembanding asam borat (boric acid). Asam borat yang digunakan diencerkan dengan akuades dengan perbandingan 1:1, sesuai anjuran yang tertera pada labelnya.
Biji srikaya yang telah dikupas kulitnya kemudian di blender. Serbukya lalu direndam dengan metanol (1:10; w/v) dalam labu erlenmeyer dan dikocok dengan menggunakan pengocok magnetik selama 48 jam. Rendaman kemudian disaring dengan menggunakan corong buchner yang dialasi dengan kertas saring.  Filtrat hasil penyaringan diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator pada tekanan 400-500 mmHg pada suhu 50 oC untuk mendapatkan ekstrak kasar. Metanol hasil penguapan digunakan untuk membilas residu pada corong buchner. Pembilasan ini dilakukan berulang kali hingga warna larutan ekstrak hasil penyaringan terlihat jernih. Ekstrak yang diperoleh adalah ekstrak kasar. Ekstrak setelah penguapan disimpan dalam lemari es pada suhu 4 oC hingga saat digunakan. Ekstrak kasar yang dihasilkan untuk pengujian diencerkan dengan metanol 1%. Ekstrak tersebut kemudian di ujikan  untuk menentukan probitnya. Konsentrasi yang digunakan adalah 0.125%, 0.25%, 0.5%, 1%.
Pengujian insektisida
Pengujian insektisida dilakukan dengan metode racun perut. Selai kacang tanah ditimbang seberat 2 gram kemudian dimasukkan ke dalam kotak aluminium dan pada kotak aluminium tersebut dimasukkan masing-masing insektisida  lalu diletakkan kedalam kotak pengujian yang telah berisi 10 ekor kecoa. Pada tiap perlakuan dilakukan 3 kali ulangan. Pengamatan dilakukan pada 24, 48, dan 72 jam setelah perlakuan (jsp). Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah kecoa yang mati sehingga diketahui insektisida mana yang paling efektif membunuh kecoa.
Formulasi umpan
          Setelah diketahui insektisida yang paling efektif untuk membunuh kecoa maka dibuat formulasi umpannya. Formulasi umpan ini dibuat dengan memadukan antara selai kacangtanah, insektisida dan bahan tambahannya. Pada pengujian ini bahan tambahannya berupa tepung kacangtanah dan tepung terigu.
Formulasi pertama mencampurkan antara selai kacangtanah, insektisida, dan tepung terigu sampai tercampur rata (A). Formulasi kedua mencampurkan antara selai kacang tanah dan insektisida kemudian ditaburi tepung terigu diatasnya (B). Formulasi ketiga mencampurkan antara selai kacangtanah, insektisida, dan tepung kacang tanah sampai tercampur rata (C). Formulasi keempat mencampurkan antara selai kacang tanah dan insektisida kemudian ditaburi tepung kacangtanah diatasnya (D). Selain itu, di ujikan pula selai kacangtanah yang hanya di campurkan dengan insektisida tanpa ditambahkan bahan tambahan lain (E). Sedangkan sebagai pembanding diujikan  gel bait  estapet gel” yang sudah dijual komersil (F). Masing-masing formulasi dibentuk hingga menyerupai pelet, kemudian formulasi tersebut diletakkan dalam kotak pengujian yang didalamya telah berisi 10 ekor kecoa. Pengamatan dilakukan pada tiap 24 jam setelah perlakuan selama tiga hari. Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah umpan yang dikonsumsi dan mortalitasnya sehingga diketahui formulasi umpan mana yang paling disukai kecoa dan efektif untuk membunuhnya.

Uji Keefektifan Perangkap
Persiapan perangkap
Pengujian keefektifan perangkap menggunakan tiga macam bahan yaitu stirofom, plastik, dan kertas. Tiga macam bahan perangkap tersebut berbentuk segi empat. Selanjutnya pada tiga macam bahan tersebut di lakukan pengujian kefektifan pintu. Pertama bahan perangkap ini  dibuat satu pintu, lalu pengujian selanjutnya dibuat dua pintu, tiga pintu, empat pintu, sampai lima pintu. Pada saat pengujian ini, tiap-tiap perangkap yang telah diberi pintu dibagian dalamnya diolesi selai kacangtanah yang telah dicampur dengan insektisida dan di kelilingi lem tikus. Pengamatan ini dilakukan selama 24 jam untuk mengetahui perangkap dengan pintu berapa yang efektif memerangkap kecoa.
Persiapan arena pengujian
            Arena pengujian dibuat dengan menyusun kardus-kardus sehingga membentuk segi empat dan arena pengujian ini di tutup dengan kain. Luasan arenanya berkisar 1x1 m. Arena ini dibuat sebanyak tiga kali ulangan. Pengamatan terhadap pengujian di arena ini dilakukan selama 24, 48, dan 72 jam. Pengamatan dilakukan terhadap perangkap yang paling banyak memerangkap kecoa.
Pengujian perangkap di arena pengujian
Perangkap-perangkap di letakkan dalam arena pengujian yang berbentuk segiempat di masing-masing sudutnya. Pada arena pengujian tersebut di tengahnya di letakkan kotak mika yang berisikan air dan kapas sebagai tempat minum kecoa. Pengamatan terhadap perangkap tersebut dilakukan selama 24, 48, dan 72 jam. Kemudian dihitung jumlah kecoa yang terperangkap dan mati dalam perangkap. Perangkap yang paling banyak ditemukan kecoa yang terperangkap dan mati diasumsikan merupakan perangkap yang paling efektif untuk mengendalikan. Selain itu, sebagai pembanding di letakkan pula perangkap yang sudah di jual komersil di pasaran.
Pengujian perangkap di lingkungan perumahan
Pada pengujian perangkap di lingkungan perumahan, perangkap yang di ujikan merupakan perangkap yang sudah terbukti efektif memerangkap kecoa pada pengujian di arena pengujian. Perangkap tersebut di letakkan pada ruang-ruang dalam rumah yaitu sekitar kamar mandi, dapur, dan ruang makan. Pengamatan terhadap perangkap tersebut dilakukan setelah 24 jam kemudian dihitung jumlah kecoa yang terperangkap dan mati dalam perangkap. Perangkap yang paling banyak ditemukan kecoa yang mati diasumsikan merupakan perangkap yang paling efektif untuk mengendalikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Preferensi Umpan
Preferensi Kecoa terhadap Umpan di Rumah Tinggal                       
            Hasil pengamatan menunjukkan bahwa selai kacang tanah adalah umpan yang paling dipilih oleh kecoa (Gambar 9).  Beberapa faktor yang menyebabkan kecoa lebih memilih selai kacang tanah, diantaranya karena kandungan protein selai kacang tanah lebih tinggi. Menurut Departemen Kesehatan (1964) kacang tanah adalah sumber protein nabati penting yaitu 25,3%. Selain itu, Kells et al. (1998) menyatakan bahwa kecoa yang hidup di dapur ternyata konsumsi akan protein dan karbohidrat lebih rendah daripada kecoa yang dipelihara di laboratorium, akan tetapi konsumsi terhadap lemaknya tinggi. Hal ini disebabkan rendahnya ketersediaan protein dan karbohidrat di rumah sedangkan ketersediaan lemaknya tinggi. Oleh sebab itu, karena kecoa menyukai protein dan ketersedian protein di lokasi pengamatan rendah maka  kecoa lebih memilih selai kacang tanah dibandingkan jenis umpan lainnya.
Selai kacang tanah juga mempunyai aroma yang lebih menyengat dibandingkan jenis umpan lainnya, dengan adanya aroma tersebut tampaknya kecoa lebih tertarik ke selai kacang tanah. Aroma yang menyengat tersebut disebabkan tingginya kandungan minyak nabati pada kacang tanah. Sediaoetama (2000) menyatakan bahwa kadar minyak nabati kacang tanah sebesar 42,8%.  EHW (2005) menyatakan bahwa pada saat pengumpanan, umpan tidak akan bekerja jika di sekitar daerah pengumpanan ada bau lain yang lebih menyengat. Oleh sebab itu, dapat diketahui bahwa kecoa lebih memilih makanan yang mempunyai bau yang menyengat seperti selai kacang tanah.
Selain itu, pada selai kacang tanah yang diujikan ternyata mengandung pengemulsi sedangkan jenis umpan lainnya tidak mengandung pengemulsi.  Fungsi pengemulsi adalah menyatukan bahan-bahan yang secara fisik sulit bersatu seperti minyak dan air sehingga makanan menjadi renyah dan gurih. Mungkin karena adanya pengemulsi itu maka kecoa lebih memilih selai kacang tanah.
Gambar  1.  Preferensi kecoa terhadap umpan di rumah tinggal.
Pada suatu habitat, serangga-serangga tidak hanya hidup pada populasinya sendiri tetapi juga berinteraksi dengan populasi serangga yang lainnya. Pada saat pengamatan ditemukan semut di kotak umpan, kemungkinan semut juga ikut memakan umpan yang berada di kotak umpan tersebut.  Dengan ditemukannya semut pada kotak umpan maka perlu diperhitungkan keberadaannya agar tidak terlalu mempengaruhi data yang dihasilkan.
Hasil identifikasi menunjukkan bahwa keanekaragaman genus semut tertinggi ditemukan di ruang makan (Tabel 2). Hal ini mungkin saja terjadi karena habitat semut berbeda-beda dan keberadaannya pada suatu habitat sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban. Berdasarkan pengukuran, suhu di ruang makan adalah 28 oC dengan kelembaban 86%. Kemungkinan suhu dan kelembaban tersebut sesuai  untuk aktivitas  banyak genus semut sehingga keanekaragaman genus semut banyak ditemukan di ruang makan.
Hasil penelitian  Zulkarnain (2006) menunjukkan bahwa kisaran suhu yang sesuai dengan aktivitas semut adalah 28-30 oC dengan kelembaban udara  > 40%. Menurut Warner & Scheffrahn (2003), aktivitas semut Paratrechina pubens Forel, meningkat pada suhu 28 oC dan berkurang pada suhu dibawah 20 0C.  Menurut Human et al. (1998), semut berkurang aktivitasnya pada kelembaban dibawah 40% dan akan meningkat aktivitasnya jika kelembabanya lebih tinggi dari 40%.
Tabel 2  Genus semut yang ditemukan mendatangi lokasi pengamatan
Lokasi
Genus Semut
Kamar Mandi
Tetramorium, Anoplolepis,  Paratrechina, Tapinoma.
Ruang Makan
Anoplolepis,  Pheidole, Paratrechina, Tapinoma, Tetramorium, dan Camponotus.
Dapur
Paratrechina,  Tapinoma, dan Tetramorium.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semut paling banyak ditemukan di dapur (Gambar 10). Ada kemungkinan ini terjadi, karena di dapur sisa-sisa makanan yang berceceran lebih banyak dibandingkan di kamar mandi dan ruang makan. Diketahui bahwa semakin banyak sampah sisa makanan yang tidak dibersihkan di dalam rumah maka akan semakin banyak jumlah semut yang ditemukan.
 Hasil  penelitian Zulkarnain (2006) menunjukkan  bahwa di dapur lebih banyak dikunjungi semut dibandingkan ruang makan, ruang tamu, dan beranda. Akan tetapi, karena rata-rata jumlah semut yang mendatangi lokasi pengamatan sedikit maka dapat dipastikan bahwa umpan paling banyak dikonsumsi oleh kecoa. Ini terlihat pula dari laju konsumsi semut yang rendah maka walaupun ditemukan semut di kotak umpan diperkirakan hal ini tidak terlalu mempengaruhi. Menurut Holldobler & Wilson (1990) laju konsumsi semut sekitar 14,5% dari berat badan tubuhnya.
Gambar 10  Rataan jumlah semut yang ditemukan ditiga lokasi pengamatan.

Identifikasi Kecoa
            Identifikasi kecoa dilakukan dengan menggunakan kunci identifikasi yang terdapat dalam tulisan  Benson & Zungoli (1997). Kecoa yang terperangkap sebanyak 401 ekor, baik yang berupa nimfa maupun imago. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa imago kecoa ini memiliki ciri-ciri seperti panjang tubuhnya 3,7-4,1 cm dan berwarna coklat kemerahan. Nimfa yang ditemukan berwarna coklat muda, sedangkan ootekanya tidak ditemukan.  Pada identifikasi ini, kecoa yang teridentifikasi hanya jenis kecoa amerika (P. americana).                                                                     
Preferensi Periplaneta americana terhadap Umpan di Laboratorium
Dalam uji preferensi umpan di laboratorium didapatkan bahwa selai kacang tanah adalah jenis umpan yang paling dipilih oleh kecoa (Gambar 11). Ini disebabkan beberapa faktor diantaranya karena selai kacang tanah mengandung protein yang tinggi dan memiliki bau yang lebih menyengat.
Diperkirakan pula karena makanan yang ditemukan pertama kali adalah selai kacang tanah maka kecoa akan langsung memakannya karena diketahui kecoa akan langsung memakan makanan yang pertama kali mereka jumpai. EHW (2005) menyatakan bahwa umpan diletakkan di tempat-tempat yang biasa dilalui kecoa dan kecoa akan memakan makanan pertama yang mereka temukan.
Gambar 11  Preferensi P.  americana terhadap umpan di laboratorium.
Uji Toksisitas Insektisida
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa A.  squamosa (srikaya) menyebabkan  mortalitas P. americana lebih tinggi dibandingkan asam borat (Gambar 12). Dari gambar terlihat bahwa pada pengamatan  48 jam setelah pengamatan (jsp), efek dari toksisitas  A.  squamosa telah menyebabkan mortalitas P. americana mencapai 100%. Hal ini disebabkan A.  squamosa mengandung senyawa-senyawa bioaktif  yang dikenal dengan nama asetogenin. Dari bijinya terdapat senyawa aktif yaitu squamosin dan asimisin. Kedua senyawa tersebut bekerja sebagai racun perut  terhadap serangga. Kardinan (2001) menyatakan bahwa kandungan bahan aktif biji srikaya mengandung 42-45% lemak, annonain, dan resin yang bekerja sebagai racun perut dan racun kontak terhadap serangga.
         Berkaitan dengan sifat insektisidanya, squamosin dan asimisin yang termasuk dalam golongan asetogenin selain dapat menghambat perkembangan serangga juga dapat mematikan beberapa spesies serangga lain seperti Plutella xylostella. Ekstrak  A. squamosa pada konsentrasi 0.1-0.5% diketahui dapat mematikan larva Crocidolomia pavonana sebesar 100% (Dadang 1999).
Gambar  12  Perkembangan mortalitas  P. americana  yang di perlakukan
                               ekstrak A. squamosa dan asam borat.

Hasil pengujian empat konsentrasi yang digunakan menunjukkan bahwa pada konsentrasi 1% A. squamosa  memiliki aktivitas insektisida yang kuat terhadap mortalitas P. americana dibandingkan tiga konsentrasi lainnya  (Gambar 13). Pada 48 jsp  saja  konsentrasi 1% telah menyebabkan mortalitas  P. americana sebesar 100%. Dari hasil ini terlihat pula bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak biji  A. squamosa yang digunakan, maka semakin besar persentase mortalitas P. americana.  Hal ini dapat disebabkan semakin besar konsentrasi maka akan semakin pekat larutan insektisidanya sehingga senyawa insektisida yang masuk makin kuat sifat toksisitasnya, oleh sebab itu menyebabkan kematian lebih cepat dan tinggi.
Gambar  13  Perkembangan mortalitas  P. americana  yang di perlakukan
                               ekstrak A. squamosa pada berbagai konsentrasi.
Pengujian formulasi umpan yang menunjukkan jumlah umpan yang paling banyak di konsumsi kecoa dan mortalitasnya mencapai 100% didapatkan dari tiga jenis formulasi umpan, yaitu formulasi umpan yang  mencampurkan antara selai kacangtanah, insektisida, dan tepung kacang tanah sampai tercampur rata (C), formulasi  yang mencampurkan antara selai kacang tanah dan insektisida kemudian ditaburi tepung kacangtanah diatasnya (D), dan campuran antara selai kacangtanah dengan insektisida tanpa ditambahkan bahan tambahan lain (E) (Gambar 14).
Pada jenis formulasi umpan C, D, E  jumlah umpan yang di konsumsi kecoa mencapai 0,5 gram  dan mortalitasnya mencapai 100%. Hal ini disebabkan ketiga formulasi tersebut memiliki aroma yang lebih menyengat karena mengandung minyak nabatinya  lebih banyak, ini terjadi karena bahan tambahan formulasi tersebut adalah tepung kacang tanah yang telah diketahui mengandung minyak nabati yang cukup tinggi dan diketahui pula kecoa menyukai bau yang menyengat sehingga kecoa lebih tertarik ke ketiga jenis formulasi umpan tersebut dibandingkan formulasi umpan lainnya. Sediaoetama (2000) menyatakan bahwa kadar minyak nabati kacang tanah sebesar 42,8%.
Gambar 14  Tingkat konsumsi dan mortalitas kecoa pada berbagai jenis formulasi
                       umpan.

Uji Keefektifan Perangkap di Arena Pengujian
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari perangkap yang diujikan dengan berbagai jumlah pintu, ternyata jumlah pintu yang paling efektif untuk memerangkap kecoa adalah perangkap dengan jumlah pintu tiga (Gambar 15). Pada saat perangkap memiliki satu pintu jumlah kecoa yang terperangkap sangat sedikit dan saat ditambahkan jumlah pintunya menjadi dua maka jumlah kecoa yang terperangkap bertambah begitu pula saat ditambahkan jumlah pintunya menjadi tiga maka kecoa semakin banyak yang terperangkap. Akan tetapi, saat ditambahkan jumlah pintunya menjadi empat dan lima ternyata kecoa yang terperangkap jumlahnya tidak terlalu jauh berbeda dengan perangkap yang jumlah pintunya tiga. Dari sini diketahui bahwa penambahan pintu mengakibatkan jumlah kecoa yang terperangkap makin banyak. Hal ini disebabkan akses yang dimiliki kecoa untuk masuk dalam perangkap lebih banyak.
Pada pengujian ini terlihat pula bahwa perangkap dari bahan stirofom lebih banyak memerangkap kecoa dibandingkan perangkap dari bahan lainnya. Perangkap dari bahan stirofom dapat memerangkap 70% kecoa. Hal ini disebabkan karena bahan stirofom dianggap nyaman oleh kecoa sebagai habitatnya maka kecoa lebih memilih perangkap dari bahan stirofom. Pada dasarnya jenis bahan apapun tidak menjadi masalah karena yang terpenting adalah tingkat kenyamanan dari kecoa tersebut, kalau suatu habitat sudah dianggap nyaman oleh kecoa tersebut maka akan suka tinggal di situ.
Dari tahap pengujian ini terlihat pula bahwa pada perangkap stirofom, setelah kecoa masuk perangkap maka kecoa tidak dapat keluar lagi sedangkan pada perangkap kertas, setelah  kecoa masuk perangkap maka kecoa masih bisa keluar dari perangkap. Hal ini disebabkan bahan stirofom cukup kuat sehingga saat kecoa mendorong dari dalam maka pintu tidak terbuka.
Gambar  15  Rataan kecoa yang terperangkap pada berbagai jumlah pintu.   

Hasil pengujian tahap selanjutnya yang menggunakan perangkap dengan tiga pintu dengan menggunakan insektisida dan diberi lem tikus menunjukan bahwa perangkap dari bahan stirofom tetap lebih banyak memerangkap kecoa dibandingkan perangkap dari bahan lainnya (Gambar 16). Perangkap dari bahan stirofom dapat memerangkap 80% kecoa dan mortalitasnya mencapai 100%. Hal ini disebabkan karena bahan stirofom dianggap nyaman oleh kecoa sebagai habitatnya maka kecoa lebih memilih perangkap dari bahan stirofom. Pada dasarnya jenis bahan apapun tidak menjadi masalah karena yang terpenting adalah tingkat kenyamanan dari kecoa tersebut, kalau suatu habitat sudah dianggap nyaman oleh kecoa tersebut maka akan suka tinggal di situ. Keefektifan perangkap dilihat dari jumlah kecoa yang terperangkap dan mortalitasnya.  
Pada pengujian ini dapat terlihat pula bahwa pada pengamatan24 jam kecoa 100% di dalam perangkap dan   perangkap tetap utuh. Pada pengamatan 48 jam kecoa 50% kecoa mati dan tidak ada yang keluar dari perangkap. Sedangkan pada  pengamatan 72 jam kecoa 100% mati dan perangkap tetap utuh. Penambahan lem tikus cukup efektif untuk merekat kecoa agar tetap di perangkap, sehingga kemungkinan kecoa mati karena terekat oleh lem tikus cap gajah.
Gambar 16  Jumlah kecoa terperangkap dan mortalitasnya pada berbagai
                              bahan perangkap.

Uji Keefektifan Perangkap di Lingkungan Perumahan
          Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari tiga lokasi pengamatan yang diujikan, ternyata lokasi pengamatan yang paling banyak memerangkap kecoa adalah dikamar mandi (Gambar 17). Pada lokasi kamar mandi, kecoa yang terperangkap berjumlah 10 ekor, sedangkan dapur dan ruan makan jumlah kecoa yang terperangkap sebanyak 5 dan 3 ekor. Hal ini disebabkan pada kamar mandi suhu dan kelembabannya sesuai untuk habitat kecoa yaitu berkisar antara oC dan %. Jumlah kecoa yang terperangkap pada perangkap ternyata sesuai dengan jumlah kecoa yang terperangkap pada pendugaan populasi kecoa dengan  sticky trap yaitu sebanyak 7 ekor kecoa. Oleh sebab itu, perangkap ini dapat dikatakan efektif untuk memerangkap kecoa.

Gambar 17  Jumlah kecoa terperangkap pada masing-masing lokasi pengamatan

KESIMPULAN  DAN  SARAN
      Spesies kecoa yang ditemukan di tiga puluh rumah tinggal  adalah P. americana. Pada pengujian preferensi umpan didapatkan bahwa selai kacang tanah merupakan selai yang paling dipilih kecoa baik pengujian di rumah maupun di laboratorium. Pada pengujian toksisitas insektisida didapatkan bahwa mortalitas P. americana tertinggi disebabkan dari ekstrak A. squamosa dengan konsentrasi 1%. Sedangkan pada pengujian keefektifan perangkap di arena pengujian, jenis bahan perangkap yang paling di pilih kecoa adalah jenis bahan dari stirofom yang dikombinasikan dengan umpan yang berinsektisida dan di beri lem tikus. Perlu dilakukan pendugaan polulasi secara tepat dan akurat sehingga pada pengujian  keefektifan perangkap dapat didapatkan hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2002. Kebijakan Pengawasan Pestisida Permukiman, dalam: Seminar Pengendalian Hama Permukinan di Indonesia, Kamis 22 Agustus 2002 di Istana Ballroom Hotel Salak Bogor. Bogor: Unit Kajian Pengendalian Hama Pemukiman, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Barbara KA.  2005. American cockroach. University of Florida. Florida.
Bell WJ and Adiyodi KG. 1981. The American Cockroach. London:  Chapman & Hall.
Benson EP dan Zungoli PA. 1997. Cockroach, pp 197-122, in D Moreland (ed.), Handbook of pest control. GIE Media, Inc., Cleveland. USA.
Borror DJ et al. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi keenam. Partosoedjono S. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: Introduction of insect.
[CAHE.NMSU]. College of Agriculture and Home Economics New Mexico State University. 2006. Cockroach and their control. New Mexico State University. http://www.cahe.nmsu. edu/pubs/_g/g-310. html. [20 Februari 2006].
Cornwell PB. 1968. The Cockroach Vol. 1, A Laboratory Insect and an Industrial Pest. London: Hutchinson.
Dadang. 1998. Botanical insecticides as an alternative pest control agent. Proceed. Scientific writing contest III. Hiroshima. Japan.
Dadang. 1999. Sumber Insektisida Botani. Dalam: Nugroho BW, Dadang, Prijono D, penyunting. Bahan Pelatihan Pengembangan dan Pemanfaatan Insektisida Alami; Bogor, 9-13 Agustus 1999. Bogor: Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu Institut Pertanian Bogor. Hlm 9-20.
Dahlan TN. 2005. Pengembangan produk selai nanas dengan penambahan bakteri asam laktat berpotensi probiotik. [skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Departemen Kesehatan. 1964. Usaha Kesehatan Sekolah. Jakarta.
Departemen Perindustrian. 1984. Mutu dan Cara Uji Lemak Coklat, SII No. 0926-84. Jakarta.
Departemen Perindustrian. 1993. Syarat Mutu Biskuit  dan Cookies, No 01-2973-93.  Standar Nasional Indonesia. Jakarta.
Departemen Perindustrian. 1995. Selai Buah Diet Diabetes, No 01-3700-95. Standar Nasional Indonesia. Jakarta.
Departemen Perindustrian. 1999. Spesifikasi Persyaratan Susu Bubuk, No. 01-2970-99. Jakarta.
[EHW]. Environmental Health Watch.  2005. Cockroach control guide. Enviromental Health Watch. http://www.ehw.org/Asthma/ASTH_cockroach-control html. [18 Februari 2006].
Gaman PM dan Sherrington KB. 1992. Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikro Biologi. Yogyakarta: universitas Gadjah Mada Press.

Hidayat P dan Sosromarsono S. 2003. Pengantar Entomologi. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Holldobler B dan Wilson EO. 1990. The Ants. Canada: Springer-Verlag.
Human KG et al. 1998. Effects of biotic factors on the distribution and activity of the invasive argentine ant (Hymenoptera : Formicidae). Environmental Entomology  27 (4): 822-833.
Kardinan A. 2001. Pestisida Nabati. Ramuan dan Aplikasi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Kells SA et al. Estimasing nutritional status of German cockroaches, Blatella germanica (L.) (Dictyoptera: Blatellidae), in the field. Journal of insect physiology 1999; 45:709-717.www.elsevier.com/locate/ibmbjip [15 Februari 2006].
Lyon WF. 2000. American cockroach. http://ohioline.osu.edu/hyg-fact/2000/2096.html. [1 Maret 2006].
Manjra AI et al. 2002. Cockroach allergy in Durban. http: //www.allergy.org. [2 Maret 2006].
Manik S.M. 2003. Repelensi beberapa ekstrak tanaman terhadap Periplaneta americana. L. (Dictyoptera: Blatellidae) [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Matz SA. 1978. Cookiest and cracker technology. Avi publishing, Westport, connecticut.
Mucthadi TR dan Sugiyono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.
[PROSEA] Plant Resources Of South-East Asia.  1999c.  Spesies: Pandanus amaryllifolius Roxb. In: de guzma C C and Siemonsma JS (editors). Bogor: Plant Resources Of South-East Asia.
Regnault-Roger C. 1997. The potential of botanical essential oils for insect pest control. In: Chapman & Hall (editors) IPM Rev. 2:25-26.
Rentokil Pest Control. 2004. Buku Panduan Basic Pest Control Training. Jakarta: PT. Rentokil Indonesia.
Robinson WH. 1996. Urban Entomology: insect and mite pest in the human environment. London: Chapman &  Hall.
Rust MK et al. 1999. Integrated Pest Management in and around the Home. California: University of California.
Sediaoetama AD. 2000. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Jakarta: Dian Rakyat.
Sigit SH et al. 2006. Hama Permukiman Indonesia. Bogor: Unit Kajian Pengendalian Hama Permukiman, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Stetson B. 2000. Periplaneta americana. http://animal diversity. Mmz. Umich. Edu.  [3 Maret 2006].

[UNL]. University of Nebraska-Lincoln. 2006. Pesticide Education Resources. http://pested.unl.edu/appenxd.htm. [13 Februari 2006].
Warner J dan Scheffrahn RH. 2003. Introduction, distribution, description, life cycle, foraging and feeding, nest sites, pest status, management, selected, references. http://creatures.ifas. ufl.edu/urban/ants/carribean_crazy_ant.htm. [21 Februari 2007].
Winarno FG. 2001. Hama Gudang dan Teknik Pemberantasannya. Bogor: M Brio Press.
Zulkarnain S. 2006. Preferensi semut permukiman terhadap berbagai jenis umpan. [skripsi].  Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.